Bullying Mengakibatkan Kehilangan Harga Diri

Mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan Jaya
Tulisan dari Beryl Auerrellia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Nothing can justify bullying regardless of the reasons.”
Pernah gak, sih, kamu melakukan bullying? Bullying merupakan tindakan kekerasan yang dapat dilakukan secara lisan ataupun tulisan. Bullying dapat dilakukan dengan keadaan sadar juga secara tidak sadar. Bentuk Bullying ini sudah ada dari masa sekolah dasar hingga dunia kerja. Bullying sering dilakukan di lingkungan sekolah yang biasanya disebut sebagai school bullying. Kita pasti pernah melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak kita ucapkan namun hal tersebut beralaskan dengan kata bercanda. Hati-hati! Tanpa sadar kamu sudah melakukan bullying. Hal ini dapat dibuktikan dengan melansir kalimat dari Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) yang mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Kasus bullying ini berdampak pada kesehatan mental korban. Seseorang korban bully akan merasa tertekan dan stres, bahkan dapat mengakibatkan depresi juga trust issues. Hal tersebut dapat terjadi, karena adanya tekanan akan kalimat atau perilaku pelaku. Tindakan bullying dapat timbul dari hal-hal yang terhitung sepele, seperti pada contohnya adalah ketika kamu dijauhkan karena gosip yang belum ada faktanya.
Bullying pada masa remaja dilakukan karena remaja merupakan masa peralihan pikiran seorang anak karena pada masa itu, mereka tengah mencari jati diri dan memiliki emosi yang kurang stabil. Terkadang dari candaan yang mereka lontarkan dapat melukai hati seseorang. Saat diberi tahu bahwa candaan seperti itu berpotensi perilaku bullying, mereka akan berlindung dibalik kalimat “Ah, itu kan cuma bercanda” Atau “Baperan amat lu jadi orang”. Kalimat seperti itulah yang menyebabkan kasus school bullying sangat meningkat di Indonesia.
Bullying Mengakibatkan Self-Harm? Kok Bisa?
Pelaku bullying melakukan tindakan tersebut karena beberapa faktor, yaitu ketika adanya perbedaan fisik, penyalahgunaan kekuasaan, tradisi senioritas dan rumor yang tidak sesuai fakta. Pelaku bully biasanya selalu ingin mengontrol dan mendominasi hak atau kegiatan seseorang. Saat seseorang memiliki kekurangan seperti fisik, pelaku bullying akan mengolok-olok hal itu dengan alasan bercanda. Korban bullying biasanya akan takut untuk menceritakan kasus penindasan yang mereka alami karena mereka trauma akan ancaman yang didapat dari pelaku. Karena itulah korban mengalami depresi akibat perilaku penindasan tersebut. Kasus school bullying semakin meningkat dan sangat memprihatinkan. Bagaimana bisa kasus bullying terbanyak ada di sarana pendidikan. Anak-anak yang memiliki masa depan negara sudah memiliki sifat bullying . Terlepas dari apapun alasannya perilaku bullying tidak dapat dibenarkan, karena dapat merugikan korban seumur hidup.
Efek bullying bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada kesehatan mental seseorang. Mereka akan merasa rendah diri, hilang minat pada hal yang mereka sukai, trauma bahkan depresi. Hal lain dari dampak bullying itu dapat merusak kesehatan fisik. Selain luka dan memar akibat kekerasan fisik, korban lebih sering mengalami kecemasan dan dapat memicu stres. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lainnya yaitu, penyakit jantung, depresi yang bahkan sampai menyakiti diri sendiri seperti self-harm.
Gimana, sih caranya mengatasi dampak dari bullying?
Dalam mengatasi dampak dari perbuatan bully tersebut dengan mendiskusikan hal tersebut bersama orang tua untuk menemukan solusi yang tepat dan mencari kenyamanan. Apakah kita harus meninggalkan lingkungan tersebut atau mencari jalan keluar yang lainnya karena orang tua adalah orang terdekat yang bisa dipercaya. Selain itu, healing dapat mengurangi rasa trauma dan trust issues di dalam diri kita sendiri. Dengan cara berlibur ke tempat tenang, indah dan menarik akan memberi kenyamanan dan ketenangan. Melakukan art & music therapy juga akan membantu mengurasi rasa trauma dan depresi akan dampak dari bullying.
Nah, sebagai pelaku bullying tentu akan menimbulkan banyak dampak buruk bagi para korban bullying. Kesehatan mental seseorang bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan karena hal tersebut akan mengakibatkan rasa trauma berkepanjangan dan rasa depresi yang menimbulkan perasaan untuk menyakiti diri sendiri. Untuk itu, stop melakukan bullying! Mulailah untuk belajarlah menghargai perasaan setiap orang dan memikirkan kalimat yang akan diucapkan seperti pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Refleksikan diri untuk memilah perkataan yang layak diucapkan dengan kata-kata yang tidak layak untuk diucapkan kepada orang lain. Yuk stop aksi bullying!
