Dinamika Mahasiswa: Ketika Perebutan Kekuasaan Mengalahkan Idealisme

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kompleksitas persoalan bangsa yang menuntut solusi kritis, dunia kemahasiswaan justru terjebak dalam pusaran konflik internal yang memprihatinkan. Alih-alih menjadi agen perubahan, sebagian mahasiswa kini sibuk mengkonsolidasikan energi untuk perebutan jabatan organisasi, saling serang di media sosial, dan memelihara permusuhan horizontal. Ironi ini tidak hanya menggerus nilai-nilai intelektualitas kampus, tetapi juga mengalihkan fokus dari peran strategis mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat.

Wajah Baru Konflik Kampus: Perebutan Tahta dan Propaganda Digital
"Political Ambition" Berkedok Aktivisme: Obsesi merebut jabatan BEM, Senat, atau kepanitiaan acara besar (POMNAS, Pesta Rakyat, dll) telah berubah menjadi pertarungan tak sehat. Perebutan ini seringkali diwarnai politik identitas kelompok (Cipayung Plus vs non-Cipayung) dan transaksi dukungan pragmatis.
Kritik Tanpa Wajah (Faceless Criticism): Maraknya akun anonim atau tanpa nama di media sosial yang secara sistematis "menggoreng" kesalahan pemimpin mahasiswa dengan narasi provokatif, tanpa memberi ruang klarifikasi.
Propaganda dan Ujaran Kebencian: Sosial media menjadi ajang kampanye hitam (black campaign), penyebaran misinformasi, hingga ujaran kebencian (hate speech) antar kelompok mahasiswa. Kritik substansif tergusur oleh serangan personal dan pembentukan opini negatif.
Akar Masalah: Mengapa Konflik Horizontal Menguat?
Krisis Kepemimpinan Ideologis: Minimnya pemahaman ideologis membuat orientasi perjuangan bergeser dari "perubahan sistemik" ke "pencapaian posisi".
Budaya Instan dan Hedonisme Kampus: Hasrat meraih popularitas, privilege jabatan, dan fasilitas organisasi lebih menarik dibanding kerja-kerja kerelawanan.
Efek Negatif Ruang Digital: Anonimitas media sosial menghilangkan etika diskusi. Viralitas dan engagement lebih dihargai daripada kedalaman analisis.
Polarisasi Kelompok (Sektarian): Loyalitas berlebihan pada kelompok/faksi (Cipayung Plus vs lain) memicu sikap "kita vs mereka", menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan "lawan".
Lemahnya Mediasi Konflik: Tidak adanya mekanisme resolusi konflik yang independen di tingkat universitas atau antar-organisasi.
Dampak yang Terabaikan: Hilangnya Ruh Perjuangan Mahasiswa
Hal tersebut menciptakan sebuah konsekuensi negatif yang diantara lain adalah:
Pengabaian Isu Strategis: Isu pendidikan murah, HAM, lingkungan, dan anti-korupsi terpinggirkan oleh "drama kampus".
Degradasi Nilai Kebersamaan: Solidaritas mahasiswa sebagai kekuatan moral terkikis oleh saling curiga dan permusuhan.
Kehilangan Kepercayaan Publik: Masyarakat mulai memandang sinis gerakan mahasiswa yang dianggap hipokrit dan tidak relevan.
Regenerasi yang Rusak: Kaderisasi organisasi tercemar oleh praktik perebutan kekuasaan, bukan penanaman nilai.
Refleksi Bersama: Menemukan Kembali Kompas Gerakan Mahasiswa
Mungkin hal hal diatas hanya terjadi di sebagian kampus, atau di sebagian daerah. Akan tetapi tidak bisa dihiraukan dan harus menjadi perhatian bersama untuk merubah atau merefleksikan kembali arah gerak mahasiswa di era sekarang ini. Maka dari itu marilah kembalikan bersama semangat dan ruh pergerakan dengan cara, yaitu:
Revolusi Mental Organisasi: Menegakkan sistem meritokrasi dan transparansi dalam seleksi kepemimpinan. Membuat kode etik bermedia sosial untuk untuk seluruh pengurus organisasi mahasiswa.
Pendidikan Politik Kritis: Kampus/organisasi perlu mengadakan pelatihan kepemimpinan berbasis nilai, etika digital, dan resolusi konflik.
Membangun Kultur Dialog: Membiasakan forum terbuka untuk kritik konstruktif (face-to-face), bukan melalui "bocoran" anonim. Selain itu juga membentuk dewan mediasi konflik independen antar-organisasi.
Reorientasi Perjuangan: Konsentrasi pada isu-isu substantif (UU Pendidikan, Kesejahteraan Rakyat, Demokrasi) sebagai pemersatu. Melakukan kolaborasi lintas kelompok untuk proyek kerakyatan (pendampingan masyarakat, riset kebijakan).
Konflik horizontal mahasiswa bukan sekadar persaingan wajar, melainkan gangguan mematikan bagi denyut nalar kritis kampus. Saat energi terkuras untuk saling menjegal, kita telah mengkhianati amanat sejarah sebagai penyambung aspirasi rakyat. Sudah waktunya mahasiswa mengubur ego sektarian, menghentikan perang media sosial, dan kembali ke meja perjuangan bersama. Sebab, di luar tembok kampus, rakyat menunggu kontribusi nyata. Bukan drama perebutan tahta yang hanya meninggalkan jejak luka di tubuh pergerakan itu sendiri.
