AI dan Masa Depan Pekerjaan Generasi Z: Ancaman Pengangguran di Tengah Revolusi Teknologi
Tulisan dari Bhekti Putra Setyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pekerjaan. Kehadiran AI yang mampu mengolah data, membuat desain, menulis, menganalisis informasi, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif telah mengubah cara perusahaan menjalankan aktivitas bisnisnya. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi dan produktivitas. Namun, di sisi lain, muncul persoalan baru yang patut diperhatikan, yaitu semakin besarnya tantangan Generasi Z dalam memperoleh pekerjaan.
Generasi Z yang dikenal sebagai generasi digital justru menghadapi paradoks. Mereka tumbuh bersama perkembangan teknologi, tetapi belum tentu memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan. Persaingan kerja tidak lagi hanya melibatkan sesama manusia, melainkan juga teknologi yang mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat dengan biaya lebih efisien. Pertanyaannya, apakah Generasi Z sudah benar-benar siap menghadapi perubahan tersebut?
AI dan Ancaman terhadap Lapangan Pekerjaan
Kekhawatiran terhadap perkembangan AI bukanlah persoalan tanpa dasar. Berdasarkan laporan Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), perubahan teknologi, termasuk AI, diperkirakan akan menciptakan 170 juta pekerjaan baru dan menggeser sekitar 92 juta pekerjaan secara global hingga tahun 2030. Meskipun terdapat potensi penambahan bersih sebanyak 78 juta pekerjaan, perubahan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua pekerja akan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang baru.
Sementara itu, International Labour Organization (ILO) dalam laporan tahun 2026 mengenai AI dan pasar tenaga kerja ASEAN memperkirakan bahwa sekitar 21,7 persen pekerjaan di Indonesia memiliki tingkat paparan tertentu terhadap AI generatif. Angka ini tidak berarti seluruh pekerjaan tersebut akan hilang, tetapi menunjukkan bahwa aktivitas kerja di dalamnya berpotensi mengalami perubahan akibat otomatisasi.
Pekerjaan seperti administrasi, pengolahan data, layanan pelanggan, penulisan sederhana, dan desain dasar menjadi beberapa bidang yang perlu memperhatikan perkembangan tersebut. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia kini dapat dibantu, bahkan sebagian tugasnya dapat diselesaikan oleh AI.
Persoalannya bukan semata-mata AI menggantikan manusia, melainkan perusahaan dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja ketika sebagian pekerjaan mampu diselesaikan dengan teknologi. Kondisi ini berpotensi mempersempit kesempatan kerja bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman maupun keahlian khusus.
Generasi Z dan Ancaman Pengangguran
Tantangan tersebut menjadi semakin serius ketika dikaitkan dengan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sakernas Agustus 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,89 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja pada kelompok usia tersebut, sekitar 17 orang belum memperoleh pekerjaan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran generasi muda sudah menjadi tantangan nyata bahkan sebelum dampak otomatisasi AI sepenuhnya terasa.
Generasi Z menghadapi situasi yang tidak sederhana. Perusahaan menginginkan tenaga kerja yang produktif, memiliki pengalaman, mampu mengoperasikan teknologi, dan dapat beradaptasi dengan cepat. Sementara itu, banyak lulusan baru masih berada pada tahap membangun pengalaman dan keterampilan profesional.
Di sinilah muncul persoalan kesenjangan keterampilan atau skills gap. Gelar akademik memang menjadi salah satu bukti pencapaian pendidikan, tetapi tidak selalu menjamin seseorang memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, Generasi Z berisiko menghadapi persaingan kerja yang semakin berat.
Pendidikan dan Kesiapan Menghadapi Era AI
Menurut saya, persoalan utama bukan hanya perkembangan AI, melainkan kesiapan manusia dan lembaga pendidikan dalam menghadapinya. Perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berorientasi pada kelulusan mahasiswa, tetapi juga perlu memastikan bahwa lulusannya memiliki kemampuan yang relevan dengan perubahan dunia kerja.
Mahasiswa perlu dibekali keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah. Kemampuan menggunakan AI juga harus diimbangi dengan pemahaman etika, tanggung jawab, serta kemampuan memverifikasi informasi yang dihasilkan teknologi.
Selain itu, pemerintah dan perusahaan perlu membangun kolaborasi melalui program pelatihan, magang, sertifikasi kompetensi, dan peningkatan keterampilan atau upskilling. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan nilai ekonomi.
AI tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai musuh bagi masa depan pekerjaan Generasi Z. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan risiko pengurangan kebutuhan tenaga kerja dan meningkatnya kesenjangan keterampilan akibat perkembangan teknologi.
Masa depan pekerjaan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki gelar tertinggi, tetapi juga oleh siapa yang mampu beradaptasi, belajar, dan mengembangkan kompetensinya. Pendidikan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan generasi muda harus mengambil peran bersama dalam menghadapi perubahan ini.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, melainkan apakah manusia, khususnya Generasi Z, mampu mempersiapkan diri agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Referensi :
1. Badan Pusat Statistik (BPS), 2025. Data Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Kelompok Umur, Sakernas Agustus 2025. BPS – Statistik pengangguran berdasarkan umur dan Publikasi data Sakernas 2025.
2. World Economic Forum (2025). The Future of Jobs Report 2025. Baca laporan resmi WEF.
3. International Labour Organization (ILO, 2026). Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness. Baca laporan ILO tentang AI di ASEAN.
4. International Labour Organization (ILO, 2025). Generative AI and Jobs: A 2025 Update. Baca penelitian ILO tentang AI dan pekerjaan.

