Kenapa Kita Suka Merasa “Kenal” sama Idola yang Sebenarnya Tak Pernah Kita Temui

Humas, Content Writer, Filmmaker
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bima Prastya Handawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu ngerasa udah "kenal banget" sama artis idola gara-gara sering nonton konten dia, padahal ketemu langsung aja belum pernah? Terus begitu ada satu potongan video yang bikin dia keliatan "sombong," atau satu unggahan viral yang bikin dia dicap "berubah," kita langsung percaya begitu aja. Padahal yang kita lihat cuma dari potongan video seperti Clipper wawancara, IG Story, atau meme yang beredar di media sosial.
Dari potongan-potongan receh itu, otak kita entah kenapa bisa menyusun gambaran orang yang "utuh" lengkap dengan kepribadian, niat, bahkan penilaian moralnya. Walter Lippmann, penulis buku Public Opinion (1922), sebenarnya sudah membahas hal ini sejak seabad lalu, jauh sebelum ada Instagram apalagi TikTok. Gagasan intinya sederhana: manusia jarang bereaksi terhadap kenyataan yang sebenarnya, tapi terhadap "gambaran" tentang kenyataan itu yang sudah kadung terbentuk di kepala. Dan gambaran itu biasanya versi yang disederhanakan banget, semacam label yang langsung nempel begitu ada satu momen kecil yang "cocok" sama label itu. Begitu label itu nempel, kita jadi lebih gampang percaya info baru yang mendukung, dan cuek sama info yang bertentangan.
Kasus Ed Sheeran dan Macklemore baru-baru ini jadi contoh yang pas banget. Selama ini, Ed Sheeran itu dikenal sebagai musisi yang "aman" nggak neko-neko, jauh dari drama politik. Tapi pas Macklemore, yang jadi pembuka konsernya, nyerukan dukungan buat Palestina di atas panggung, sejumlah pemilik stadion katanya kasih ultimatum: kalau Macklemore masih ikut tur, Sheeran nggak boleh manggung di venue mereka. Akhirnya Macklemore dicoret. Tapi beberapa hari kemudian, di konser Philadelphia, Sheeran justru buka suara dan minta maaf ke penonton, dia bilang nggak pernah mau jadi musisi yang vokal soal politik, tapi tetap menyebut situasi di Gaza sebagai bencana yang nggak proporsional.
Momen ini kayak menunjukan bagaimana gampangnya citra "aman dan netral" yang sudah bertahun-tahun dibangun bisa retak begitu aja pas ada tekanan nyata. Publik yang selama ini punya gambaran "Ed Sheeran sebagai musisi damai tanpa drama" tiba-tiba harus menyesuaikan gambaran itu sama kenyataan yang jauh lebih ribet, ada urusan bisnis, tekanan pemilik stadion, dan pertemanan yang harus dikorbankan.
Ini juga sedikit nyambung sama yang ditulis James Grunig dan Todd Hunt di buku Managing Public Relations (1984). Mereka bilang, industri hiburan itu dari dulu memang jagonya main citra satu arah, pokoknya publik dikasih gambar yang sudah dipoles rapi, titik. Nggak heran kalau ada isu yang bener-bener menyentuh nilai orang banyak (kayak isu kemanusiaan), strategi "pokoknya citra harus mulus" ini gampang goyah. Yang akhirnya lebih dipercaya publik justru pas si musisi ngomong langsung, jujur soal dilemanya, bukan cuma lewat rilis pers yang dipoles.
Fenomena "cancel culture" juga sebenarnya soal yang sama. Yang diadili publik itu bukan orangnya, tapi gambaran tentang orang itu yang sudah kadung terbentuk dan begitu gambaran itu jadi, susah banget diubah cuma dengan satu klarifikasi atau satu permintaan maaf.
Jadi lain kali pas melihat idola kena drama atau tiba-tiba jadi "villain" di FYP kita, coba diingat-ingat: yang kita hakimi seringkali bukan orangnya, tapi versi dia yang sudah kadung tersusun di kepala kita sendiri dan versi itu bisa runtuh kapan aja begitu kenyataan yang lebih rumit akhirnya muncul ke permukaan.
