Konten dari Pengguna

Rosie The Riveter: Alat Propaganda Perang Amerika Serikat

Habib Hanafi

Habib Hanafi

mahasiswa aktif hubungan internasional, universitas sriwijaya

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Habib Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Amerika Serikat membutuhkan banyak tenaga kerja industri karena ancaman Perang Dunia II, terutama setelah serangan Pearl Harbor pada Desember 1941. Jutaan posisi di pabrik senjata, kapal, dan pesawat kosong ketika orang dewasa dikirim ke medan perang. Untuk mengisi celah itu, pemerintah dan industri Amerika Serikat memulai kampanye propaganda yang mendorong perempuan untuk bergabung dengan angkatan kerja industri.

Ini adalah tempat Rosie the Riveter pertama kali muncul; pada awalnya, dia adalah sebuah karakter fiksi yang mewakili perempuan pekerja. Karakter ini pertama kali muncul dalam poster We Can Do It! oleh seniman J. Howard Miller pada tahun 1942. Pada tahun 1943, dia menjadi bagian dari lagu populer "Rosie the Riveter" dan ilustrasi Norman Rockwell di The Saturday Evening Post yang menegaskan Rosie sebagai representasi perempuan pekerja Amerika.

foto generate by AI
zoom-in-whitePerbesar
foto generate by AI

Strategi Propaganda dan Komunikasi

Propaganda Rosie tidak hanya menggambarkan perempuan yang bekerja di pabrik; itu juga ingin mendorong perempuan untuk menjadi nasionalis dan emosional. Saat negara dalam keadaan darurat perang, pemerintah AS menggunakan berbagai media visual, seperti poster, majalah, foto, dan lagu, untuk mengatakan bahwa orang harus membantu industri.

Dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perempuan mampu melakukan pekerjaan berat di pabrik dan berkontribusi pada kemenangan negara, poster ikonik "We Can Do It!", dengan sosok perempuan yang mengepalkan lengan dan menyiratkan slogan semangat kerja. Tidak hanya pesan ini meningkatkan produktivitas tenaga kerja, tetapi juga memberi inspirasi kuat untuk menyatukan rasa nasionalisme dan solidaritas.

Propaganda Rosie berbeda dari propaganda militer yang terang-terangan menekankan kemenangan di medan perang dengan menggunakan simbol sosial dan personal. Misalnya, dia meminta perempuan untuk percaya bahwa mereka dapat memberikan kontribusi besar bagi nasib bangsa mereka. Metode ini berhasil karena mencapai realitas sosial dan mental perempuan yang sebelumnya terbatas pada peran rumah tangga. Hasilnya, jutaan perempuan yang memasuki sektor industri terpengaruh oleh kampanye ini.

foto generate by AI

Warisan dan Dampak Sosial Rosie the Riveter

Data sejarah menunjukkan bahwa sekitar 37% dari pekerja AS adalah perempuan hingga 1944. Ini termasuk pekerja dalam industri berat seperti pembuatan kapal dan pesawat. Rosie menjadi representasi dari perubahan peran gender dan kapasitas perempuan untuk mengambil peran yang sebelumnya dianggap "maskulin".

Berlalunya waktu, banyak wanita diminta kembali ke pekerjaan sipil setelah perang berakhir. Meskipun demikian, pengalaman bekerja di pabrik memiliki efek jangka panjang terhadap kesadaran akan kesetaraan gender dan memungkinkan perjuangan hak perempuan di dekade mendatang. Selain itu, Rosie masih menjadi ikon populer hingga abad kedua puluh satu, digunakan kembali dalam kampanye tentang representasi sosial dan pemberdayaan perempuan.

foto generate by AI

Efektif atau Tidak?

Rosie the Riveter adalah lebih dari sekadar karakter visual ia adalah alat propaganda yang berguna untuk mendorong perempuan untuk bekerja dalam situasi darurat nasional. Pemerintah AS berhasil memenuhi kebutuhan industri perang dan meredefinisi peran perempuan melalui strategi komunikasi yang kuat dan menarik. Propaganda masih hidup dalam narasi gender dan sosial saat ini, meskipun hanya muncul dalam konteks perang.