Silent Survival Skill bagi Pemandu Wisata Gunung

Pemerhati wisata dan aktivitas petualangan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bima S Marioso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabut tebal turun tanpa permisi, menghapus pemandangan jalur setapak di depan mata dalam hitungan menit. Jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang, tetapi langit mendadak temaram seperti magrib. Rintik hujan perlahan mulai berubah menjadi hantaman air yang rapat, diiringi angin kencang yang menusuk tulang.
Sekelompok wisatawan pendaki kantoran yang menyewa jasa pemandu wisata gunung mulai memperlihatkan raut cemas. Di waktu krusial ini, kompetensi sang pemandu wisata gunung sedang diuji oleh realitas. Rombongan dihentikan di tempat yang aman dari terpaan angin, sang pemandu menginstruksikan mereka untuk mengenakan jas hujan serta memasang rain cover pada ransel. Fly sheet lebar segera dipasang untuk melindungi rombongan dari terpaan air hujan secara langsung. Jika diperlukan, kompor disiapkan untuk membuat minuman hangat dan makanan kecil kering diedarkan untuk me-refill kalori.
Bagi wisatawan pendaki, tindakan itu mungkin terlihat seperti pelayanan biasa. Namun di dunia alam bebas, apa yang dilakukan pemandu tersebut adalah manifestasi nyata dari kemampuan yang membedakan antara penunjuk jalan amatir dan pemandu profesional, yaitu survival skill (kemampuan bertahan hidup).
Mitos Aksi Ekstrem vs Realitas Kepemanduan
Ketika mendengar kata survival skill, isi kepala banyak orang sering kali melompat ke tayangan di media-media sosial, seperti aksi membangun tempat perlindungan dengan ranting dan daun, membuat perangkap hewan, mencari sumber air, serta membuat api dengan menggesekkan dua ranting kayu di tengah hutan rimba.
Bagi seorang pemandu wisata gunung profesional, bayangan itu keliru besar. Realitasnya, dalam sebuah perjalanan wisata pendakian gunung yang dikelola dengan prosedural mutu layanan prima dan pariwisata berkelanjutan, kemampuan survival fisik yang ekstrem seperti itu justru sangat jarang digunakan. Mengapa? Karena pemandu yang kompeten sudah pasti menyiapkan peralatan dengan kondisi baik dan lengkap, melewati jalur resmi yang jelas, serta menghitung perbekalan dengan matang.
Lalu, jika jarang digunakan untuk kondisi ekstrem, mengapa survival skill tetap menjadi menu wajib dalam sertifikasi kompetensi pemandu wisata gunung?
Silent Survival Skill
Di sinilah letak rahasia terbesarnya: survival terbaik bagi seorang pemandu wisata gunung adalah kondisi survival di gunung yang berhasil dicegah.
Dalam dunia pemanduan wisata pendakian gunung, ilmu survival tidak melulu soal bagaimana bertindak saat rombongan sudah tersesat, melainkan bagaimana mengarahkan kelompok agar tidak tidak tersesat atau tidak celaka. Ini adalah bentuk survival preventif (pencegahan) yang diaplikasikan pemandu wisata gunung secara diam-diam di sepanjang jalur pendakian.
Saat pemandu meminta tamu memakai jas hujan sebelum hujan menjadi sangat deras, ia sedang mempraktikkan manajemen suhu tubuh. Di gunung yang sudah menjadi destinasi wisata, musuh terbesar bukanlah hewan buas, melainkan hipotermia. Dengan mencegah baju wisatawan pendaki basah kuyup, pemandu telah memotong risiko fatal tersebut sejak awal.
Begitu pula saat pemandu mengatur ritme berjalan tamu, sengaja berjalan lambat namun konstan, serta menjadwalkan minum dan makan makanan kecil di pos-pos peristirahatan. Pemandu sedang mengelola energi dan hidrasi kliennya agar tidak mengalami defisit yang sulit dipulihkan. Defisit kalori dan air dalam tubuh akan memicu bahaya karena akan membuat konsentrasi turun, dehidrasi, kram, atau hal lain yang lebih buruk.
Semua tindakan pencegahan ini adalah survival skill dalam bentuknya yang paling elegan. Tidak dramatis, tetapi menjaga keselamatan dan keamanan kelompok tetap terkendali.
Seni Mencegah Krisis Sebelum Terjadi
SKKNI Nomor 74 Bidang Pemanduan Wisata Gunung yang disahkan oleh Menteri Tenaga Kerja RI pada tahun 2024, memuat banyak komponen terkait kompetensi survival. Kemampuan bertahan hidup (survival) di gunung, baik dalam aspek teknis, antisipasi bahaya, maupun manajemen risiko yang harus dikuasai oleh seorang pemandu, sudah dimuat dengan sangat lengkap. Di dalam dokumen standarisasi kompetensi profesi tersebut, aspek-aspek tersebut diintegrasikan ke dalam unit kompetensi mitigasi bahaya, pengelolaan risiko, keselamatan (K3), serta penanganan keadaan darurat.
Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:
1. Mampu mengidentifikasi bahaya subjektif (dari diri sendiri/wisatawan) dan bahaya objektif (cuaca buruk, longsor, dll.), serta mengenali gejala penyakit-penyakit di gunung sebelum berakibat fatal. Kedua hal tersebut ditunjukkan dalam unit kompetensi Mengidentifikasi Bahaya pada Wisata Gunung dan Mengidentifikasi Penyakit Gunung.
2. Menguasai Teknik Navigasi Darat dan Mengidentifikasi Medan Pendakian Gunung, adalah 2 buah unit kompetensi terkait pengambilan jalur pendakian, mengatur ritme pendakian yang disesuaikan dengan medan, ataupun jika kehilangan arah karena visibilitas menurun karena kabut.
3. Melakukan pengendalian teknis dan administratif untuk meminimalkan potensi kecelakaan atau situasi kritis, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hal ini direpresesntasikan melalui unit kompetensi Mengimplementasikan Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam Pemanduan Wisata Gunung dan Mengelola Risiko Perjalanan Wisata Gunung.
4. Mendirikan Perkemahan dan Mengelola Area Perkemahan dalam Wisata Gunung adalah unit kompetensi terkait pemilihan dan peneglolaan area perkemahan yang aman dari risiko bahaya alam serta mendirikan tempat berlindung yang memadai.
Calon klien telah tahu bahwa mendaki gunung adalah kegiatan berisiko tinggi, tetapi yang mereka butuhkan adalah penjelasan yang rinci dan masuk akal tentang bagaimana perencanaan penanganan keadaan darurat. Mereka tidak akan tertarik membeli produk jasa perjalanan wisata pendakian walaupun sang pemandu mampu mendemonstrasikan membuat api dengan menggesekkan kayu ataupun menjerat hewan untuk dikonsumsi. Oleh karenanya, SKKNI Pemanduan Wisata Gunung membenamkan kemampuan survival sepanjang proses pemanduan wisata gunung sebagai apa yang disebut silent survival.
Walau demikian, alam bebas tetaplah ruang penuh ketidakpastian. Di sinilah nantinya fungsi survival skill bergeser menjadi fungsi kuratif atau penanganan darurat ketika rencana cadangan gagal. Kemampuan membangun tempat berlindung darurat (bivak), teknik navigasi alam dan manual, menemukan sumber air dan makanan, hingga teknik P3K alam bebas tetap harus dikuasai dan siap diimplementasikan.
Kompetensi survival menjadi satu-satunya penentu keselamatan nyawa klien ketika situasi anomali terjadi. Kompetensi ini diwakili oleh beberapa unit kompetensi, seperti Menangani Keadaan Darurat, Melakukan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Wisata Gunung, serta Melakukan Operasi Pencarian dan Pertolongan.
Di samping keterampilan fisik, kemampuan psikologi survival juga menjadi pembeda kelas seorang pemandu. Saat kondisi kritis terjadi, pemandu yang kompeten akan menerapkan prinsip STOP (Sit, Think, Observe, Plan). Ketenangan emosional pemandu dalam mengamati situasi dan mengambil keputusan cepat serta tepat adalah obat penenang untuk mencegah kepanikan masal di antara para wisatawan.
Rumah Adalah Puncak Tertinggi
Membawa wisatawan pendaki mencapai puncak gunung dan berfoto dengan latar awan yang indah memang sebuah pencapaian bagi seorang pemandu wisata gunung. Namun, popularitas tren pendakian saat ini membuat banyak orang awam bisa naik gunung tanpa bekal kesiapan yang layak. Mereka menyerahkan keselamatan hidupnya pada sang pemandu.
Menghadapi realitas ini, survival skill bukan lagi sekadar nilai tambah atau alat untuk gaya-gayaan bagi seorang pemandu. Kompetensi ini adalah bukti tanggung jawab moral, asuransi jiwa berjalan, dan standar tertinggi dari profesionalisme seorang pemandu wisata gunung.
Sebab pada akhirnya, pemandu wisata gunung profesional tahu betul sebuah kebenaran mutlak di alam bebas: puncak tertinggi dari setiap perjalanan bukanlah titik tertinggi secara geografis, melainkan saat ia berhasil membawa setiap peserta yang ia pimpin dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan selamat, sehat, ceria dan segudang cerita di benaknya.
