Konten dari Pengguna

Kepedulian Sosial sebagai Cermin Moralitas Bangsa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bilqis Tsalits Viera Kirani Hilma Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi: Masyarakat Pondok Syafiurrahman Jember ketika pandemi Covid-19 memberi bantuan sebagai bentuk kepedulian sosial.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi: Masyarakat Pondok Syafiurrahman Jember ketika pandemi Covid-19 memberi bantuan sebagai bentuk kepedulian sosial.

Apa itu kepedulian sosial? Sepenting apakah kepedulian sosial itu?

Kehidupan negara yang makmur tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dilihat dari sejauh mana masyarakatnya memiliki kepedulian sosial. Kepedulian sosial yaitu bentuk empati kita terhadap sesama untuk saling peduli, menolong, dan melindungi tanpa memandang perbedaan. Di era globalisasi dan gaya hidup yang individualistis, nilai kepedulian sosial menjadi semakin penting untuk dipertahankan dan dikembangkan. Ketika kepedulian sosial tumbuh subur di tengah masyarakat, maka dapat dikatakan bangsa tersebut memiliki tingkat moralitas yang tinggi.

Foto: Download Pinterest MC Flits GW 02/Charlie

Lalu, bagaimana wujud kepedulian sosial dalam kehidupan berbangsa?

Kepeduliaan sosial dalam kehidupan berbangsa dapat diwujudkan dengan berbagai cara, diantaranya yaitu memberi bantuan saat terjadi bencana. Ini merupakan sebuah bentuk kepedulian kita kepada sesama manusia yang sedang tertimpa bencana. Ketika suatu daerah sedang dilanda bencana, misalkan seperti banjir atau gempa bumi, maka disini masyarakat berperan dalam memberikan bantuan berupa makanan, pakaian, atau tenaga. Tindakan ini sebagai bentuk dari rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Selain itu, gotong royong antar masyarakat juga merupakan wujud dari kepedulian sosial yang telah menjadi budaya bangsa. Kegiatan gotong royong dapat berupa kegiatan membersihkan lingkungan sekitar, membangun fasilitas umum, atau membantu tetangga yang sedang kesulitan merupakan bentuk kepedulian kita terhadap masyarakat di lingkungan sekitar kita. Budaya ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga mempercepat terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, tentram, aman, sejahtera dan harmonis.

Tak kalah penting, bentuk lain dari kepedulian sosial adalah tidak memiliki sikap diskriminatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diskriminatif memiliki arti perilaku atau perlakuan yang membedakan secara tidak adil atau tidak sama antara orang atau kelompok berdasarkan karakteristik tertentu. Maka agar kita terhindar memiliki sikap diskriminatif kita harus melakukan beberapa perlakuan diantaranya, menghormati perbedaan agama, suku, ras, dan budaya adalah cara untuk menjaga persatuan dalam keberagaman. Sikap toleransi seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran Bersama akan pentingnya hidup berdampingan secara damai dan adil.

Namun demikian, kepedulian sosial juga dihadapkan berbagai tantangan dari segala sisi, diantaranya yaitu sikap individualisme masyarakat yang tinggi. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang semakin modern dan banyaknya tekanan hidup di kota, banyak orang yang secara tidak sadar mulai memusatkan perhatian hanya pada dirinya sendiri. Waktu seolah terlalu sempit untuk sekadar menyapa tetangga, atau bertanya kabar pada orang di sekitar. Semangat gotong royong yang dulu begitu kuat, kini tergantikan oleh dinding-dinding virtual yang membuat kita saling asing di tengah keramaian.

Yang sering dijumpai, ada fenomena yang tampak seperti kepedulian, tapi sejatinya itu adalah empati semu atau sejenis pencitraan. Di era media sosial sekarang ini, mudah bagi seseorang untuk memamerkan aksi sosial mereka seperti membagikan sembako, menyantuni anak yatim, atau turun ke jalan membawa spanduk kebaikan. Namun sayangnya, tak sedikit yang melakukannya hanya demi pencitraan, demi likes dan pujian, bukan karena panggilan hati. So, ketika empati dijadikan konten, kita harus bertanya, apakah itu benar-benar peduli, atau sekadar tampil peduli?

Tak kalah pentingnya lagi, nilai-nilai keagamaan yang semakin luntur juga menjadi penyebab melemahnya kepedulian sosial. Padahal, setiap ajaran agama (apa pun itu) senantiasa menekankan pentingnya cinta kasih, solidaritas, dan perhatian terhadap sesama. Ketika nilai-nilai keagamaan ini diabaikan, manusia akan kehilangan pedoman moral yang membimbingnya untuk berbuat baik, bahkan kepada mereka yang tak dikenalnya.

Kepedulian sosial merupakan salah satu pilar penting dalam membangun kehidupan berbangsa yang damai dan bermartabat. Wujud kepedulian dapat dilihat dari berbagai aksi nyata yang mencerminkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan toleransi. Namun, nilai ini juga harus terus dijaga dan diperkuat di tengah berbagai tantangan seperti individualisme, empati semu, dan menurunnya nilai-nilai keagamaan yang menjadi pedoman moral. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama baik dari individu, keluarga, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga pemerintah untuk menanamkan dan membudayakan kepedulian sosial sebagai cermin moralitas bangsa Indonesia.