kumparan
6 Nov 2017 16:32 WIB

Nikah Muda Rentan Terjadi Perceraian

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA), Yohana Susana Yembise, beberapa waktu lalu mengatakan siap mengajukan revisi Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1947. Yohana mengungkapkan poin utama usulan revisi UU Perkawinan itu adalah soal batas minimal usia nikah untuk perempuan.
ADVERTISEMENT
Di dalam UU tersebut, batas usia minimal bisa menikah untuk perempuan adalah 16 tahun. Yohana mengatakan usia 16 tahun masih terlaku kecil. Sehingga Tingkat perkawinan yang melibatkan perempuan di bawah umur masih tinggi. Dia mengharapkan usia minimal menikah ditambah menjadi lebih dari 18 tahun.
Menurut Yohana banyak persoalan yang terjadi pada pernikahan muda, salah satunya rentan menimbulkan perceraian. Hal itu diaminin oleh Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Didik Wuryanto disela-sela sidang saat ditemui kumparan (kumparan.com) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (6/11).
"Nikah muda itu bisa berujung ke Perceraian itu akibat emosi yang belum stabil dari kedua belah pihak," tutur Didik. Namun, ia juga mengatakan nikah muda bukan faktor utama perceraian di Wilayah Jakarta Utara.
ADVERTISEMENT
Meski bukan utama, Didik menjelaskan tingkat perceraian dengan usia pernikahan belia memang terjadi peningkatan tiap tahunnya. Banyak persoalan suami-isteri yang tidak bisa selesaikan dengan baik-baik, sehingga pasangan muda itu memilih jalan perceraian.
Tingkat usia dan pendidikan yang matang selaras dengan menyikapi konflik pernikahan. Hal ini oleh Didik menjadi urgensi sebelum melakukan pernikahan.
"Usia dan faktor yang berperan ialah tingkat pendidikan. Pendidikan tetap penting untuk bisa memahami perubahan yang ada dengan lebih baik sehingga proses adaptasi yang dilakukan mampu membawa ke arah yang diinginkan terjadi baik eksternal maupun internal antara suami dan istri sangat membantu." Jelas Didik.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan