Konten dari Pengguna

Di Balik Lensa: Mengembalikan Marwah Humas yang Sering Salah Kaprah

Bima Prastya Handawi

Bima Prastya Handawi

Humas, Content Writer, Filmmaker

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bima Prastya Handawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Sóc Năng Động: https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografer-yang-memegang-kamera-dslr-di-dalam-ruangan-35558721/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Sóc Năng Động: https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografer-yang-memegang-kamera-dslr-di-dalam-ruangan-35558721/

Pernahkah Anda memperhatikan sosok yang selalu "wira-wiri" sambil membawa kamera di setiap acara?

Entah itu rapat koordinasi di instansi pemerintah, atau berbagai event yang melibatkan pejabat maupun tokoh publik. Sosok ini bergerak gesit, menyusuri sudut ruangan, kadang berjongkok, kadang berjinjit. Di tangannya, kamera atau ponselnya selalu siap siaga. Ia membidik tokoh yang sedang pidato, peserta yang sedang tertawa, hingga pita gunting yang baru saja putus.

Seketika, banyak orang di ruangan itu membatin, "Oh, iya. Itu orang Humas."

Lantas, tugas selesai? Bagi sebagian besar awam, ya. Mereka menganggap peran Hubungan Masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) berhenti di sana, urusan jeprat-jepret, dokumentasi, dan memastikan foto pejabat masuk ke koran atau media sosial.

Prasangka ini berbahaya. Ini bukan soal merendahkan fotografi, karena visual adalah bahasa universal di era sekarang, melainkan tentang betapa dangkalnya kita memaknai profesi yang seharusnya menjadi "nyawa" komunikasi organisasi. Menyamakan Humas dengan fotografer dokumentasi itu sama dangkalnya dengan menyamakan seorang arsitek dengan tukang batu. Sama-sama bekerja di proyek yang sama, tapi satu merancang fondasi dan masa depan, sementara yang lain hanya mengeksekusi fisik.

Kamera Itu Alat, Bukan Tujuan

Mari kita luruskan, memotret memang skill pendukung yang berguna, terutama ketika anggaran terbatas dan serba darurat. Tapi, itu bukan inti.

Jika organisasi hanya butuh foto, mereka bisa menyewa fotografer lepas (freelance). Lalu, mengapa organisasi besar masih mempertahankan divisi Humas? Karena esensi pekerjaan mereka jauh lebih substansif daripada sekadar menekan tombol shutter.

Humas adalah pengelola reputasi. Mereka adalah diplomat di garis depan.

Bayangkan sebuah kapal besar. Jika Humas hanya dianggap sebagai fotografer, ia hanyalah orang yang mengambil gambar kapal agar terlihat gagah di brosur. Padahal seharusnya, Humas adalah navigator yang memastikan kapal tidak menabrak karang, menjaga agar penumpang (publik) tetap percaya pada nahkoda, dan menyiapkan sekoci penyelamat jika badai krisis datang tiba-tiba.

Pekerjaan "Tak Terlihat" yang Menopang Marwah

Di saat orang lain sibuk mengatur kursi dan sound system, otak seorang praktisi Humas seharusnya sudah bekerja keras di ruang rapat perencanaan. Mereka tidak lagi bertanya, "Acara ini fotonya di mana?" melainkan, "Apa pesan kunci yang ingin kita tanamkan ke publik lewat acara ini?"

Tugas mereka merajut strategi. Mulai dari memetakan siapa audiensnya, memilih kanal yang tepat (apakah perlu rilis pers, atau cukup influencer?), hingga memprediksi risiko.

Mereka juga yang merawat "nyawa" organisasi lewat manajemen isu. Ketika ada keluhan viral di media sosial atau kesalahan fatal yang dilakukan oknum, Humas-lah yang berdiri di benteng terdepan. Mereka meracik narasi, meredam amarah publik, dan memulihkan kepercayaan yang retak. Pekerjaan ini tidak bisa difoto, tapi dampaknya bisa mematikan atau menghidupkan sebuah institusi.

Selain itu, ada seni merawat hubungan dengan media. Ini bukan sekadar membagi souvenir saat konferensi pers. Ini tentang membangun kepercayaan jangka panjang dengan jurnalis agar berita yang sampai ke masyarakat objektif dan berimbang, bukan sekadar paid promotion yang berkedok berita.

Bahaya Mentalitas "Seksi Dokumentasi"

Masalah muncul ketika stigma "tukang foto" ini dipercaya bahkan oleh internal organisasi sendiri.

Akibatnya fatal. Humas sering kali baru "diingat" ketika acara sudah H-1, atau bahkan lebih parah, dipanggil saat acara mau mulai. "Mas, tolong fotoin ya."

Padahal, partisipasi Humas seharusnya dimulai sejak konsep acara masih berupa coretan di kertas putih. Mereka perlu dilibatkan untuk memastikan tone acara sesuai dengan citra lembaga, memastikan talking points pimpinan aman, dan memastikan tidak ada blunder protokoler yang bisa jadi bahan tertawaan publik.

Ketika Humas hanya diposisikan sebagai tukang dokumentasi, organisasi kehilangan perisainya. Mereka berjalan tanpa peta, rentan terhadap krisis, dan pesan yang disampaikan sering kali meleset dari sasaran.

Kembali ke Khitah

Jadi, mari kita ubah cara pandang kita.

Bagi rekan-rekan Humas, teruslah asah kepekaan visual dan keterampilan teknis, karena di era digital, konten visual adalah pintu masuk. Tapi jangan lupa, kamera di genggaman Anda hanyalah alat kecil dalam kotak perkakas yang jauh lebih besar.

Dan bagi pimpinan organisasi maupun masyarakat luas, cobalah melihat lebih dalam. Di balik jepretan kamera itu, ada strategi yang dirumuskan, ada reputasi yang dijaga, dan ada jembatan komunikasi yang dibangun dengan hati-hati.

Humas bukan sekadar pencatat momen. Mereka adalah perancang makna di balik setiap momen tersebut.