Kampoeng Indonesia hadir di Sekitaran Makam Imam Bukhari Samarkand Uzbekistan

Diplomat (Fungsi Ekonomi) KBRI Tashkent
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bharata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Geliat perekonomian Uzbekistan, utamanya di sektor pariwisata, menguak "hidden gem" warisan Islam masa dinasti Timurid nan luar biasa dengan icon kompleks makam Imam Bukhari. Promosi pariwisata Uzbekistan pun membidik wisatawan Indonesia, bukan hanya semata sebagai negara muslim terbesar di dunia, melainkan juga mempertimbangkan jumlah kelas menengah yang berkisar ratusan juta.
Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin, memandang perlu upaya mendorong investor Indonesia untuk berperan aktif dalam pengelolaan sektor pariwisata Uzbekistan, khususnya di sekitar kompleks Makam Imam Bukhori yang memiliki ikatan sejarah erat dengan Uzbekistan yakni peran heroik Presiden Pertama RI Bung Karno dalam penemuan lokasi makam tersebut di era tahun 50an.
Berkat pengaruh dan wibawa Presiden Pertama RI yang mensyaratkan keinginannya untuk berziarah ke makam Imam Bukhari sebelum memenuhi undangan kunjungan kenegaraan, Penguasa Uni Soviet kala itu Nikita Khrushchev memerintahkan jajarannya untuk menemukan dan membangun kembali Makam Imam Bukhari. Setelah permintaan tersebut terpenuh, Bung Karno baru bersedia mengunjungi Uni Soviet di September 1956.
Dubes Ruhaini menyatakan; "Betapa hebatnya Bung Karno sebagai presiden negara besar dan pemimpin Non Blok dalam meluluhkan hati penguasa negara super power Uni Soviet yang dikenal sebagai komunis dan anti agama, untuk menemukan lokasi Makam Imam Bukhori sebagai syarat memenuhi undangan kunjungan kenegaraan”. Sementara di era tahun 1950-an Uni Soviet tengah gencar-gencarnya melarang praktek agama di wilayahnya.
Dubes Ruhaini menegaskan, “Keberadaan Komplek Makam Imam Buhkori saat ini akan menjadi memorialisasi ketangguhan dan kehebatan diplomasi Indonesia di masa silam, yang selanjutnya menjadi fondasi diplomasi masa sekarang dan masa depan"
Ruhaini pun menekankan bahwa Indonesia tidak boleh sekedar menjadi konsumen ataupun "penonton" pasif perkembangan sektor pariwisata Uzbekistan, khususnya jika berkaitan dengan Kompleks Imam Bukhari. Melainkan perlu berperan aktif dan mengkapitalisasinya, selaku investor produktif dalam mata rantai pariwisata Uzbekistan, yang diperkirakan akan mendatangkan jutaan wisatawan mancanegara, termasuk Jamaah Umrah Plus Indonesia.
Gayung bersambut! EGI Resources secara jeli mengambil peluang emas tersebut, terutama momentum pembukaan kembali Kompleks Makam Imam Bukhori oleh Presiden Shavkat Mirziyoyev pada 1 Syawal 1447 atau 20 Maret 2026. Setelah proses pemugaran yang memakan waktu hampir 3 tahun, saat ini kompleks ini mampu mengakomodir puluhan ribu pengunjung setiap harinya.
CEO EGI Resources, Erslan Ibrahim, menyambar kesempatan ini dengan membuka Hotel "Kampoeng Indonesia" pada 11 April 2026. Hotel tersebut berjarak hanya 500 meter dari Kompleks Makam Imam Bukhori. Erslan mengungkapkan, "Kita berupaya mewujudkan hotel Kampoeng Indonesia, sebagai simbol peran vital Presiden Soekarno atas Makam Imam Bukhari, sekaligus menjadi kebanggaan dan meningkatkan reputasi Indonesia di Uzbekistan".
Tak berhenti di situ, EGI Resources juga tengah mempersiapkan sejumlah proyek investasi lainnya di Uzbekistan, yakni pembukaan hotel dengan kapasitas jauh lebih besar maupun restoran yang menyajikan kuliner khas Indonesia. Investasi ini diharapkan menjadi Icon Indonesia di Asia Tengah. Tak hanya sebagai pusat budaya dan kuliner Indonesia, melainkan pula sebagai "rumah" bagi wisatawan dan jamaah Umrah Plus asal Indonesia selama di Samarkand.
Rencana pembukaan direct flight rute Tashkent-Jakarta dan Tashkent-Denpasar di akhir Mei 2026, juga menjadi momentum emas laonnya yang diproyeksikan mendorong lonjakan arus wisatawan Indonesia-Uzbekistan, yang tentunya akan memberikan manfaat bagi kedua negara. Hal ini antara lain tercermin pada data tahun 2025, dimana jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan mencapai 8.500 orang, terlepas dari tidak beroperasinya penerbangan langsung Tashkent-Jakarta sejak Maret 2025.
Kapan lagi kita bisa berkunjung ke “kampoeng” sendiri, yang sangat berdekatan dengan kompleks makam Imam Al Bukhari nan tersohor itu?
