Konten dari Pengguna

Menuju Regenerative Tourism di Jalur Pendakian Tapak Gerot Gunung Cikuray

B Saskuand

B Saskuand

Pemerhati aktivitas dan wisata dan petualangan

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari B Saskuand tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jalur pendakian Tapak Gerot, Gunung Cikuray. Foto: Maung Ridwan Fauzi.
zoom-in-whitePerbesar
Jalur pendakian Tapak Gerot, Gunung Cikuray. Foto: Maung Ridwan Fauzi.

Selama beberapa dekade, prinsip Leave No Trace (Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak) telah menjadi "kitab suci" bagi para pendaki gunung di seluruh dunia. Konsep ini mengajarkan kita untuk menjadi saksi bisu yang pasif: menikmati keindahan alam tanpa merusaknya. Namun, seiring meroketnya tren pendakian gunung dan semakin besarnya tekanan ekologis pada kawasan dataran tinggi, sekadar "tidak merusak" ternyata tidak lagi cukup.

Gunung-gunung kita membutuhkan lebih dari sekadar pengabaian yang ramah; mereka membutuhkan pemulihan. Di sinilah konsep regenerative tourism (pariwisata regeneratif) hadir sebagai paradigma baru yang mendesak untuk diterapkan.

Berbeda dengan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang berfokus meminimalkan dampak negatif agar kondisi alam tetap statis, regenerative tourism memiliki target yang jauh lebih progresif. Konsep ini bertujuan untuk meninggalkan tempat yang kita kunjungi dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelum kita datang.

Dalam konteks pendakian gunung, orientasinya berubah total. Bukan lagi sekadar “mengambil foto dan meninggalkan jejak kaki”, melainkan merenungkan: “Bagaimana kehadiran saya sebagai pendaki bisa menyembuhkan dan memperkaya ekosistem serta komunitas lokal di gunung ini?”

Mengapa Gunung Membutuhkan Pendekatan Regeneratif?

Gunung sering kali dilihat sebagai simbol keabadian yang kokoh, padahal ekosistem dataran tinggi adalah salah satu yang paling rapuh di bumi. Lonjakan jumlah pendaki dalam beberapa tahun terakhir telah membawa dampak nyata yang mengkhawatirkan:

• Erosi hebat pada jalur pendakian akibat beban injakan ribuan kaki.

• Krisis sampah plastik dan polusi air di sumber-sumber mata air pegunungan.

• Gangguan terhadap satwa liar dan kerusakan vegetasi endemik yang kian masif.

Ketika sebuah gunung dieksploitasi melampaui daya dukungnya (carrying capacity), alam tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri secara alami. Jika kita hanya menerapkan prinsip berkelanjutan yang pasif, kita sebenarnya hanya memperlambat laju kerusakan. Sebaliknya, regenerative tourism membalikkan tren negatif ini dengan melibatkan pendaki, pemandu, operator wisata, dan pengelola jalur pendakian secara aktif dalam proses perbaikan ekosistem.

Mengubah Pola Pikir Pendaki Gunung

Kunci utama dari keberhasilan regenerative tourism terletak pada transformasi pola pikir (mindset). Pendaki tidak bisa lagi memosisikan diri sebagai "konsumen" yang merasa berhak melakukan apa saja setelah membayar tiket masuk jalur pendakian dan mencapai puncak. Mereka harus bertransformasi menjadi "mitra pemulihan" bagi gunung tersebut.

• Sebelum mendaki: Informasi mengenai sensitivitas budaya lokal dan regulasi lingkungan harus dipahami secara mendalam.

• Saat di jalur pendakian: Setiap keputusan kecil adalah kontribusi regeneratif, mulai dari berkomitmen membawa kembali sampah turun, menggunakan sabun ramah lingkungan, hingga menghormati budaya masyarakat setempat.

Aksi Nyata di Jalur Pendakian Tapak Gerot Gunung Cikuray

Menerapkan pariwisata regeneratif bukan berarti menutup total akses wisata, melainkan mengubah cara kita berinteraksi dengan alam. Manajemen pengelolaan jalur pendakian Tapak Gerot di Gunung Cikuray telah mengambil beberapa langkah konkret menuju konsep ini:

1. Restorasi Ekologis Aktif Nyata

Selama beberapa tahun, kawasan di sekitar jalur pendakian Tapak Gerot sempat mengalami deforestasi akibat alih fungsi hutan menjadi ladang. Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat di kaki gunung, terutama saat musim kemarau ketika ketersediaan air menurun drastis karena hilangnya akar pohon yang berfungsi mengikat air tanah.

Melihat tren kunjungan pendaki yang mulai naik, sekelompok masyarakat lokal berinisiatif membuat aturan untuk mencegah kerusakan yang lebih masif. Salah satu langkahnya adalah memfungsikan area bekas ladang menjadi area perkemahan terpusat bernama Pos 3 – Hiur. Pendaki dilarang keras berkemah di pos lain demi mencegah kerusakan pohon dan penyebaran sampah.

Sejak tahun 2018, masyarakat lokal secara kontinu melakukan reboisasi. Ratusan bibit pohon endemik Jawa ditanam, baik secara mandiri maupun lewat ajang Jaring Gunung, sebuah event yang mengajak pendaki menanam pohon sembari berbagi pengalaman tentang konservasi hutan dan budaya lokal.

Perbedaan lokasi Pos 3 setelah reboisasi. Foto: Dokumentasi Basecamp Tapak Gerot.

Penghijauan bukanlah proses instan; ia butuh kesadaran, kemauan, dan disiplin. Hasilnya? Setelah 7 tahun, perubahan signifikan terlihat nyata. Pos 3 yang dulunya lahan terbuka yang gersang dan rentan terpaan angin kencang serta sengatan matahari, kini telah bertransformasi menjadi area perkemahan yang sejuk dan nyaman, dipenuhi pohon-pohon besar yang siap tumbuh hingga belasan tahun ke depan.

2. Sistem Kuota dan Rotasi Jalur

Pascapandemi, tren pendakian mengalami pergeseran besar. Kegiatan seperti trail run dan pendakian tek-tok (langsung turun di hari yang sama) semakin digandrungi, terutama oleh Generasi Z, walau pendakian konvensional beberapa hari (multi-days) tetap ramai peminat.

Perbedaan pola pergerakan ketiga tipe pendaki ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola. Guna mengatasinya, pengelola jalur pendakian Tapak Gerot menerapkan sistem kuota harian serta membedakan jam keberangkatan antara trail runner, pendaki tek-tok, dan pendaki yang berkemah. Pengaturan ini bertujuan untuk membagi beban jalur agar semua pengguna tetap merasa nyaman.

Selain itu, diberlakukan pula kebijakan masa tutup jalur sebanyak 2 hingga 4 kali dalam setahun dengan durasi 1 hingga 5 minggu. Masa tutup ini memberikan waktu bagi alam untuk beristirahat dan memulihkan diri, sekaligus memberikan ruang bagi pengelola untuk melakukan pemeliharaan jalur.

3. Keadilan Ekonomi bagi Komunitas Lokal

Pariwisata regeneratif juga wajib menyentuh aspek kesejahteraan manusia di sekitarnya. Di Tapak Gerot, pengelolaan ojek diatur lewat sistem antrean formal oleh pihak pengelola. Sistem ini berhasil menghapus ketimpangan pendapatan dan menciptakan rasa keadilan di antara sesama pengemudi ojek. Sementara itu, ojek yang dialokasikan untuk keperluan evakuasi mendapatkan upah yang jauh lebih besar, sebanding dengan persyaratan standar kondisi motor dan tanggung jawab besar yang harus mereka pikul.

Jejak-Jejak Pembawa Kehidupan

Gunung telah memberikan segalanya bagi manusia: air bersih, udara segar, keanekaragaman hayati, hingga ruang untuk menyembuhkan jiwa yang penat. Sudah saatnya hubungan sepihak yang ekstraktif ini diubah menjadi hubungan timbal balik yang saling menyembuhkan.

Regenerative tourism dalam wisata pendakian gunung bukanlah sebuah opsi mewah, melainkan sebuah keniscayaan jika kita ingin generasi mendatang masih bisa menikmati kemegahan puncak-puncak gunung di Indonesia. Dengan melangkah melampaui slogan Leave No Trace, mari kita berkomitmen pada prinsip Leave It Better. Mari pastikan setiap jejak kaki yang kita tinggalkan di atas gunung adalah jejak-jejak yang membawa kehidupan, bukan kehancuran.