Konten dari Pengguna

Dari Desa Karduluk, Ukiran Slamet Riyadi Menembus Nusantara

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cerita Karduluk tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Kelompok VI berfoto bersama pengrajin ukir Slamet Riyadi di kediamannya yang dipenuhi berbagai karya ukiran kayu khas Desa Karduluk, Sumenep.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Kelompok VI berfoto bersama pengrajin ukir Slamet Riyadi di kediamannya yang dipenuhi berbagai karya ukiran kayu khas Desa Karduluk, Sumenep.

Di sebuah sudut Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, denting pahat yang menyentuh kayu masih terdengar nyaring. Bagi sebagian orang, suara itu mungkin hanya bunyi pekerjaan sehari-hari. Namun bagi Slamet Riyadi, setiap pahatan adalah cara menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun di desanya.

Desa Karduluk telah lama dikenal sebagai salah satu sentra ukir kayu di Madura. Dari desa inilah lahir berbagai karya seni yang menghiasi rumah, perkantoran, hingga Pendopo Keraton Sumenep. Di balik karya-karya tersebut, nama Slamet Riyadi menjadi salah satu pengrajin yang konsisten mempertahankan kualitas sekaligus identitas ukiran khas Karduluk.

Pria yang telah menekuni seni ukir sejak dekade 1980-an itu mengaku kecintaannya terhadap dunia seni tumbuh sejak masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar.

"Sejak kecil saya sudah suka menggambar dan membuat patung. Patung pertama yang saya buat adalah seorang petani yang sedang memegang sebuah cangkul. Lama-kelamaan kemampuan itu saya terapkan ke dunia ukir yang memang sudah menjadi identitas Desa Karduluk," tuturnya.

Berbekal ketekunan, ia berhasil mengembangkan sentra ukir yang kini mempekerjakan sekitar 17 pengrajin dan juga memiliki mitra kerja sama dengan sentra ukir lainnya yang ada di desa Karduluk. Beragam produk dihasilkan, mulai dari belawong atau tempat keris, hiasan dinding bertema karapan sapi, vas, kotak tisu, tempat air minum kemasan hingga lambang Keraton Sumenep. Sebagian besar karya dibuat berdasarkan pesanan sehingga setiap detail disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Meski teknologi semakin berkembang, Slamet tetap mempertahankan teknik ukir manual. Menurutnya, sentuhan tangan manusia menghadirkan karakter yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin, terutama pada ukiran dengan motif rumit dan detail yang tinggi.

Kualitas itulah yang membawa karya-karyanya melintasi berbagai daerah di Indonesia. Selain dipasarkan di Madura, ukiran Karduluk juga telah dikirim ke Pekalongan, Bandung, Jakarta, Banten, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi. Jaringan pelanggan lama dan berbagai pameran kerajinan menjadi pintu yang memperkenalkan karya mereka ke tingkat nasional.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika menerima pesanan sekitar seratus hiasan dinding bertema karapan sapi dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam rangka yang berhasil diselesaikan hanya dalam waktu enam belas hari.

Tidak hanya masyarakat umum, pelanggan Slamet juga berasal dari berbagai instansi pemerintah. Bahkan, sebagian ukiran yang menghiasi Pendopo Keraton Sumenep merupakan hasil karya dirinya bersama para pengrajin yang ia bina.

"Kalau ingin melihat lebih banyak karya kami, silakan datang ke Pendopo Keraton Sumenep. Sebagian besar ukiran di sana merupakan hasil pekerjaan kami," ujarnya.

Di balik keberhasilan tersebut, tantangan yang kini dihadapi bukan lagi soal pemasaran. Kelangkaan bahan baku menjadi persoalan utama. Beberapa jenis kayu yang dahulu mudah diperoleh kini semakin sulit ditemukan sehingga para pengrajin lebih banyak menggunakan kayu jati, mahoni, dan akasia.

Bagi Slamet, keberlangsungan usaha tidak hanya bergantung pada keterampilan mengukir, tetapi juga pada nilai-nilai yang dipegang dalam bekerja.

"Jujur dan tepat waktu adalah kunci.

Ketika orang percaya kepada kita, rezeki akan datang dengan sendirinya," pesannya.

Menariknya, ia tidak terlalu mengkhawatirkan regenerasi pengrajin. Menurutnya, anak-anak di Karduluk tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia ukir.

"Alakoh sambil ajhelen," ujarnya dalam bahasa Madura, menggambarkan bahwa sejak kecil anak-anak sudah terbiasa melihat proses mengukir sehingga keterampilan itu tumbuh secara alami.

Kisah Slamet Riyadi inilah yang menjadi perhatian Mahasiswa Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan Kelompok VI saat melakukan pemetaan potensi unggulan Desa Karduluk. Melalui dialog langsung, mahasiswa mendokumentasikan sejarah, proses produksi, hingga peluang pengembangan promosi digital bagi sentra ukir tersebut.

Upaya ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi juga menjadi langkah memperkenalkan Desa Karduluk kepada khalayak yang lebih luas. Di tengah arus modernisasi, kisah para pengrajin seperti Slamet Riyadi membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup ketika diwariskan dengan ketekunan, dijaga dengan kejujuran, dan diperkenalkan melalui cara-cara baru yang mengikuti perkembangan zaman.