Konten dari Pengguna

Big Farmer, Asa Mengoptimalkan Potensi Wisata Desa Kertawangi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gilang Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logo Big Farmer, Sumber : Tim Kreatif Big Farmer, Desa Kertawangi
zoom-in-whitePerbesar
Logo Big Farmer, Sumber : Tim Kreatif Big Farmer, Desa Kertawangi

Kabupaten Bandung Barat dikenal dengan potensi pariwisatanya terutama di wilayah utara, wilayah utara yang terdiri dari Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong dan Kecamatan Lembang merupakan jalur sutera pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Udaranya yang dingin dan segar serta pemandangan yang indah merupakan daya tarik utama wisatawan, sehingga setiap akhir pekan kemacetan yang diakibatkan oleh para pelancong yang berkunjung sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Banyak destinasi wisata yang ada di wilayah ini, kita sebut saja nama-sama besar seperti Dusun Bambu di Kecamatan Cisarua, Lembang Park Zoo di kecamatan Parongpong, dan Floating Market di Kecamatan Lembang. Tetapi desa yang mengelola tempat wisata secara mandiri masih bisa dibilang sedikit. Masih banyak desa yang memiliki mindset pariwisata adalah bisnis yang memerlukan modal besar dan lebih realistis pariwisata untuk dikembangkan dan dikelola oleh para investor.

Tetapi tidak untuk desa Kertawangi, pemerintah Desa berani melangkah dengan potensi alamnya yang mendukung untuk menjadi sebuah Desa Wisata, benar-benar desa wisata bukan hanya sebuah nama. Pemerintah Desa membuat sebuah konsep pariwisata yang inklusif dengan memanfaatkan berbagai potensi masyarakat lokal atau yang lebih dikenal dengan Community Based Tourism.

Desa Kertawangi adalah desa yang terletak di Kecamatan Cisarua, dengan populasi penduduk berjumlah 14.229 jiwa dan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Pengembangan pariwisata secara serius oleh pemerintah desa Kertawangi mulai dikembangkan oleh Kepala Desa yang bernama Steve Ewon. Steve Ewon ini adalah seorang aktivis lingkungan, dan sangat familiar karena dahulu sering muncul di acara bertajuk Jejak Rimba sebuah reality show yang bertema flora, fauna dan pelestarian lingkungan.

Dalam mendukung Desa Kertawangi menjadi sebuah Desa Wisata, dibuatlah sebuh inovasi bernama “Big Farmer.” Big Farmer merupakan program yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara kepala desa dengan Masyarakat Sadar Wisata yang diantaranya adalah I Made Aria Atmaja, dan Anggi Suhendi,yang kemudian diikuti dengan dibentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kertawangi yang akan menjadi motor penggerak utama dari Big Farmer.

Konsep pariwisata yang ditawarkan oleh Big Farmer adalah Eduwisata yaitu program kegiatan atau rekreasi yang memadukan unsur perjalanan wisata dengan muatan pendidikan atau pembelajaran. Dengan didukung oleh Pokdarwis yang sudah berpengalaman , Big Farmer sangat cocok untuk para anak sekolah maupun orang dewasa yang ingin merasakan langsung bagaimana kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Desa, para pengunjung akan merasakan sensasi pengalaman bercocok tanam hingga beternak langsung dari masyarakat desa itu sendiri.

Sumber : Tim Kreatif Big Farmer, Desa Kertawangi

Kepala Desa Sebagai Arsitek Perekonomian Desa

Dasar pemikiran dibentuknya Big Farmer bermula dari kompleksnya permasalahan yang ada di desa Kertawangi yang diakibatkan oleh bisnis pariwisata itu sendiri, mulai dari kemacetan, sampah yang menumpuk, dan sangat kurangnya pemberdayaan masyarakat lokal oleh objek wisata yang ada di desa kertawangi, masyarakat lokal hanya menjadi penonton bukannya menjadi pemain di tengah berkembangnya bisnis pariwisata.

Atas dasar pemasalahan yang ada kepala desa membuat gagasan program wisata yang berkolaborasi langsung dengan masyarakat, di mana masyarakat bisa terlibat dan ikut mengelola sebuah konsep wisata yang ramah lingkungan dan tidak mengubah tatanan sosial yang ada. Bukan hanya para petani yang diikutsertakan, pengusaha transportasi sekitar pun ikut terlibat sehingga masyarakat sekitar menjadi salah satu aktor penting dan terlibat langsung dalam perumusan kebijakan yang dikeluarkan oleh kepala desa dalam upaya menjadikan pariwisata sebagai potensi utama desa Kertawangi.

Big Farmer sekarang ini menjadi salah satu core business Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Kertawangi, Bumdes seperti kita ketahui bersama bukan hanya mengejar keuntungan semata, tetapi harus menjadi alat pemerintah desa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menjadi pemasar produk lokal dan membuka lapangan kerja. Kepala Desa berusaha merubah paradigma Bumdes, dari yang semula masyarakat memandang Bumdes sebuah lembaga bisnis desa yang bisanya hanya merugi, dan menjadi “kosmetik” plang Kantor Desa. Sedikit demi sedikit sudut pandang itu mulai dirubah oleh kepala desa, Bumdes sebenarnya bisa menjadi entitas bisnis desa yang menjanjikan dan profitable, tidak hanya mahir dalam menghabiskan anggaran tetapi bagaimana Bumdes bisa menghasilkan pendapatan desa yang akan digunakan sepenuhnya untuk pembangunan desa.

Semangat digelontorkannya dana desa oleh pemerintah pusat adalah desa harus menjadi pusat perkembangan ekonomi masyarakat dan mengurangi arus urbanisasi. Kepala desa melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat dan juga dari kalangan akademisi dalam upaya pengembangan Big Farmer. Diharapkan dengan arahan dari dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta insight dari para akademisi, kapasitas pengurus Big Farmer bisa terus meningkat, kepala desa mendapatkan motivasi, sudut pandang dan ide baru yang dapat diimplementasikan dalam upaya pembangunan pariwisata desa Kertawangi.

Upaya terobosan yang sudah dilakukan oleh kepala desa merupakan langkah yang sangat progresif, di sini Kepala Desa berusaha membuat sebuah blue print perencanaan ekonomi di mana desa tidak hanya menunggu dana transferan dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah, tetapi mulai berinovasi dan berkolaborasi dalam upaya mendapatkan pendapatan Desa yang optimal dengan memaksimalkan potensi yang ada di wilayahnya. Kepala Desa merupakan sosok penting dalam menjalankan roda Pemerintah Desa, seiring berkembangnya zaman, peran Kepala Desa mengalami banyak perubahan. Kepala Desa sekarang ini dituntut mempunyai kemampuan manajerial yang mumpuni, dapat berfikir out of the box untuk memajukan perekonomian agar bisa menjadi desa yang mandiri.

Sumber : Tim Kreatif Big Farmer, Desa Kertawangi

Pembiayaan dan Kolaborasi Dalam Pengembangan Big Farmer

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (Apbdes) menjadi instrumen penting dalam upaya merintis Big Farmer, melalui Apbdes lah will dari kepala desa dalam upaya mengembangkan komponen-komponen penting dalam pariwisata yang kita kenal dengan 4A (Attraction, Accesibility, Amenities, dan Acillary) dapat terlihat. Anggaran yang sudah dialokasikan untuk pengembangan Big Farmer selama 3 tahun terakhir oleh Pemerintah Desa Kertawangi adalah sebesar Rp254 juta yang mencakup untuk perbaikan infrastruktur dan penambahan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.

Selain menggunakan Apbdes, Kepala Desa juga menggagas kerjasama dengan banyak sektor privat dalam upaya simbiosis mutualisme antar stake holder pariwisata yang ada di desa Kertawangi. Sebagai contoh, desa Kertawangi mempunyai potensi seniman yang sangat potensial, Dusun Bambu dalam event-event bertemakan kebudayaan sering menampilkan dalang cilik dari salah satu sanggar seni budaya di Desa Kertawangi. Selain itu dengan pengusaha kuliner/resto serta home stay di Desa Kertawangi, Big Farmer juga menjalin kerjasama dengan cara memasukan mereka sebagai item dari paket wisata Big Farmer. Dengan adanya Big Farmer, di Desa Kertawangi muncul banyak Umkm baru, Umkm selain di display di beberapa sudut lokasi strategis Big Farmer juga menjadi cindera mata di dalam goody bag para pengunjung yang biasanya dibagikan diakhir kegiatan wisata.

Dengan metode seperti ini semua tumbuh, semua berkembang, tidak hanya satu pihak saja yang diuntungkan, Kepala Desa berhasil meyakinkan para masyarakat Desa Kertawangi untuk mendukung penuh pembentukan Desa Wisata. Big Farmer mungkin tidak semegah pariwisata buatan dengan modal yang besar, tetapi dengan Big Farmer kepala desa berhasil membangun sebuah ekosistem pariwisata yang kondusif sekaligus kompetitif, serta jaringan bisnis pariwisata yang bukan hanya menguntungkan yang besar tetapi juga memberdayakan masyarakat kecil.