Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
Visi 2045, Negara Gagal, dan Refleksi Al-Insyirah 5-6
27 Februari 2025 10:20 WIB
·
waktu baca 9 menitTulisan dari Bima Satria Anugerah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Bulan Januari lalu umat Muslim baru saja memperingati peristiwa Isra Mi’raj, peristiwa yang diyakini oleh umat Muslim sebagai salah satu dari mukjizat yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra Mi’raj diyakini merupakan suatu bentuk penghiburan dari Allah SWT kala Nabi Muhammad SAW tengah dilanda keterpurukan pasca meninggalnya Istri dan Paman Beliau, Siti Khadijah dan Abu Thalib. Di sisi lain Nabi Muhammad dan para pengikutnya juga terus menerus dipersekusi oleh Kaum Quraisy. Selain peristiwa Isra Mi’raj ini Allah SWT juga menghibur Nabi Muhammad SAW melalui surat Al-Insyirah. Salah satu ayat yang cukup terkenal dari surat Al-Insyirah yaitu ayat 5-6 yang terjemahannya “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Surat Al-Insyirah identik dengan optimisme, bahwa di kala tersulit sekalipun pasti akan ada kemudahan yang datang.
ADVERTISEMENT
Sejatinya setiap pemimpin bangsa ini selalu mengumbar optimisme bahwa negara ini sedang berada di jalur yang tepat, dan proyek paling ambisius terkait hal itu adalah Visi Indonesia Emas 2045, namun apakah optimisme tersebut sesuai dengan realitas saat ini?. Dewasa ini rakyat dihadapkan dengan banyaknya persoalan dalam setiap sendi kehidupan. Perekonomian rakyat yang saat ini terpuruk, ditandai dengan daya beli rendah, PHK merajalela, bergejolaknya harga-harga kebutuhan pokok, hingga potongan-potongan penghasilan yang semakin mencekik (seperti BPJS, Tapera, pajak, dan pungutan liar). Negara yang harusnya hadir untuk masyarakat justru disibukkan oleh hingar bingar dinamika elit politik, kewajiban melindungi kepentingan rakyat pun hanya retorika ketika oligarki dimenangkan, pagar laut di Tangerang menjadi contoh paling sahih. Rakyat juga harus tertunduk lesu ketika penegakan hukum yang menjadi benteng terakhir akan keadilan ikut terbawa arus. Sudah biasa rasanya melihat berita rakyat menjadi korban atau bahkan kambing hitam dari penegakan hukum yang bobrok.
ADVERTISEMENT
Rakyat yang semakin putus asa akhirnya harus bergelut sendiri dengan permasalahan sosial seperti judi online, pinjaman online, kejahatan jalanan, hingga kasus bunuh diri, semua merupakan muara dari himpitan-himpitan hidup yang dirasakan masyarakat. Tak heran bila narasi-narasi pesimisme semakin menggaung, terutama di media sosial. Akhir-akhir ini ramai perbincangan untuk meninggalkan Indonesia dan hidup menetap di negara lain, hastag #KaburAjaDulu di media sosial X memperbincangkan tentang negara-negara tujuan untuk perpindahan kewarganegaraan. Penyebab kehebohan tersebut tidak lain adalah narasi Indonesia menuju negara gagal. Fakta-fakta seperti ketergantungan Indonesia terhadap impor, utang luar negeri yang menggunung, defisit anggaran yang besar, hingga banyaknya investor yang lebih memilih negara tetangga (termasuk Tesla, Nvidia, dan Apple) menjadi alasan kekhawatiran tersebut. Tampaknya cita-cita Indonesia Maju 2045 akan semakin sulit untuk direalisasikan.
ADVERTISEMENT
Sesungguhnya untuk menjadi maju sebuah negara tidak harus selalu sempurna dalam melaksanakan pembangunan. Amerika Serikat misalnya, dalam miniseri America: The Story of US karya Ed Fields dan Daniel Hall, digambarkan sebagai bangsa yang kerap mendapat tantangan namun selalu bangkit. Tantangan yang dihadapi Amerika Serikat cukup beragam di setiap zaman, mulai dari revolusi berdarah melawan Inggris, pro kontra perbudakan yang memicu perang saudara hebat, Perang Dunia, hingga Great Depression 1930. Nyatanya meskipun cobaan yang dialami begitu berat dan bertubi-tubi, pasca Perang Dunia II Amerika Serikat mampu lepas landas menjadi negara maju yang sulit untuk dikejar oleh negara lain. Hal itu tidak lain karena masyarakat Amerika adalah sosok yang ulet, inovatif, dan tidak mudah menyerah.
ADVERTISEMENT
Untuk mewujudkan ambisi Indonesia maju 2045, mau tidak mau kita harus meniru Amerika perihal toughness ini. Kita sebagai orang Indonesia harus bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam membangun bangsa pada saat ini. Bila kita menganggap terlalu jauh menjadikan Amerika sebagai tolok ukur, maka kita hanya perlu berkaca pada diri kita sendiri sebagai orang Indonesia. Dalam perjalanan bangsa ini berapa kali kita dipaksa harus bertahan menghadapi keadaan yang sebenarnya diluar kemampuan kita. Mungkin kita lupa akan hal tersebut sehingga kita merasa tidak mampu menghadapi tantangan besar lainnya.
Kita perlu mengingat ketika Bangsa Indonesia baru saja merdeka, perangkat negara belum juga terbentuk, ada pasukan asing yang mendarat di Bumi Nusantara. Ketika belum genap 5 bulan usia negara ini, ibu kota harus dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta karena intimidasi agresor dianggap mengganggu keberlangsungan negara. Lalu pada 1947 ketika negara belum stabil, kas negara masih menyusu dari donatur, Republik diserang besar-besaran hingga kehilangan sebagian besar wilayahnya pada Agresi Militer I, beruntung ibu kota masih selamat dan negara masih bisa dijalankan. Namun pada 1948 negara sudah tidak dapat diselamatkan, pada Agresi Militer Kedua Ibu Kota Yogyakarta diserang, Presiden ditangkap, dan perangkat negara dilenyapkan. Meskipun begitu sisa-sisa Republik masih melakukan resistensi untuk menunjukkan bahwa negara masih eksis. Entah bagaimana ceritanya tidak sampai setahun setelah agresi militer kedua, Indonesia bak bangkit dari abu, berhasil memaksa Belanda untuk menandatangani pengakuan kedaulatan, tentu berkat kegigihan pejuang dan kehendak Tuhan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Bergeser ke dua dekade kemudian, setelah berhasil melangsungkan revolusi untuk bebas dari penjajahan, kita dengan segala keterbatasan berusaha mengatur negara kita sendiri. Namun seperti anak remaja yang baru tumbuh dewasa dan mencari jati diri, Indonesia masih bergelut dalam upaya membangun bangsa. 20 tahun pasca kemerdekaan dan 16 tahun pasca perang Indonesia belum dapat mencapai cita-cita hasil konsensus bersama, perekonomian masih tertinggal jauh, angka buta huruf mencapai 90 persen, pemberontakan terjadi dimana-mana, hingga akhirnya negara kita terjebak pada persaingan dua blok besar. Meskipun kita selalu mengaku tidak memihak salah satu blok, namun Gerakan 30 September merupakan bukti bahwa kita tidak dapat menghindar dari ekses persaingan kedua blok tersebut. Akibatnya perang saudara hampir terjadi di negara kita, inflasi melambung hingga 600 persen, pergolakan politik tidak terkontrol, hingga rakyat kelaparan. Beruntung berkat langkah yang tepat, meskipun kontroversial, Orde Baru berhasil memulihkan keadaan masyarakat Indonesia dalam waktu singkat.
ADVERTISEMENT
3 Dasawarsa kemudian huru hara kembali terjadi, penghujung 1990-an hingga awal 2000-an menjadi salah satu periode terkelam bagi Bangsa Indonesia. Pada periode itu kebanyakan dari kita pasti hanya mengingat Krisis Moneter 1998 sebagai peristiwa besar, tapi bila kita ingat-ingat kembali pada titik itulah Indonesia mengalami masa tergenting dan berada di bibir disintegrasi.
Pada awalnya tentu Krisis Moneter 1998 yang menjadi pembuka peristiwa-peristiwa lain. Peristiwa kerusuhan-kerusuhan mewarnai krisis saat itu, di Jakarta korban berjatuhan, begitu juga di kota-kota lainnya. Saking besarnya dampak yang ditimbulkan, banyak persoalan yang menyangkut peristiwa tersebut belum juga selesai hingga saat ini, terutama penyelesaian permasalahan HAM.
Selanjutnya, peristiwa-peristiwa lain terjadi, yang entah mempunyai hubungan atau tidak dengan Krisis Moneter 1998. Hampir di semua daerah menjadi zona bahaya. Terkait separatisme misalnya, Indonesia seperti babak belur dihantam tuntutan pelepasan diri dari berbagai daerah.
ADVERTISEMENT
Timor Timur seperti yang kita tahu sendiri sejak 1976 diintegrasikan ke dalam wilayah NKRI, namun sejak saat itu juga persoalan statusnya menjadi pergolakan tersendiri. Timtim tidak pernah 100% damai hingga pada puncaknya pada 1999 dilakukan jajak pendapat yang menghasilkan kenyataan 78% rakyat Timtim menginginkan lepas dari NKRI. Di sekitar tahun 1999 tersebut intensitas pergolakan di Timtim juga semakin meningkat karena adanya perseteruan berdarah antara dua kubu yaitu Pro Integrasi dan Pro Kemerdekaan.
Hampir sama dengan apa yang terjadi di Timtim, Aceh yang juga menginginkan lepas, dijawab oleh Pemerintah Pusat dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) yang sangat berdarah pada masa Orde Baru. Pemberlakuan DOM yang sempat dicabut pasca reformasi dilanjutkan oleh Darurat Militer pada masa Presiden Megawati. Pada waktu itu Aceh sudah sangat dekat dengan pintu keluar NKRI, bahkan di satu titik pernah dihelat sidang umum besar-besaran pada 8 November 1999 terkait referendum yang menurut beberapa versi dihadiri hingga 2 juta massa, atau sama dengan setengah penduduk Aceh (populasi Aceh versi Sensus Penduduk 2000 sebanyak 4 juta jiwa).
ADVERTISEMENT
Selain di Aceh, DOM juga sempat diberlakukan di Papua, karena semenjak Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 Papua juga terus menerus bergejolak. Sama seperti Aceh, DOM Papua atau Irian Jaya pada masa itu akhirnya dicabut pasca tumbangnya Orde Baru. Namun dicabutnya status DOM dan dibukanya kebebasan berpendapat justru semakin menambah deras aspirasi masyarakat Papua untuk merdeka. Puncaknya pada 26 Februari 1999 perwakilan masyarakat Papua yang dipimpin Tom Beanal menyampaikan secara resmi keinginan untuk merdeka kepada Presiden Habibie di Istana Negara.
Maluku juga tidak mau ketinggalan, separatis Republik Maluku Selatan yang selama Orde Baru bisa diredam juga sempat bangkit dengan didirikannya Front Kedaulatan Maluku pada bulan Juni 2000.
Selain separatisme dan peristiwa Krisis Moneter, di seluruh penjuru Nusantara juga dilanda perpecahan horizontal. Kerusuhan yang dilatarbelakangi konflik agama terjadi di beberapa tempat, seperti di Poso pada medio 1998-2001 dan Ambon 1999-2001. Terjadi juga Konflik etnis di Sambas dan Sampit antara Suku Madura dan Suku Dayak. Di Banyuwangi, Jawa Timur juga terjadi pembersihan terhadap orang yang diduga dukun santet.
ADVERTISEMENT
Negara juga harus menghadapi ancaman dari terorisme pada periode sempit tersebut, tercatat di Indonesia terjadi serangan teror yang bertubi-tubi. Puluhan serangan teror yang kebanyakan merupakan peledakan bom terjadi pada tahun 2000 hingga 2005, salah satu yang terkenal yaitu Bom Bali I, Bom Malam Natal, dan Bom JW Marriot.
Melihat sederet cobaan yang dialami bangsa ini pada awal Reformasi, nampaknya hanya keajaiban Tuhan lah yang dapat menolong Indonesia. Namun kenyataannya memang keajaiban Tuhan tersebut terjadi, kita dapat berdiri kokoh sebagai negara yang stabil dalam dua dasawarsa terakhir, tentunya secara utuh tanpa ada disintegrasi bangsa. Kita bisa melihat di kasus yang sama bagaimana nasib negara Yugoslavia, Uni Soviet, dan bahkan Turki Usmani mengalami disintegrasi yang nyata hingga pecah berkeping-keping.
ADVERTISEMENT
Bila saat ini kita merasa pesimis dengan keadaan bangsa, kita wajib ingat bahwa pendahulu-pendahulu kita dengan cobaan yang mendera bertubi-tubi mampu mempertahankan bangsa ini, bahkan dalam keadaan yang mustahil untuk diselamatkan sekalipun. Ternyata Tuhan masih sayang dengan keberagaman Bangsa Indonesia sehingga kita diselamatkan dari perpecahan, karena entah bagaimanapun juga, janji Allah SWT dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6 pasti akan terwujud kepada hamba-Nya yang beriman. Seberapapun sulit masalah yang kita hadapi pasti akan ada jalan yang dimudahkan.
Indonesia maju bisa jadi tidak akan terwujud di 2045, tapi kita tidak akan menjadi negara gagal. Indonesia maju pada akhirnya pasti akan terwujud, entah pada 2055, 2065, atau 2100 sekalipun, karena bangsa ini pasti diberkahi oleh Tuhan. Dengan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, kemudahan senantiasa mengikuti, sejarah telah menyatakan demikian.
ADVERTISEMENT