Konten dari Pengguna

Cahaya 1.008 Dipa di Mahashivaratri, Kebangkitan Spiritualitas Candi Prambanan

Bima Aditiawan Putra

Bima Aditiawan Putra

Staf Humas PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bima Aditiawan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat dan pengunjung membawa dipa dalam acara Mahashivaratri di Candi Prambanan. Foto oleh Bima Aditiawan Putra
zoom-in-whitePerbesar
Umat dan pengunjung membawa dipa dalam acara Mahashivaratri di Candi Prambanan. Foto oleh Bima Aditiawan Putra

Echa berjalan beriringan dengan ratusan umat dan pengunjung menuruni pelataran Candi Prambanan. Mereka baru saja mengikuti ritual Abhisekam sebagai bagian dari perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan. Upacara pemujaan Dewa Shiva ini menjadi ritual perdana yang diselenggarakan di Indonesia.

Sambil membawa dipa atau pelita, Echa berjalan menuju lapangan Wisnu di area Taman Wisata Candi Prambanan. Di sini, umat dan pengunjung yang membawa 1008 dipa menaruhnya ke dalam susunan konstelasi yang membentuk rupa Shiva dan Ganesha.

Echa, pengunjung dari Jakarta mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini. Dirinya bersyukur bisa turut serta mengikuti penyalaan 1008 Dipa di halaman Candi Prambanan ini. Terlebih, upacara ini bisa diikuti oleh siapapun dari beragam latar belakang agama sehinga bisa merasakan harmoni dalam keberagaman.

"Cinta kasih doa itu memang buat siapa saja, universal gitu. Jadi bersyukur bisa berada di sini, ngerasain energinya, berbagi energinya, di momen ini. Bersyukur dan kami malah berterima kasih sudah ada kesempatan berkunjung ke acara seperti ini," jelasnya.

Mahashivaratri 2026, yang pertama kali diadakan di Indonesia ini menghadirkan penyalaan 1008 dipa (pelita) dan mengumandangkan damaru (alat musik), yang melambangkan persatuan umat dalam doa, menciptakan atmosfer yang mendukung meditasi mendalam demi kedamaian dan kesejahteraan di dunia (Jagadhita).

Umat menyalakan dipa pada perayaan Mahashivaratri di pelataran Candi Prambanan. Foto oleh Bima Aditiawan Putra.

Rangkaian acara ini dimulai dari prosesi kirab budaya sejauh lima kilometer dari Candi Kedulan menuju Candi Prambanan yang menampilkan barisan pembawa benda sakral serta air suci dari 36 provinsi serta pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter. Prosesi berlanjut ke Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dari 36 provinsi dan sembilan candi Nusantara disucikan oleh 35 Sulinggih sebagai simbol pembersihan diri dan harmoni semesta.

Suasana semakin magis tatkala 1.008 dipa atau pelita dinyalakan secara serempak di pelataran candi, diiringi bunyi damaru serta sajian video mapping di Candi Prambanan menjadi sajian visual yang menggugah. Ritual kemudian memasuki inti penyucian melalui upacara Abhisekam yang berlangsung dalam beberapa tahapan hingga fajar menyingsing, menciptakan atmosfer meditasi mendalam demi kedamaian dunia.

Umat berdoa di pelataran Candi Prambanan dalam rangkaian Mahashivaratri. Foto oleh Bima Aditiawan Putra.

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyampaikan pentingnya menjaga harmoni antara pelestarian nilai spiritual dengan penguatan sektor pariwisata. Beliau memaparkan bahwa festival ini adalah bukti nyata bahwa situs warisan dunia bisa berperan ganda sebagai ruang ibadah yang khidmat sekaligus destinasi budaya berkelas internasional.

"Prambanan Shiva Festival merupakan bukti bahwa kami ingin candi ini tidak hanya berdiri kokoh sebagai monumen masa lalu, tetapi benar-benar hidup sebagai warisan budaya yang sakral. Dari sisi pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” jelasnya.

Direktur InJourney Destination Management, Febrina Intan, menambahkan bahwa perhelatan ini merupakan harmonisasi ruang spiritual, dan kekayaan seni budaya. Ruang yang mempertemukan inklusivitas dengan sakralitas, serta modernitas melebur dengan tradisi.

"Keagungan Prambanan kita harapkan hadir secara inklusif, sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk dapat ikut mengagumi, menghargai, dan terinspirasi oleh keagungan situs suci ini. Kita ingin menunjukkan bahwa spiritualitas tidak harus memisahkan, tetapi justru menyatukan," jelasnya.

Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, mengapresiasi Mahashivaratri di Candi Prambanan ini. Menurutnya, Candi Prambanan sebagai kuil Shiva terbaik yang pernah ia lihat di dunia, memiliki potensi besar untuk dikunjungi wisatawan yang berasal dari India.

"Kami akan mendorong agar wisatawan India, yang jumlahnya besar di Bali, juga diarahkan berkunjung ke Yogyakarta termasuk menyaksikan langsung kekayaan warisan budaya seperti Candi Prambanan," jelasnya.

Umat berdoa di pelataran Candi Prambanan pada perayaan Mahashivaratri. Foto oleh Bima Aditiawan Putra.

Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya menegaskan Mahashivaratri adalah momentum untuk membangun manusia Indonesia yang utuh secara lahir, batin, dan sosial. Prosesi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang hampir seribu meter di kirab budaya Mahashivaratri ini menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kebangsaan dalam balutan spiritualitas.

"Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, festival ini diteguhkan sebagai sebuah tonggak baru dalam pengelolaan warisan budaya yang menyatukan spiritualitas, kebudayaan, dan pariwisata dalam satu tarikan napas kebangsaan, terangnya.

Perayaan Mahashivaratri sebagai rangkaian akhir Prambanan Shiva Festival yang digelar pertama kali di Indonesia menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya menjadikan situs bersejarah ini sebagai living monument, sebuah warisan budaya yang terus hidup dan dilestarikan secara turun-temurun.