131 Tahun Masyarakat Keturunan Jawa di Suriname, Bagaimana Kiprahnya Kini

Bibid Kuslandinu
Pemerhati isu-isu hubungan internasional, hukum internasional, pariwisata, kuliner dan otomotif
Konten dari Pengguna
9 Agustus 2021 8:42 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bibid Kuslandinu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada tanggal 9 Agustus ini, masyarakat keturunan Jawa di Suriname memperingati 131 tahun kedatangan orang Jawa di negara tersebut, atau disebut juga Dag der Javaanse Immigratie atau The Day of Wong Jowo. Setiap tahunnya, sebelum pandemi Covid-19, peringatan tersebut dirayakan dengan berbagai pentas seni dan budaya. Tepatnya pada 9 Agustus 1890, sebanyak 94 gelombang pertama orang Jawa mendarat di Suriname, yang terletak di kawasan Amerika Selatan. Mereka didatangkan ke Suriname dengan kapal SS Prins Willem II, setelah berlayar lebih dari 2 bulan dari Batavia (sekarang Jakarta) dan singgah di Belanda.
Monumen kedatangan orang Jawa di Suriname (sumber: dokumen pribadi)
Orang-orang Jawa tersebut didatangkan sebagai buruh kontrak oleh Belanda untuk bekerja pada perkebunan-perkebunan di Suriname, terutama perkebunan tebu, cokelat, kopi, dan juga pertambangan bauksit. Antara tahun 1890 hingga 1939, Pemerintah Belanda mendatangkan orang Jawa ke Suriname mencapai hampir 33 ribu orang.
ADVERTISEMENT
Saat ini, orang keturunan Jawa Suriname sudah hidup turun temurun di Suriname, hingga mencapai generasi kelima dan keenam, dan jumlahnya mencapai lebih dari 80 ribu orang atau sekitar 13 persen dari total penduduk. Mayoritas penduduk di negara yang berbahasa resmi Belanda tersebut adalah dari suku bangsa Hindustani keturunan India, dan orang kulit hitam dari etnis Creole serta Maroon. Sedangkan, orang Jawa menempati posisi terbanyak ketiga. Secara keseluruhan, penduduk Suriname berjumlah 591 ribu jiwa. Jumlah penduduk itu sangat sedikit dibanding luas wilayah negara Suriname yang luasnya masih lebih besar dari gabungan pulau Jawa, Madura dan Bali.
Dalam sejarahnya, orang keturunan Jawa di Suriname baru dapat menduduki posisi yang agak terpandang setelah sekitar 30 tahun kedatangannya, misalnya sebagai mandor tebu dan lurah di kawasan perkebunan, perawat, penerjemah, dan guru. Lebih lanjut, sejak tahun 1970-an, beberapa orang keturunan Jawa mulai menempuh pendidikan di Belanda dan berhasil menyandang gelar kesarjanaan dalam bidang teknik, hukum, kedokteran, ekonomi, fisika, antropologi dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
Bidang politik ternyata juga menarik perhatian mereka. Pada tahun 1940-an mulai berdiri partai-partai bentukan warga keturunan Jawa yaitu PBIS (Persatuan Bangsa Indonesia Suriname) KTPI (Kaum Tani Persatuan Indonesia). Dalam perkembangannya sampai saat ini, juga berdiri partai-partai Jawa seperti Pertjajah Luhur (dibaca Percaya Luhur, yang dulunya bernama Pandawa Lima), D21 (Democraten van de 21ste eeuw), NSK (De Nieuwe Stijl KTPI) dan sebagainya.
Menteri Dalam Negeri Suriname saat ini, Bronto Somohardjo
Dalam kancah perpolitikan, politisi keturunan Jawa di Suriname senantiasa diperhitungkan dan mendapatkan tempat, dalam Kabinet Pemerintahan sebagai Menteri, Panglima Angkatan Bersenjata, dan jabatan tinggi lain. Di ranah perlementer, politisi keturunan Jawa juga selalu mendapat kursi di DNA (De Nationale Assemblée, atau DPR Suriname). Jabatan tertinggi yang pernah diemban keturunan Jawa di Suriname yaitu Ketua Parlemen. Sampai saat ini belum pernah ada yang menjadi Presiden Suriname. Pada tahun 2015 sempat jadi pemberitaan di Indonesia bahwa ada politisi Jawa Suriname yang mencalonkan menjadi Presiden yaitu Raymond Sapoen, namun tidak cukup dukungan baginya di parlemen dan perpolitikan Suriname. Saat ini ada 1 Menteri keturunan Jawa dalam Kabinet Pemerintahan Suriname, yang menjabat Menteri Dalam Negeri, dan ada 7 orang anggota parlemen dari keturunan Jawa.
ADVERTISEMENT
Tak hanya di bidang politik, saat ini orang-orang Jawa Suriname juga memiliki andil besar di bidang ekonomi. Seperti misalnya di bidang jasa keuangan, terdapat pengusaha keturunan Jawa yang mendirikan bank, yaitu Fina Bank dan ada juga bank syariah pertama di Suriname bahkan di Amerika Selatan, yaitu Trust Bank Amanah. Di bidang kesehatan, ada yang memiliki grup perusahaan kesehatan dengan cabang-cabang usaha penyediaan alat-alat kesehatan, distribusi obat-obatan termasuk jamu yang diimpor dari Indonesia, serta jaringan klinik kesehatan umum bernama Intermed, dan ada juga klinik-klinik khusus perawatan sakit ginjal yang diberi nama Diapura (dari bahasa Jawa dingapura/dimaafkan dari segala kesalahan atau dosa).
Lalu ada juga yang bergerak di bidang penyiaran, dengan mendirikan perusahan Televisi dan Radio seperti RTV (Radio & Televisi) Garuda, RTV Mustika, RTV Pertjajah, serta perusahaan penyiaran (production house) lainnya. Masih banyak lagi pengusaha keturunan Jawa Suriname yang memiliki kiprah di berbagai bidang lain seperti sektor konstruksi, teknologi informasi, pariwisata, restoran, kelistrikan, tekstil, perdagangan dan pemasaran, serta perusahaan beras dan gudang termasuk jaringan toko berbagai barang kebutuhan pokok seperti perusahaan Ini-Dia Rice. Kalau dari profesi, mayoritas etnis Jawa Suriname bekerja sebagai pegawai negeri dan karyawan swasta, selain itu ada juga yang berprofesi sebagai petani, pedagang, guru, dokter, agamawan dan seniman.
Toko Ini-Dia rice di Paramaribo, Suriname (sumber: Facebook Ini-Dia rice)
Saat ini masyarakat keturunan Jawa Suriname mengalami tantangan berat akibat krisis ekonomi yang dimulai sejak akhir 2015, terlebih diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 sebagaimana terjadi di berbagai belahan dunia. Sebelum krisis, pada tahun 2014 tingkat pendapatan rata-rata penduduk Suriname (GDP per kapita) mencapai 9.471 Dollar AS atau sekitar 117 juta Rupiah per tahun jika dihitung kurs saat itu, tetapi belakangan ini GDP per kapita mereka turun ke 6.491 Dollar AS. Meskipun demikian, dengan adanya program-program pemulihan ekonomi dari Pemerintah Suriname yang baru, adanya penemuan ladang-ladang minyak baru, serta perbaikan harga komoditas seperti kayu dan emas kedepannya, diharapkan perekonomian Suriname dapat kembali pulih.
ADVERTISEMENT
Di sektor pendidikan dan kebudayaan, masyarakat keturunan Jawa di Suriname juga memiliki andil besar. Ada tokoh-tokoh pendidikan dan kebudayaan yang menjadi Kepala Arsip Nasional, dosen pada Universitas dan guru-guru sekolah, presenter televisi, serta seniman dalam berbagai bidang seperti pelukis dan seniman tembikar terkenal, dalang, ahli gamelan, seniman cabaret (di Indonesia seperti ludruk), serta pendiri kelompok dan ketua asosiasi pencak silat yang merupakan cabang olah raga cukup populer di Suriname.
Garuda TV Suriname banyak menayangkan siaran berita, film dan tayangan kebudayaan Jawa (sumber: Youtube Wawansabdo-Suriname Team)
Di bidang pendidikan dan kebudayaan ini, tantangannya juga tak kalah berat. Karena globalisasi yang deras melalui televisi, koran, radio dan sosial media juga mempengaruhi eksistensi budaya Jawa di Suriname. Apalagi bagi Suriname yang terletak di benua Amerika, maka pengaruh budaya-budaya lain terutama budaya barat sangat berdampak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat keturunan Jawa di Suriname. Selain itu, di Suriname materi kebudayaan dan bahasa etnis juga tidak diajarkan dalam kurikulum resmi pendidikan, sehingga bahasa dan tradisi Jawa di Suriname semakin memudar atau di sana disebut “lali Jowone”.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, dalam menghadapi tantangan, Indonesia sebagai “saudara tua” dari Suriname perlu untuk senantiasa meningkatkan kerja sama dengan Suriname. Baik antar Pemerintah maupun antar masyarakatnya. Khususnya dalam bidang ekonomi, perlu penjajakan lebih luas lagi antara pengusaha Indonesia dengan Suriname untuk menjalin kerja sama bisnis, dimana Suriname memiliki prospek besar dalam bidang pertambangan, perkebunan, kehutanan dan juga sebagai pintu masuk ekspor produk Indonesia ke kawasan Karibia. Sedangkan di bidang pendidikan dan kebudayaan, perlu ditingkatkan pemberian beasiswa kepada pelajar Suriname, pengiriman ahli-ahli kebudayaan Indonesia (khususnya Jawa seperti wayang dan gamelan) ke Suriname, serta materi ajar kebudayaan baik buku dan peralatan. Itu bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelajar Suriname, dan membantu pelestarian kebudayaan Jawa disana. Kebudayaan Jawa ini menjadi salah satu lem perekat dalam hubungan Indonesia dengan Suriname.
ADVERTISEMENT
* Penulis adalah ASN di Kementerian Luar Negeri, penulis buku “Suriname Selayang Pandang Negeri Nun Jauh di Seberang.” Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan institusi dimana penulis bekerja.