Konten dari Pengguna
Mengapa Tidur Jadi Surga bagi Orang Dewasa, tapi Musuh bagi Anak-anak?
21 Juli 2025 13:33 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Tidur Jadi Surga bagi Orang Dewasa, tapi Musuh bagi Anak-anak?
Anak-anak sering menolak tidur, seolah tidur adalah hukuman. Tapi saat dewasa, tidur justru jadi hal paling dirindukan. Mengulas perbedaan cara pandang terhadap tidur.Syifa Nabila
Tulisan dari Syifa Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tidur adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia, namun cara kita memandang dan mengalaminya bisa sangat berbeda tergantung pada usia. Banyak orang dewasa yang sangat menghargai tidur sebagai waktu untuk beristirahat, memulihkan energi, dan mengatasi stres. Sebaliknya, Sebaliknya, anak-anak justru sering menolak tidur seolah-olah itu hukuman, meski tubuh kecil mereka sangat membutuhkannya. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tapi mencerminkan perbedaan biologis, psikologis, dan sosial yang perlu dipahami. Mengapa orang dewasa justru merindukan tidur sementara anak kecil sering kali menolaknya?
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, tidur merupakan bagian penting dari siklus hidup manusia. Namun, cara kita memandang dan merasakannya sangat bergantung pada tahap perkembangan kita. Orang dewasa dan anak-anak memiliki pengalaman tidur yang sangat berbeda, dan hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan biologis hingga perkembangan psikologis.
Salah satu alasan utama mengapa orang dewasa lebih suka tidur dan anak kecil seringkali menghindarinya adalah perbedaan dalam kebutuhan tidur. Anak kecil, terutama bayi dan balita, membutuhkan lebih banyak tidur untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Bayi dapat tidur hingga 16 jam sehari, sementara balita sekitar 12 jam. Namun, tidur yang panjang ini sering kali dianggap mengganggu oleh anak-anak, karena membatasi waktu mereka yang lebih senang menjelajahi dunia, bermain, atau berinteraksi dengan orang lain. Pada usia ini, dunia sekitar anak sangat menarik, dan mereka cenderung merasa tidur menghalangi aktivitas yang lebih menyenangkan, bagi mereka, hanya berarti: “Aku ketinggalan sesuatu!”
ADVERTISEMENT
Sementara itu, orang dewasa membutuhkan sekitar 7-9 jam tidur setiap malam. Meskipun jumlah tidur berkurang seiring bertambahnya usia, kualitas tidur yang baik menjadi sangat penting untuk mendukung produktivitas, menjaga kesehatan fisik, dan mengelola stres. Seiring dengan bertambahnya usia, orang dewasa cenderung merasa tidur sebagai waktu yang sangat berharga untuk memulihkan tubuh dan pikiran yang lelah setelah beraktivitas seharian. Tidur kini dihitung, dijadwalkan, bahkan disarankan melalui aplikasi. Tidur bukan lagi aktivitas pasif, tapi sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Otak anak kecil berada pada tahap perkembangan yang sangat pesat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat terstimulasi oleh dunia di sekitar mereka. Proses kognitif yang terjadi pada anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan pengalaman langsung. Tidur, meskipun sangat penting bagi perkembangan otak, mungkin terasa tidak menarik bagi mereka karena mengurangi waktu untuk eksplorasi. Selain itu, banyak anak yang belum dapat memahami sepenuhnya manfaat tidur dan cenderung merasa cemas atau takut saat harus tidur, terutama jika mereka tidur sendirian.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, orang dewasa sudah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang manfaat tidur bagi kesehatan mereka. Tidur bukan lagi sekadar pemulihan fisik, tapi juga mental dan emosional. Tidur membantu memproses emosi, menyusun ulang memori, dan memberi ruang tenang di tengah kebisingan hidup. Orang dewasa yang bekerja keras atau terpapar stres lebih sering merasakan kebutuhan untuk tidur sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup mereka.
Perbedaan pandangan terhadap tidur juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Anak-anak sering kali merasa tertekan atau cemas saat diminta tidur, terutama jika mereka mengalami masalah tidur seperti mimpi buruk atau gangguan tidur lainnya. Selain itu, anak kecil lebih sering merasa takut atau cemas berpisah dari orangtua mereka, yang sering kali terjadi pada malam hari.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, orang dewasa seringkali merasa tidur adalah kesempatan untuk beristirahat, mengurangi stres, dan memulihkan diri setelah menjalani hari yang panjang. Namun, masalah tidur seperti insomnia atau stres yang berlebihan bisa membuat orang dewasa merasa cemas tentang kualitas tidur mereka, meskipun mereka menghargai waktu tidur.
Secara keseluruhan, perbedaan antara pandangan orang dewasa dan anak kecil mengenai tidur bukan hanya disebabkan oleh kebutuhan biologis yang berbeda, tetapi juga oleh perkembangan kognitif, emosional, dan sosial yang dialami oleh masing-masing kelompok usia. Anak kecil, yang sedang dalam fase eksplorasi dan pertumbuhan, sering kali merasa tidur menghalangi kegiatan yang lebih menarik, sementara orang dewasa lebih menghargai tidur sebagai waktu untuk pemulihan dan kesejahteraan mental. Memahami perbedaan ini dapat membantu kita untuk lebih menghargai tidur sebagai kebutuhan universal yang mendukung kesehatan fisik dan mental, terlepas dari usia. Dengan memahami dan menghormati perbedaan ini, kita dapat lebih baik mengelola kebiasaan tidur kita untuk meningkatkan kualitas hidup di setiap tahap perkembangan.
ADVERTISEMENT
Karena itu, mari kita ajarkan tidur sebagai budaya, bukan paksaan. Supaya anak-anak bisa mencintai tidur, sebelum mereka kelelahan mencarinya seperti kita.

