Pemain Bebas Transfer, Klub Rugi?

Risk and Reputation Expert
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Betrika Oktaresa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transfer musim panas kali ini, mungkin jadi salah satu jendela transfer yang paling banyak diwarnai dengan pemain-pemain sepakbola dengan status bebas transfer. Bahkan, nama-nama pemainnya pun terbilang kategori pemain kelas atas, mulai dari pemain bintang namun sudah berusia senja macam Sergio Aguero, Sergio Ramos, dan David Alaba, sampai ke kategori pemain yang masih berusia produktif seperti Georginio Wijnaldum, Hakan Calhanoglu, dan Gigi Donnarumma.
Menariknya, pemain-pemain ini saya yakini masih dapat memberikan kontribusi yang besar bagi tim sepakbola manapun. Lalu kenapa pemain-pemain tersebut dibiarkan berstatus bebas transfer? Apakah artinya klub tersebut akan merugi? Seperti komentar mantan Direktur AC Milan Massimiliano Mirabelli, yang berpendapat Milan telah rugi sekitar 150 juta euro dengan ‘lepasnya’ Donnarumma dan Calhanoglu secara gratis [1]. Benarkah pendapat ini? mari kita bahas.
Bosman Rules Awal Mulanya
Aturan Bosman lahir berkat perlawanan seorang pemain sepakbola asal Belgia, Jean-Marc Bosman. Saat itu, di tahun 1990, Ia merasa dirugikan oleh bekas timnya, RFC Liege dimana saat itu, kontraknya akan segera habis. Di Liege, karirnya tak berjalan cemerlang, lebih sering duduk di bangku cadangan, hingga muncul tawaran dari klub asal Prancis, Dunkirk. Masalahnya, Liege tak memberikannya ijin untuk pindah, uang yang diajukan Dunkirk untuk membeli Bosman tak diterima oleh Liege. Padahal, kontraknya sedikit lagi sudah berakhir.
Bahkan, Liege memotong gaji Bosman hingga 75%. Dari sinilah Bosman mengajukan gugatan hukum. Butuh waktu lima tahun, atau tepatnya 15 Desember 1995, European Court of Justice mengeluarkan Bosman ruling, yaitu sebuah peraturan yang dampaknya sangat signifikan bagi dunia sepak bola, dimana pesepakbola diperbolehkan untuk berpindah ke klub lain saat kontraknya dengan klub asal telah habis, tanpa perlu ada biaya perpindahan apapun.
Berkat aturan ini pesepakbola bisa langsung melakukan negosiasi dengan klub lain, baik melalui perantara agen maupun tidak, saat kontraknya menyisakan enam bulan lagi. Dalam kondisi ini, tentu pemain jadi punya bargaining power untuk menentukan karirnya sendiri. Si pemain dapat memutuskan untuk bertahan atau pindah ke klub lain, dengan pertimbangan penghasilan yang didapat, kesempatan bermain, dan/atau kemungkinan meraih prestasi yang lebih baik. Ia dapat berkata ke klub asal,”saya mau bertahan asal gaji saya naik, kalo tidak saya pindah saja”.
Opsi klub asal tentu tak banyak, menyetujui usulan gaji, menegosiasi permintaan gaji, atau melepas pemain tersebut dengan konsekuensi klub akan kehilangan hak untuk menggunakan jasa pemain dan/atau potensi mendapatkan uang jika nantinya pemain dijual ke klub lain.
Klub Mengakui Pemain Sebagai Apa?
Jika kita berbicara soal klub sepakbola, tentu sebagian besar dari pembaca akan setuju pemain merupakan faktor penting, bahkan bisa dibilang yang terpenting. Jadi tidak berlebihan jika pemain dilabeli sebagai asset berharga klub. Nah, menjawab pertanyaan di atas, soal apakah klub rugi jika pemainnya lepas secara bebas transfer, dapat dianalisis dari bagaimana pemain diakui dan dinilai. Jadi, pemain-pemain ini diakui sebagai apa oleh klubnya? Pemahamannya dimulai dari fakta bahwa pemain direkrut, sama seperti pegawai perusahaan. Mereka sama-sama berkontribusi sebagai revenue generating assets, atau asset yang menghasilkan pendapatan.
Bedanya, gaji pegawai merupakan biaya yang disandingkan dengan pendapatan saat di catat di laporan laba rugi. Nilai pegawai tidak tercantum di dalam neraca pada laporan keuangan perusahaan. Sedangkan, nilai transfer untuk merekrut pemain biasanya cukup signifikan dan merupakan komponen biaya yang besar, atau yang terbesar, bagi suatu klub. Klub yang membeli pemain akan mendapatkan “hak untuk menggunakan (right to use)” pemain untuk menghasilkan pendapatan. Dalam dunia akuntansi, merujuk pada International Accounting Standard (“IAS”) 38, “hak (right)” dianggap sebagai aset tidak berwujud (intangible assets) [2].
Pemain dikontrak untuk jangka waktu tertentu, dimana manfaat yang dinikmati oleh klub atas pemain hanya terbatas pada saat durasi masa kontrak. Artinya, pemain memiliki masa manfaat yang terbatas. Hak ini dicatat di neraca laporan keuangan sebesar biaya perolehan plus biaya jasa perantara misalnya biaya agen pemain, dan diamortisasi dengan metode garis lurus selama jangka waktu kontrak pemain tersebut, biasanya 3-5 tahun. Jadi, di akhir masa kontrak, si pemain akan bernilai nol di neracanya. Jika pemain dijual sebelum kontrak habis, maka klub akan mengakui nilai transfer sebagai pendapatan.
Lalu mungkin pembaca bertanya, bagaimana dengan pemain yang merupakan produk asli klub dari tim akademi mudanya? Atau pemain yang diperpanjang kontraknya? Atau pemain yang didapatkan secara bebas transfer tanpa ada biaya agen yang signifikan? Jawabannya sama, dicatat dengan nilai nol. Kecuali ada biaya-biaya tambahan yang terkait langsung ya, misalnya agen pemain meminta ada biaya jasa, maka nilai itu akan jadi tambahan asset tak berwujud.
Hak penggunaan apa yang diperoleh oleh klub? dari sisi teknis di lapangan, tentu klub mau membeli mahal seorang pemain karena kemampuan olah bolanya fenomenal. Jadi ini tentang manfaat pemain di lapangan hijau. Di sisi non teknis, klub akan mendapatkan keuntungan finansial juga. Semakin banyak dihuni pemain-pemain top, maka penghasilan klub dari hak siar televisi, sponsor, dan merchandises akan secara linier meningkat juga.
Contohnya tak perlu jauh-jauh, Manchester City gambaran paling jelasnya, klub punya uang, lalu membeli pemain-pemain top, efeknya, penghasilan klub pun terdongkrak. Berubah dari City yang dulunya klub medioker, jadi klub besar dunia. Akumulasi nilai pemain-pemain secara langsung dan tidak langsung mendongkrak nilai klub (values of the club).
Jadi, Bebas Transfer Klub Rugi?
Dari penjabaran di atas, tentu pemahaman kita sudah sama, kontrak pemain merupakan perjanjian antara klub dengan pemain, dimana pemain memberikan hak kepada klub untuk menggunakannya, di dalam dan di luar lapangan, selama durasi kontrak berlangsung. Artinya, klub juga memahami bahwa nilai transfer, biaya jasa perantara, merupakan harga perolehan untuk mendapatkan hak tersebut. Sedangkan gaji yang dibayarkan oleh klub merupakan biaya atas jasa yang diberikan pemain sama seperti pegawai perusahaan.
Ketika pemain sudah sampai pada penghujung kontrak, tentu valuasi pemain juga sudah mendekati nol, harga perolehan awal sudah tidak relevan lagi untuk diingat-ingat karena sudah teramortisasi sepanjang durasi kontrak tersebut. Pernyataan bahwa klub rugi karena sebenarnya pemain bisa saja nantinya dijual dan klub mendapatkan pendapatan dari penjualan pemain juga tidak valid.
Karena biaya transfer muncul saat sebuah klub ingin memiliki seorang pemain yang hak penggunaannya masih dimiliki oleh klub lain. Sedangkan jika kontrak sudah habis, masa iya masih berharap harga transfer pemain. Jadi, sudah clear kan pembaca, secara perhitungan bisnis, klub tidak rugi. Om Mirabelli sepertinya perlu belajar ilmu bisnis dan akuntansi lagi nih, Direktur lho, uhuk!.
[1] https://football-italia.net/mirabelli-milan-will-regret-calhanoglu/
[2] https://europeanleagues.com/wp-content/uploads/Philippa-Lombardi-Accounting-of-Football-Players-and-FFP.pdf
