Konten dari Pengguna

Belajar dari Jepang: Liga Adalah Mesin Pencetak Pemain

Betrika Oktaresa

Betrika Oktaresa

Risk and Reputation Expert

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Betrika Oktaresa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar dari Jepang: Liga Adalah Mesin Pencetak Pemain
zoom-in-whitePerbesar

"Timnya siapa saja? Kan memang belum ada klubnya. Semua pemain masih terpusat di Timnas. Kalau mau liga, harus sabar. Saya tidak mau memaksakan diri memulai sesuatu yang pondasinya belum siap," ujar Erick Thohir selaku Ketum PSSI. Lebih jauh, Ia menjelaskan bahwa Liga 1 Putri baru berpeluang digelar pada 2027, dengan catatan pembinaan berjalan lancar dan jumlah pemain memadai.

Pernyataan singkat dari Erick Thohir itu sontak menggelitik jagat sepak bola nasional. Bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar masuk akal. Tapi bagi mereka yang mengikuti perkembangan sepak bola wanita secara global, ucapan tersebut menyimpan masalah mendasar: apa benar sudah ada grand design pembinaan yang dimaksud? Hal ini untuk menjawab dugaan sebagian orang bahwa kita menunggu pemain muncul, tapi tak menyediakan tempat bagi mereka bertumbuh.

Namun benarkah kita harus menunggu ‘pemain yang cukup’ sebelum menggulirkan liga wanita yang proper? Untuk menjawabnya, mari kita menengok ke Timur, ke negeri sakura. Jepang bukan hanya raksasa ekonomi Asia, tapi juga pionir dalam membangun sepak bola wanita dengan cara yang konsisten, sabar, dan terstruktur.

Sebuah Liga Kecil yang Mengubah Segalanya

Sementara negara-negara Asia lain termasuk Indonesia sedang sibuk membangun liga profesional prianya, Jepang melangkah berani: mereka meluncurkan L. League, liga wanita pertama di negeri itu pada tahun 1989. Kompetisi yang diselenggarakan mulai September 1989 sampai dengan Januari 1990 itu dimulai dengan ‘hanya’ enam klub, dimana kompetisinya jauh dari megah. Minim penonton, tanpa siaran televisi, bahkan sebagian besar pemain masih berstatus pekerja paruh waktu.

Namun federasi sepak bola Jepang (JFA) punya keyakinan: liga bukan sekadar panggung untuk pemain hebat — liga adalah pabrik pencetak pemain hebat. Setiap tahun, jumlah pertandingan ditambah. Format kompetisi terus dievaluasi. Tim-tim digerakkan agar mendirikan akademi. Salah satunya Yomiuri SC Ladies Beleza — klub legendaris yang tak hanya mendominasi kompetisi, tapi juga melahirkan sistem pembinaan yang menjadi tulang punggung tim nasional wanita Jepang.

Performa gemilang Beleza didukung oleh pendekatan "pembinaan usia muda" mereka. Klub ini dengan sigap meluncurkan tim binaan, “Menina”, pada tahun 1989 dan secara konsisten menyeleksi serta melatih pemain-pemain berbakat dari jenjang SMP dan SMA. Pendekatan semacam ini sebelumnya juga telah membawa kesuksesan bagi tim pria mereka. Alih-alih mengumpulkan pemain jadi, strategi untuk membina pemain secara sabar sejak usia dini terbukti sangat berharga.

Belajar dari strategi pembibitan Beleza sejak awal kompetisi diselenggarakan, JFA sigap segera mengelola pembinaan usia muda. Turnamen All Japan High School Women's Soccer Tournament adalah kompetisi sepak bola wanita tingkat sekolah menengah atas berskala nasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA). Turnamen ini pertama kali digelar pada tahun 1992, dengan babak final awalnya diadakan di Kobe. Pada tahun 2002, lokasi final dipindahkan ke Iwata, namun sejak 2014, kompetisi ini kembali diselenggarakan di Kobe.

Awalnya, turnamen ini berlangsung pada musim panas, tetapi sejak edisi tahun 2012, jadwal pelaksanaannya diubah menjadi bulan Januari, bertepatan dengan libur musim dingin sekolah di Jepang. Selain itu, guna memastikan bibit muda di seluruh wilayah Jepang dapat terpantau, format turnamen juga mengalami evolusi signifikan: Sebelumnya, tim-tim peserta turnamen nasional diseleksi melalui 9 wilayah regional (misalnya: Tohoku, Kanto, Kansai, dll), dan dari masing-masing wilayah ini bisa ada lebih dari satu tim dari prefektur yang sama jika memang mereka lolos seleksi regional. Mulai edisi ke-35, sistem itu akan diganti menjadi satu tim dari setiap prefektur, sehingga total 47 tim — ditambah 1 dari kota tuan rumah.

Klub Sepakbola berbasis Korporasi

Liga Nadeshiko merupakan inisiatif dari JFA yang disambut oleh beberapa perusahaan korporasi Jepang. Banyak perusahaan di sana yang mulai membentuk tim sepakbola wanita mereka sendiri. Salah satu yang paling menonjol adalah Nikko Securities, yang pada tahun 1990 mendirikan tim Nikko Securities Dream Ladies di Prefektur Chiba. Inisiatif ini datang langsung dari Presiden Perusahaan, Takuya Iwasaki, seorang penggemar sepak bola sejati. Untuk mengelola tim, mereka menunjuk Ryohei Suzuki, mantan pelatih tim nasional wanita Jepang. Dengan dukungan penuh dan manajemen yang ambisius, tim ini berhasil merekrut para pemain terbaik, dan dalam waktu singkat menjelma menjadi salah satu kekuatan besar di liga. Jadi, ini bisa menjawab pernyataan Ketum PSSI, liga nya dulu atau klub nya dulu? Tentu harus berjalan simultan, tapi jelas tidak bisa hanya saling menunggu.

Apakah perjalanan Jepang mengelola liga wanitanya mulus tanpa gangguan? Tentu tidak. Kisah Liga Nadeshiko — nama yang dipakai sejak 2004 — tidak selalu indah. Di awal 90-an, liga nyaris runtuh karena klub kehilangan sponsor. Media massa tak berminat meliput. Jumlah pemain pun masih cenderung stagnan. Contohnya, Nikko Securities yang sejak awal kelahirannya cukup menjanjikan, akhirnya harus dibubarkan pada tahun 1998. Keputusan ini datang sebagai dampak dari resesi ekonomi berkepanjangan yang melanda Jepang pasca runtuhnya bubble economy. Kinerja bisnis Nikko Securities merosot tajam, dan sebagai bagian dari kebijakan penghematan, perusahaan terpaksa membubarkan tim sepak bola wanita mereka. Ini tentu menjadi pukulan besar bagi liga, mengingat Nikko Securities Dream Ladies merupakan salah satu tim paling sukses—dengan tiga gelar juara dalam 10 musim awal, hanya kalah dari Yomiuri Beleza yang meraih empat.

Ironisnya, krisis ini tidak berhenti di satu klub saja. Klub-klub besar lain ikut tumbang: Fujita Soccer Club Mercury, yang bergabung bersama Nikko Securities pada 1991, juga dibubarkan. Suzuyo Shimizu FC Lovely Ladies, sang juara musim perdana yang rutin menjadi penantang gelar, serta Shiroki FC Serena, yang masuk pada 1993, memutuskan mundur dari liga pada awal 1999. Dari euforia kejayaan di awal 90-an, L. League mendadak terperosok ke ambang krisis eksistensial. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa klub yang sepenuhnya bergantung pada satu perusahaan korporasi sangat rentan terhadap fluktuasi kinerja perusahaan tersebut. Dari sisi keberlanjutan, model seperti ini membuat eksistensi klub menjadi rapuh dan tidak stabil.

Tantangan Dihadapi, Bukan Dihindari

Setelah sejumlah perusahaan sponsor menarik dukungannya akibat resesi ekonomi, Nadeshiko League mengalami masa-masa kritis. Apakah JFA menyerah? Tentu tidak. Alih-alih menyerah, pada tahun 2000 - JFA mengubah liga menjadi dua wilayah, Liga Timur dan Liga Barat, kemudian dipisah lagi menjadi divisi atas dan bawah berdasarkan peringkat klub. Format ini awalnya diambil bukan untuk menghadirkan kompetisi yang lebih menarik, tetapi murni untuk menghemat biaya perjalanan tandang. Sebuah langkah realistis, meskipun liga ini pernah menjadi destinasi para bintang dunia sejak diluncurkan pada 1989, kini tujuan utamanya hanyalah bertahan hidup.

Para pemain terus berjuang keras di tengah kondisi ini. Mereka kerap bertanding di lapangan latihan, tanpa penonton dan tanpa tiket masuk, nyaris tanpa liputan media. Di tengah keterpurukan itu, klub yang tetap menjaga kualitas dan semangat kompetitif adalah Nippon TV Beleza. Meskipun sempat kehilangan sponsor utama — perusahaan ritel besar Seiyu (1994–1997) — Beleza tetap bertahan dengan fasilitas latihan yang digunakan bersama oleh klub pria J.League, Verdy Kawasaki. Upaya ini memberikan pemain akses ke pelatih-pelatih terbaik dan kesempatan menyaksikan langsung latihan pemain profesional pria. Namun, sumber kekuatan utama Beleza bukan sekadar fasilitas, melainkan sistem pembinaan usia mudanya yang legendaris: “Menina”.

Tahun 2004 menjadi salah satu tonggak paling bersejarah dalam perjalanan sepak bola wanita Jepang. Tahun itu, tim nasional wanita Jepang tampil mengesankan dan mulai dikenal luas dengan julukan “Nadeshiko Japan”, sebuah nama yang kemudian melekat erat dalam identitas sepak bola wanita negeri sakura. Momen ini juga ditandai dengan perubahan nama liga nasional wanita dari “L. League” menjadi “Nadeshiko League”, seiring dengan upaya rebranding besar-besaran oleh federasi sepak bola Jepang. Setelah sempat menyusut menjadi hanya delapan tim pada 1999, jumlah peserta liga kembali bertambah: menjadi sembilan tim pada 2000, 10 tim pada 2001, dan 11 tim pada 2002. Tahun 2003, dua tim baru bergabung — Ohara Gakuen JaSRA Women’s SC dari Prefektur Nagano dan Okayama Yunogo Belle dari Okayama — sehingga total peserta mencapai 13 klub. Tren ini berlanjut pada musim 2004 dengan masuknya Albirex Niigata Ladies, dan sistem dua divisi resmi dimulai: 8 tim di Divisi 1 dan 6 tim di Divisi 2.

Namun, ekspansi ini bukan semata soal jumlah klub. Ini mencerminkan bahwa sepak bola wanita telah tumbuh menjadi olahraga nasional, menyebar ke berbagai penjuru Jepang. Jika pada era pasca-Perang Dunia II sepak bola wanita hanya terbatas di wilayah Kansai (Osaka dan Hyogo) dan Kanto (Tokyo dan Kanagawa), serta perlahan menyusup ke “kerajaan sepakbola” di Shizuoka, maka pada 2004 persebarannya jauh lebih luas. Saat liga pertama kali dimulai pada 1989, dari enam klub pendiri, tiga berasal dari Tokyo, satu dari Shizuoka, satu dari Mie, dan satu dari Hyogo — peta ini menunjukkan bahwa penyebaran sepak bola wanita Jepang terjadi secara bertahap dan geografis terfokus. Kini, dua dekade kemudian, olahraga ini telah benar-benar menembus batas regional dan tumbuh merata di seluruh negeri.

Sejauh mana sepakbola wanita Jepang bertumbuh? Ketika Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mulai menerima pendaftaran resmi dari pemain dan tim sepak bola wanita pada tahun 1979, jumlah yang tercatat sangat kecil: hanya 52 tim dan 919 pemain, tersebar di 13 dari 47 prefektur di Jepang. Ini mencerminkan bahwa sepak bola wanita masih menjadi olahraga yang sangat terbatas secara geografis maupun partisipasi. Namun, dalam waktu sepuluh tahun, ketika Japan Women’s Football League (cikal bakal Nadeshiko League) diluncurkan pada 1989, jumlah tim dan pemain meningkat hampir sepuluh kali lipat — sebuah pertumbuhan yang mencerminkan potensi besar di balik gerakan akar rumput yang mulai terbangun.

Puncak dari lonjakan partisipasi ini terjadi setelah Jepang menjuarai Piala Dunia Wanita 2011, yang mendorong antusiasme luar biasa di kalangan perempuan muda. Menurut data tahun 2013, jumlah tim wanita terdaftar mencapai 1.409 tim dengan 30.243 pemain. Lebih menarik lagi, sekitar 80% pemain wanita usia SD justru terdaftar di tim putra, sehingga jika digabungkan, jumlah perempuan yang bermain sepak bola di Jepang melebihi 50.000 orang. Dukungan terhadap kompetisi formal juga meningkat; kejuaraan nasional untuk SMA dan universitas wanita dimulai sejak 1992, dan dari tahun ke tahun jumlah tim yang berpartisipasi terus bertambah. Beberapa tim universitas dan SMA bahkan sempat ikut berlaga di Nadeshiko League dan Challenge League, menunjukkan kedalaman dan kekuatan kompetisi usia muda.

WE League: Puncak dari Sebuah Piramida

Tahun 2021, Jepang kembali melangkah maju. Mereka meluncurkan WE League (Women Empowerment League), liga profesional wanita pertama di Asia. Kini, pemain-pemain wanita Jepang bisa hidup dari sepak bola. Tapi jangan salah — WE League bukan titik awal. Ia adalah mahkota dari kerja tiga dekade, bukan hasil proyek satu-dua tahun. WE League dibentuk sebagai respon atas pertumbuhan pesat sepak bola wanita pasca kemenangan Jepang di Piala Dunia Wanita 2011 dan Olimpiade London 2012, hadir dengan misi yang lebih luas dari sekadar kompetisi olahraga—yakni untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan melalui sepak bola.

Berbeda dari pendahulunya, Nadeshiko League yang bersifat semi-profesional, WE League mewajibkan setiap klub memiliki minimal 15 pemain profesional dengan kontrak penuh, serta mendorong transparansi gaji, keragaman manajemen, dan program pembangunan komunitas. Liga ini dimulai dengan 11 klub dari berbagai wilayah Jepang dan dilengkapi dengan dukungan sponsor nasional serta kerjasama media yang lebih solid. Nadeshiko League sendiri tetap eksis dan beroperasi sebagai divisi di bawah WE League, mirip dengan sistem liga utama dan liga divisi kedua dalam sepak bola pria. Saat ini, Nadeshiko League Divisi 1 dan Divisi 2 berfungsi sebagai wadah kompetisi bagi klub-klub yang belum atau tidak memenuhi standar profesional WE League, sekaligus menjadi jalur promosi bakat muda dan pengembangan kompetitif secara regional.

Dengan demikian, WE League tidak menggantikan Nadeshiko League, tetapi justru memperkuat ekosistem sepak bola wanita Jepang dengan menyediakan jenjang karier yang lebih jelas: dari pembinaan usia muda, kompetisi semi-pro di Nadeshiko League, hingga tingkat profesional penuh di WE League. Struktur ini menandai babak baru dalam perjalanan sepak bola wanita Jepang — lebih profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

Pelajaran dari Jepang: Liga Dulu, Pemain Datang Kemudian

Jepang tidak menunggu pemain hebat untuk memulai liga. Mereka membangun liganya, menyesuaikan kapasitasnya, dan menggunakan liga itu sebagai ladang untuk menumbuhkan talenta. Liga bukanlah hasil dari banyaknya pemain. Liga adalah sebab mengapa pemain-pemain itu muncul.

Pendekatan Jepang menunjukkan bahwa pembinaan dan kompetisi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kompetisi dibangun bukan karena semua prasyarat sudah tersedia, melainkan justru agar prasyarat itu bisa tumbuh. Ketika L. League diluncurkan pada 1989, belum ada ribuan pemain wanita di seluruh Jepang. Tetapi kehadiran liga itu — meski kecil, sederhana, dan tanpa sorotan media — menciptakan jalur pembinaan yang lebih hidup. Sekolah-sekolah dan klub-klub mulai memiliki alasan untuk mendirikan tim wanita. Anak-anak perempuan mulai melihat bahwa sepak bola bukan sekadar hobi sesaat, melainkan bisa menjadi masa depan yang nyata.

Mengapa ini penting segera dilakukan oleh Indonesia? Jika tidak mau dibilang sudah sangat terlambat, karena ini tidak hanya soal sepakbola. Sepakbola wanita adalah soal kesempatan. Kesempatan untuk bermimpi, berkompetisi, dan mengangkat harga diri. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Vietnam sudah lebih dulu membuktikan bahwa investasi di sepak bola wanita bukan beban — tapi kekuatan masa depan. Dan Indonesia bisa — jika mau.

Sepak bola wanita Indonesia sedang berdiri di simpang jalan. Kita bisa terus menunggu sampai "pemain muncul sendiri", atau kita bisa belajar dari Jepang dan mulai menanam hari ini. Liga itu tidak harus besar. Tidak harus disiarkan di TV nasional. Yang penting: ia hidup, ia berjalan, dan ia membuka jalan bagi mimpi-mimpi yang selama ini terpendam. Karena pemain hebat tidak lahir dari ruang hampa. Mereka lahir dari kompetisi, dari perjuangan, dan dari keberanian orang-orang yang berani bilang: “Kita mulai saja dulu.”