Menjaga Diri di Tengah Lingkungan Kerja Toxic

Dr Billy Lazuardi
Universitas Jayabaya Trainer Esas Management, Trainer AHS Management, Podcaster Pengabdi Ilmu.
Konten dari Pengguna
22 Mei 2024 9:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dr Billy Lazuardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
jangan sampai lingkungan toxic merusak kualitas hidupmu (pexels)
zoom-in-whitePerbesar
jangan sampai lingkungan toxic merusak kualitas hidupmu (pexels)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Lingkungan kerja yang sehat dan positif adalah impian setiap karyawan. Namun, kenyataan tidak selalu seindah harapan. Banyak dari kita yang harus bekerja di lingkungan kerja yang toxic—tempat di mana tekanan, konflik, dan perilaku negatif sering kali mendominasi. Lingkungan seperti ini tidak hanya menguras energi, tetapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara menjaga diri di tengah situasi yang kurang kondusif ini.
ADVERTISEMENT
Langkah pertama untuk menjaga diri adalah mengenali tanda-tanda lingkungan kerja toxic. Menurut Dr. Robert Sutton, profesor psikologi dan penulis "The No Asshole Rule," beberapa tanda utama dari lingkungan kerja toxic meliputi tingginya tingkat stres, komunikasi yang buruk, kurangnya penghargaan, dan adanya perilaku intimidasi atau manipulatif. Ketika tanda-tanda ini muncul secara konsisten, kita perlu menyadari bahwa lingkungan tersebut bisa berbahaya bagi kebaikan kita dan mengambil langkah-langkah yang tepat.
Salah satu cara paling efektif untuk melindungi diri adalah dengan menetapkan batasan yang jelas. Jangan ragu untuk mengatakan "tidak" jika ada perintah diluar pekerjaan seperti nongkrong dan merokok di dalam kantor sampai larut malam, ataupun tugas tambahan yang diberikan tidak masuk akal atau tidak adil. Menetapkan batasan membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, menetapkan batasan juga memberikan ruang bagi kita untuk fokus pada prioritas utama dan menghindari beban kerja yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
Fokus pada pekerjaan dan menghindari drama serta konflik di tempat kerja adalah strategi penting lainnya. Lingkungan kerja toxic sering kali dipenuhi dengan gosip dan drama yang tidak produktif. Dengan tetap fokus pada penyelesaian tugas dan pencapaian pribadi, kita bisa menghindari terlibat dalam energi dan dampak negatif tersebut. Menjaga produktivitas dan kinerja yang baik juga membantu kita untuk tetap positif dan termotivasi.
Mencari dukungan dari teman di luar kantor atau memiliki mentor yang tepercaya juga sangat membantu. Berbagi pengalaman dan strategi menghadapi lingkungan kerja toxic dapat memberikan dukungan emosional dan membantu menemukan solusi. Memiliki jaringan luas bisa membuat kita merasa lebih aman dan termotivasi untuk menghadapi tantangan yang ada.
Mengelola stres dengan baik juga merupakan kunci penting dalam menghadapi lingkungan kerja toxic. Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau berolahraga secara teratur dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental kita. Selain itu, jangan ragu untuk mengkomunikasikan masalah kepada atasan atau departemen HR jika situasi di tempat kerja sudah tidak bisa ditoleransi. Mereka mungkin dapat membantu mencari solusi atau memberikan dukungan yang diperlukan.
ADVERTISEMENT
Jika lingkungan kerja toxic terus berlanjut dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan alternatif lain. Mengevaluasi peluang karier di tempat lain bisa menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik kita dalam jangka panjang. Memahami bahwa kita memiliki pilihan dan mengambil langkah proaktif untuk melindungi diri kita adalah hal yang sangat penting. Dengan pendekatan yang tepat, kita bisa tetap menjaga kesehatan mental dan fisik, serta terus berkembang dalam karier meskipun berada di lingkungan yang toxic (Dr. Billy Lazuardi, S.E., M.M.)