UKT Mahal: Ketika Pendidikan Tidak Lagi Sekadar Belajar

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jonathan Billie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba tanyakan pada ayahmu, ibumu, atau mungkin kakekmu, bagaimana mereka menempuh pendidikan dulu.
Mereka mungkin akan bercerita tentang perjuangan berburu buku bahkan harus berjalan puluhan kilometer untuk menempuh pendidikan di bangku universitas. Bandingkan dengan sekarang, kamu bisa mengakses materi dari internet secara gratis bahkan dari profesor di kampus Ivy League langsung dari kamarmu. Ilmu yang dulu menjadi sebuah simbol eksklusivitas, telah didemokratisasi hanya dengan modal kuota.
Lantas pertanyaannya, jika materinya sudah bebas diakses oleh siapa saja, kenapa orang-orang masih rela berebut “biaya tinggi” hingga ratusan juta untuk masuk ke dalam kampus tertentu?
Fenomena seperti ini menarik untuk ditelusuri. Apakah mereka membayar mahal hanya untuk mendapatkan selembar kertas ijazah? Saya rasa jawabannya akan lebih pragmatis. Mereka tidak hanya membayar untuk apa yang mereka pelajari, tetapi juga untuk siapa yang akan mereka kenal.
Ketika Ilmu Pengetahuan Dapat Diunduh, tetapi “Circle” Harus Dibeli
UKT mahal bukan hanya biaya belajar, itu adalah bentuk investasi untuk tetap berada di ekosistem sosial tertentu. Seorang sosiolog sekaligus antropolog klasik dari Prancis, Pierre Bourdieu, mengenalkan konsep social capital. Bourdieu menjelaskan bahwa modal sosial merupakan suatu instrumen yang dibuat untuk melanggengkan privilese, hak istimewa, dan mempertahankan dominasi tertentu dalam sebuah ruang sosial. Secara mudahnya, fungsi lembaga pendidikan formal mulai bergeser, bukan hanya tentang transfer ilmu semata, tetapi juga sebagai arena reproduksi kelas sosial.
Pada mayoritas kampus dengan sumber daya dan jaringan yang lebih kuat, kamu akan diajak berdiskusi layaknya sedang berada di laboratorium kehidupan, melakukan simulasi layaknya penggerak ekonomi, menganalisis, dan menerapkan dalam kehidupan pribadimu. Di sini, akses komunikasi disulap menjadi akses sinyal koneksi untuk masa depan.
Argumen tersebut diperkuat oleh seorang ekonom bernama Michael Spence, peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, memperkenalkan signaling theory, teori tersebut menyatakan bahwa pendidikan berfungsi bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga sebuah sinyal menuju pasar tenaga kerja, hal ini menunjukkan siapa kamu dan dari mana lingkungan kamu berasal.
Tembok Pembatas itu Retak, Bagaimana Menjebolnya?
Kabar baiknya, era digital menawarkan titik balik. Eksklusivitas modal sosial itu sebenarnya tidak dikunci serapat itu, ruang untuk membangun konektivitas bisa dijangkau oleh siapa saja yang berani memulai.
Pertama, jadilah proaktif. Di kampus mahal, social capital disediakan, jika kamu merasa tidak memiliki privilese tersebut, maka cobalah untuk menjemputnya. Robert Putnam, dalam bukunya Bowling Alone, menyebut hal ini sebagai bridging capital. Keberanian memulai percakapan adalah modal untuk masuk ke ekosistem sosial tanpa memerlukan validasi di luar kendali kita.
Kedua, keluar dari tembok pembatasmu sendiri. Kompetisi, komunitas, ataupun organisasi banyak yang dapat menjadi shortcut untuk menjadi tempat peleburan di mana latar belakang tidak lebih penting dari sebuah kontribusi nyata.
Ketiga, pengembangan reputasi digital. Personal branding di media sosial menjadi alternatif pembentukan modal sosial. Maksimalkan sesuai selling point yang kamu miliki agar orang lain bisa melihat isi kepalamu dan bagaimana cara kamu mengomunikasikannya.
