Kesiapan Generasi Z Sebagai Penerus Bangsa Kelak

Mahasiswa Bina Nusantara University
Tulisan dari Cinta Attaya Khulwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pentingnya peduli dan memahami kesehatan mental sebagai salah satu upaya untuk mempersiapkan generasi Z dalam memimpin negeri kelak.
Generasi Z telah dianggap akan menjadi penyokong kemajuan bangsa didasari alasan mereka yang cenderung bersifat pragmatis, berinovasi, dan berani menyuarakan pendapatnya baik secara langsung maupun melalui daring. Hal ini disebabkan generasi Z yang terlahir diantara tahun 1996-2010 sebagian besar mengalami dua zaman, baik ketika dunia belum dipermudah oleh kehadiran teknologi komunikasi, dan kini keadaan dimana hampir setiap individu tak lekang dari peran teknologi. Sebagaimana Daughtey dan Hoffman menyatakan bahwa secara umum, generasi Z menghabiskan 9 jam per hari nya untuk menggunakan ponselnya, membuat generasi Z terbiasa dalam mendapatkan informasi dan secara tidak langsung terlatih untuk berfikir kritis akan segala informasi yang terpapar dan berhasil secara stimulus diinterpretasikan sesuai dengan perspektif masing-masing.
Dua tahun kebelakang menjadi tahun bagi generasi Z di Indonesia untuk melakukan aksi untuk mematahkan stigma bahwa mereka tidak peduli akan keberlangsungan negaranya, dengan mengadakan demonstrasi akan kebijakan negara baik langsung ke perwakilan masyarakat atau dengan menyampaikan aspirasi juga opini nya melalui media sosial. Aksi yang diunjuk rasakan pun mayoritas didasari oleh isu yang faktual dan memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan bangsanya, tidak hanya sekedar mengikuti trend dan mencari jati diri belaka. Demonstrasi yang dilakukan pun dianggap kekinian dikarenakan menggunakan diksi surplus metafora.
Hal tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Yolanda dan Halim bahwa generasi Z banyak melakukan pencarian informasi dan mengkritik isu politik. Keberanian dan kekukuhan untuk memberi perannya ini kerap menuai pandangan bahwa merekalah yang akan menjadi penerus yang dapat membangkitkan bangsanya menjadi bangsa yang lebih baik di kancah internasional baik dalam bidang politik, teknologi, atau segudang bidang lainnya.
Padahal faktanya generasi Z merupakan generasi yang rentan dari serangan epidemi kesehatan mental. American Psychological Association (APA) merilis risetnya bertajukan “Stress in America : Generation Z” akan kesehatan mental generasi Z yang patut dikhawatirkan melalui pengadaan survei pada sekitar 3,458 responden. Hasil mengatakan bahwa kecenderungan stress yang muncul pada generasi Z berasalkan dari kecemasan akan keamanannya, pekerjaannya, keuangannya, kesehatannya, sistem ekonomi dinegaranya hingga perihal masa depan negaranya hingga mencapai skala 5,4 (pada skala 1 yaitu tidak stres hingga 10 sangat stres) . Tingginya kecemasan yang dialami Generasi Z umumnya karena beragamnya jenis kriminalitas yang terus meningkat seiring waktu baik organized crime, white collar crime, corporate crime, hingga blue collar crime yang terus muncul isu nya di pemberitaan media massa. Namun, generasi Z memiliki presentase paling tinggi dalam kemungkinan mencari bantuan untuk gangguan mental yang ia alami, dimana salah satu faktor utamanya kian banyak tokoh masyarakat acuan masyarakat menyebarkan akan pentingnya menjaga kesehatan mentak di media sosial.
Tingginya angka individu yang mampu untuk mencari bantuan akan gangguan mentalnya merupakan hasil pengaplikasian dari teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) yaitu teori yang berasumsi bahwa individu merasakan kecemasan akan muncul ketika melihat aksi orang yang berbeda pendapat atau budaya dengannya. Keresahan ini dapat diturunkan skalanya dengan menerapkan mindfulness yaitu menyadari akan apa yang menjadi titik resahnya dan pemencari bantuan terhadap psikolog untuk menceritakan keresahannya sebagai upaya untuk pengendalian diri, juga penghindaran dari tekanan perasahaan yang dapat menciptakan kesejahteraan diri.
Namun, kesahatan mental masih menjadi hal yang tabu di Indonesia padahal sebagaimana riset Kementrian Kesehatan bahwa ada sekitar 12 juta penduduk >15 tahun keatas yang merupakan lingkup generasi Z menderita depresi tentu memunculkan kekhawatiran bagi mereka yang telah sadar dan menuntut adanya perubahan. Data tersebut masih cenderung kurang untuk menggerakan organisasi formal seperti sekolah untuk mulai memberikan pengenalan secara general akan pentingnya menjaga kestabilan mental sejak dini, dan bagaimana mengatasinya. Selain itu, edukasi yang bersifat wajib terhadap orang tua untuk mendampingi, memahami dan percaya terhadap anak juga kerap masih jarang ditemukan. Padahal edukasi kesehatan mental dapat membantu para anak untuk memahami perasaan dan keadaan yang mungkin membingungkan dan meresahkan.
Tak tinggal diam, muncul banyak kampanye yang diadakan oleh masyarakat umum atau organisasi non profit bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Kampanye ini umumnya dilakukan di media sosial yang dianggap merupakan platform paling efektif dan efisien untuk menjangkau banyak orang terutama generasi Z yang sangat ‘melek’ teknologi. Selain itu juga mulai banyak ditemukan organisasi yang bertajukan ‘parenting lesson’ untuk membekali orang tua dalam mendidik anak generasi Z hingga seterusnya.
Perlu disadari, bahwa pentingnya meningkatkan edukasi dan kreatifitas, perlu diseimbangi dengan menjaga mental dan mensosialisasikan akan pentingnya menjaga kestabilan mental terhadap generasi Z. Dimana hal tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung mereka untuk bertumbuh dengan lebih baik hingga dapat membangkitkan kesuksesan bangsanya. Generasi Z yang mulai mengambil alih kemajuan bangsa, sangat memerlukan kesiapan yang dapat diawali dari menjaga diri mereka sendiri. Sebagaimana disampaikan Presiden Soekarno, bahwa untuk mencapai bangsa yang maju, diperlukan pemuda nya yang dapat bertanggung jawab bukan hanya untuk sekitarnya namun juga dirinya sendiri.
Daftar Pustaka :
Daugherty, T., & Hoffman, E. (2014). eWOM and The Importance of Capturing Consumer Attention Within Social Media. Journal of Marketing Communication, 20(1-2), 82-102. doi:10.1080/13527266.2013.797764
Putri Yolanda, H., & Halim, U. (2020). Partisipasi Politik Online Generasi Z Pada Pemilihan Presiden Indonesia 2019. CoverAge: Journal of Strategic Communication, 10(2), 30-39. https://doi.org/10.35814/coverage.v10i2.1381
Kumparan. (2019, September 24). Gen Z dan Narasi Demo Mahasiswa yang Kekinian. Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/kumparannews/gen-z-dan-narasi-demo-mahasiswa-yang-kekinian-1rvPSk3vLN2/full
American Psychological Association (2018). Stress in America: Generation Z. Stress in AmericaTM Survey.
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, K. K. (2019, Oktober 15). Pentingnya Peran Keluarga, Institusi dan Masyarakat Kendalikan Gangguan Kesehatan Jiwa. Retrieved from kemkes.go.id: https://www.kemkes.go.id/article/view/19101600004/pentingnya-peran-keluarga-institusi-dan-masyarakat-kendalikan-gangguan-kesehatan-jiwa.html
