Konten dari Pengguna

Profesi Pemadam Kebakaran adalah Kebanggaan

Bianda Ludwianto

Bianda Ludwianto

ex-jurnalis

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bianda Ludwianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Profesi Pemadam Kebakaran adalah Kebanggaan
zoom-in-whitePerbesar

Kerusuhan tahun 1998, memiliki kenangan tersendiri bagi Rusmanto. Pria berusia 43 tahun ini ingat sekali peristiwa penjarahan yang menimbulkan kebakaran di beberapa wilayah di Bekasi, Jawa Barat.

Rusmanto yang saat ini menjadi Komandan Pleton (Danton) Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, ditemui kumparan (kumparan.com) di Markas Komando Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Jalan Komodo Raya Perumnas Satu, Kota Bekasi, Sabtu (04/11), mengenang kejadian kebakaran saat kerusuhan 1998 menjadi salah tugas terberatnya. Karena setiap melakukan pemadaman, tim selalu didampingin oleh regu polisi huru-hara untuk berjaga. "Waktu kebakaran tahun 1998, saat kerusuhan, kita harus didampingi oleh polisi huru-hara karena kalo sendiri bisa membahayakan nyawa, apalagi pada itu gelap," kenang Rusmanto.

Ia pun mengakui jika tugas sebagai penakluk api ini memang sangat berbahaya. Tuntutannya banyak, selain kebakaran, petugas juga menanggani bencana lainnya dan siap melayani panggilan masyarakat seperti, banjir, kecelakaan, pohon tumbang, pertolongan tidak hanya penyelamatan jiwa manusia tetapi juga habitat lainnya.

Profesi yang telah dijalani Rusmanto selama 22 tahun, sejak tahun 1995 ini, memang penuh tantangan dan sangat beresiko mengalami musibah serta kecelakaan. keselamatan nyawa sendiei juga membanyanginya saat menjalani tugas. "Saya pernah beberapa kali kena kecelakaan seperti tertimpa kabel listrik yang putus sampai mengenai helm, belum lama pernah terkena ganjalan mobil hingga kaki kiri saya retak," ujar Rusmanto dengan tatapan matanya yang sedikit berbinar kepada kumparan.

Ketakutan tetap ada dalam benak, Rusmanto. Namun, ia mengalihkan ketakutan itu sebagai caranya untuk waspada dan bekerja dengan hati-hati, serta tidak melepaskan faktor kuasa Tuhan, agar tetap rendah diri.

Profesi Pemadam Kebakaran adalah Kebanggaan (1)
zoom-in-whitePerbesar

Seorang petugas pemadam kebakaran (damkar) kala dilanda hal dilematis, seperti memilih keluarga atau kepentingan masyarakat. Tuntutan profesionalitas memang menjadi utama, bagi Rusmanto meninggalkan keluarga di hari raya sudah biasa. Ia bangga karena istri dan dua anaknya yang masih bersekolah bisa mengerti keadaan pekerjaan bahwa profesi ini memiliki tanggung jawab besar demi kepentingan luas.

Namun, di sisi lain memilih untuk mengabdi kepada masyarakat. Petugas damkar terkadang menemui hambatan dalam menjalankan tugasnya dari masyarakat itu sendiri. "Masyarakat lebih penting menghindari maling daripada membuat hunian aman dari kebakaran, petugas kadang susah untuk masuk ke lokasi karena sulit akses, seperti portal dan pagar tinggi, selain itu warga yang berkumpul dan tidak tahu bahaya bahan mudah kebakaran menjadi kendala," pungkas Rusmanto kepada kumparan.

Tambahnya, ia meminta masyarakat untuk bisa bekerjasama dengan petugas untuk mempercepat proses penangganan kebakaran. Petugas jiga sudah sosialisasi penangganan kebakaran di masyarakat. Seperti, mementingkan keselamatan dan mengetahui benda-benda mudah kebakaran dan proses evakuasi.

Rusmanto bersyukur karena saat ini, kepedulian dari pemerintah daerah (pemda) cukup tinggi terhadap profesinya yang beresiko dan rela untuk jauh dari keluarga. Tapi, ia berharap di daerah lain, masih ada saja petugas damkar yang kurang dipedulikan oleh pemda setempat atas tanggung jawab yang besar sebagai sang penakluk api.

Pantang pulang sebelum padam.