Merajut Kebersamaan Penyintas Kanker Anak di Candi Borobudur

Staf Humas PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bima Aditiawan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan melewati kanker tidak berhenti ketika pengobatan medis selesai. Bagi penyintas kanker, fase pascapengobatan menjadi bagian penting dari perjalanan untuk membangun kepercayaan diri, menjalin relasi sosial, mengembangkan potensi diri, sekaligus menemukan ruang untuk bertumbuh bersama.
Faris Fadhli Domili (33) masih mengingat jelas saat hidupnya seakan runtuh setelah mengetahui dirinya mengidap kanker tulang atau osteosarkoma pada 2010. Saat itu, usianya baru 17 tahun dan tengah aktif bermain sepak bola.
Awalnya, Faris tidak pernah menyangka benturan yang dialaminya saat bermain sepak bola akan menjadi awal dari perjalanan panjang menghadapi kanker. Setelah menjalani pemeriksaan, ia mendapat kenyataan bahwa terdapat kanker pada tulang kakinya.
“Pertama kali tahu terkena kanker itu tahun 2010, saat saya masih berusia 17 tahun. Waktu itu saya memang sering bermain bola. Ada benturan saat bermain dan kemudian diketahui ada kanker di tulang kaki saya,” tutur Faris.
Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi Faris. Di usia ketika sebagian besar remaja masih menikmati masa muda dan mulai membayangkan masa depan, ia justru harus berhadapan dengan penyakit yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
“Usia saya baru 17 tahun, tiba-tiba dihantam sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya juga tidak pernah tahu seperti apa kanker itu. Tiba-tiba tahu ada kanker di dalam tubuh sendiri, benar-benar membuat saya hancur,” ujarnya.
Saat itu, Faris mengaku sempat kehilangan harapan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana menjalani pengobatan, maupun seperti apa masa depannya setelah divonis kanker.
“Saya hopeless. Tidak tahu ke depan mau melakukan apa. Benar-benar tidak terbayang saat itu,” kata Faris.
Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam hidup Faris. Dari pengalaman sebagai pasien kanker sejak usia remaja, ia belajar menghadapi ketidakpastian dan perlahan membangun kembali harapan untuk melanjutkan kehidupannya.
Salah satu yang memberikan semangat hidupnya adalah bergabung dengan Cancer Buster Community (CBC) di bawah naungan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI).
Ketua Cancer Buster Community Saprita Tahir bercerita komunitas Cancer Child Survivors bertujuan agar para penyintas ini bisa belajar, berbagi menumbuhkan kebersamaan. Salah satu kegiatan dari komunitas ini adalah Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp 2026 bertema “Beyond Survival” yang digelar dari tanggal 17–18 September 2026, di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Ketua Cancer Buster Community Saprita Tahir menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar para penyintas ini bisa belajar budaya di Borobudur dengan lebih dalam dan aku berharap bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.
“Banyak dari mereka yang merasakan banyak tekanan setelah balik. Dengan kita adakan terapi seni seperti ini, mereka jadi lebih relaks, ada dunia lain yang bisa di explore di luar sana,” jelasnya.
Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp merupakan agenda tahunan dari Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) yang kali ini berkolaborasi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) atau InJourney Destination Management melalui program InJourney Community Care. Kegiatan ini mempertemukan 57 peserta penyintas kanker dari Manado, Riau, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jakarta dan lainnya.
Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp 2026 menjadi ruang edukasi, pengembangan diri, serta pembinaan mental dan sosial bagi para penyintas kanker anak. Berbagai kegiatan di dalamnya diarahkan untuk membantu peserta meningkatkan kualitas hidup setelah menyelesaikan rangkaian pengobatan medis.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini menjadi ruang bagi para penyintas untuk membangun persahabatan, memperluas jejaring, bertukar pengalaman dan budaya, serta memberikan dukungan satu sama lain dalam menjalani kehidupan.
Dalam rangkaian kegiatan, peserta diajak mengenal lebih dekat kekayaan warisan budaya yang tumbuh di kawasan Borobudur. Pengalaman itu diperoleh melalui aktivitas budaya di Museum dan Kampung Seni Borobudur. Di Pendopo Kampung Seni Borobudur (KSB), peserta berkesempatan mengenal proses pembuatan batik dan gerabah secara langsung.
Didampingi oleh pelaku seni lokal, mereka mencoba membuat motif batik sekaligus mengolah tanah liat menjadi kerajinan gerabah. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk belajar bahwa tradisi dan keterampilan budaya dapat dikenalkan melalui pengalaman yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan.
Sementara itu, kunjungan ke Museum Borobudur memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih jauh sejarah Borobudur, termasuk berbagai pengetahuan yang melekat pada kawasan cagar budaya tersebut. Peserta tidak hanya diajak melihat koleksi, tetapi juga memahami bagaimana Borobudur menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban dan kebudayaan yang terus diwariskan hingga saat ini.
Rangkaian pengalaman tersebut memberikan cara pandang yang berbeda dalam mengenalkan warisan budaya kepada para peserta. Melalui aktivitas bersama, para peserta memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan tradisi sekaligus mengenal nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Bagi kami, semangat mereka untuk terus melangkah, melewati berbagai tantangan, dan tidak berhenti untuk berkembang merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi. Semangat untuk tetap berdaya dan menjalani kehidupan dengan penuh optimisme menjadi pengingat bagi kami bahwa setiap perjalanan memiliki makna dan kekuatan tersendiri,” jelas Direktur Utama PT Taman Wisata Borobudur Mardijono Nugroho saat membuka agenda di Manohara Borobudur Cultural Center, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026).
Salah satu peserta Sabrina Amalia mengatakan selain kami diberikan kesempatan untuk bertemu dengan sesama survivor lainnya, dirinya juga diberikan kesempatan untuk bisa mengeksplorasi kreativitas yang dimiliki masing-masing peserta.
“Di sini kami disediakan wadah fasilitas untuk mengembangkan kreativitas dan juga mengenal seni budaya lokal yang menjadi sebuah kebanggaan bagi kami untuk melestarikan budaya itu sendiri,” jelasnya.
Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia Rahmi Adi Putra Tahir mengatakan bahwa Cancer Care Community merupakan sebuah komunitas yang mewadahi para survivor kanker anak seluruh Indonesia. Komunitas ini mengajak anggotanya untuk terus belajar berkembang, menemukan potensi diri dan menjalani kehidupan yang bermakna bermakna bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam Child Cancer Survivors Camp 2026 yaitu Recovery Program. Program dirancang untuk penyintas kanker anak agar mereka dapat melalui fase kehidupan yang lebih baik setelah sembuh dari kanker dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.
“Program yang terstruktur untuk Child Cancer Survivors dikombinasi dengan psychosocial support, health education, survivorship knowledge, monitoring dan community engagement,” jelas Rahmi Adi Putra Tahir.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan psikologis melalui kegiatan berbasis edukasi dan pengembangan diri. Para peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari pengetahuan baru, berinteraksi dengan sesama penyintas yang memiliki pengalaman perjuangan serupa, serta membangun kembali kepercayaan diri dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Kolaborasi InJourney Destination Management dan YOAI melalui kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan ruang yang mendukung kualitas hidup masyarakat, termasuk kelompok penyintas kanker anak. Melalui pendekatan yang menggabungkan dukungan sosial, edukasi, pengembangan diri, interaksi budaya, dan pengalaman di destinasi, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta.
