Doxxing dan Konflik Horizontal: Ketika Kritik Mahasiswa Berubah Menjadi Cacian

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lingkungan kampus sejatinya adalah miniatur demokrasi yang semestinya menjadi ruang aman bagi tumbuhnya pemikiran kritis, inovasi, dan kolaborasi. Sebagai agent of change dan calon pemimpin bangsa, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pendapat, memberikan kritik, dan berdebat secara sehat untuk membangun kegiatan yang lebih baik. Namun, belakangan ini, fenomena yang justru kontra-produktif mulai marak: doxxing yang dilakukan oleh akun-akun anonim Instagram yang mengincar individu dalam organisasi atau kepanitiaan.

Apa itu doxxing? Doxxing (berasal dari kata "dropping documents") adalah tindakan membongkar dan menyebarkan informasi pribadi, keburukan atau kekurangan seseorang ke ranah publik tanpa persetujuan, dengan maksud mengintimidasi, meneror, atau membalas dendam.
Aksi ini seringkali dibungkus dengan dalih "kritik". Namun, yang tersaji bukanlah evaluasi terhadap substansi program, melainkan serangan terhadap karakter pribadi, perkataan masa lalu yang diambil dari konteksnya, dan upaya sistematis untuk menjelek-jelekkan individu di mata publik. Alih-alih membangun, praktik ini justru melahirkan konflik horizontal yang dalam dan merusak sesama mahasiswa.
Dari Kritik Membangun menjadi Cacian Merusak
Tidak dapat dimungkiri, setiap kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa pasti memiliki celah untuk dikritik. Mulai dari masalah teknis, konsep, hingga kesan eksklusivitas. Kritik yang sehat disampaikan dengan:
Transparan Identitas: Penyampai kritik berani menanggung konsekuensi dari opininya agar dapat dipertanggung jawabkan.
Berbasis Substansi: Fokus pada masalah, bukan pada pelaku.
Konstruktif: Menawarkan solusi atau alternatif pemecahan masalah. Bukan justru mencaci-maki secara subjektif.
Yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kritik telah bergeser menjadi:
Serangan Anonim: Pelaku bersembunyi di balik akun tanpa wajah, lepas dari tanggung jawab.
Ad Hominem: Menyerang karakter pribadi, latar belakang, atau kehidupan pribadi individu ketimbang membahas programnya.
Tujuan Menghancurkan: Motifnya bukan perbaikan, melainkan balas dendam, menjatuhkan mental, dan merusak reputasi.
Dampak yang Merugikan Semua Pihak
Praktik doxxing dan kritik tidak sehat ini ibarat penyakit yang menggerogoti dari dalam. Dampaknya sangat luas:
Trauma Psikologis bagi Korban: Menjadi target doxxing adalah pengalaman yang menakutkan. Korban bisa mengalami kecemasan, stres, paranoia, dan bahkan depresi. Prestasi akademis dan kehidupan sosial mereka terganggu.
Memecah Belah Solidaritas: Konflik horizontal sesama mahasiswa melemahkan posisi tawar dan kekuatan kolektif. Energi yang seharusnya digunakan untuk melawan kebijakan kampus yang tidak adil atau isu nasional, justru habis untuk saling serang internal.
Jejak Digital yang Abadi: Informasi yang tersebar di internet akan sulit dihapus. Jejak digital buruk ini tidak hanya berdampak hari ini, tetapi bisa menghantui korban dan pelaku di masa depan, seperti saat melamar pekerjaan atau terjun ke masyarakat.
Mematikan Inovasi dan Semangat Berorganisasi: Siapa lagi yang berani menjadi panitia atau mengambil peran kepemimpinan jika imbalannya adalah perburuan identitas dan cacian? Iklim seperti ini akan mematikan semangat berorganisasi dan akhirnya menurunkan kualitas kegiatan kemahasiswaan itu sendiri.
Mahasiswa Sebagai Calon Pemimpin: Sudah Saatnya Berbenah
Sudah waktunya kita kembali merefleksikan nilai-nilai intelektual dan moral sebagai mahasiswa. Berdebat dan mengkritik adalah hal yang wajar, tetapi harus dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas.
Kritik dengan Identitas Diri: Beranilah menyampaikan pendapat dengan menunjukkan jati diri. Ini menunjukkan keseriusan dan kesiapan untuk bertanggung jawab atas ucapan, serta membuka ruang dialog yang setara.
Fokus pada Masalah, Bukan Orangnya: Soroti kebijakan yang tidak inklusif, sistem pendaftaran yang berbelit, atau alokasi dana yang tidak transparan. Jangan serahkan panitianya yang mungkin juga telah bekerja keras dengan sumber daya terbatas.
Gunakan Jalur yang Tersedia: Setiap organisasi memiliki mekanisme internal untuk evaluasi. Gunakanlah forum resmi, rapat pleno, atau secara langsung mendatangi pihak terkait untuk menyampaikan masukan.
Jaga Jejak Digital untuk Hal yang Positif: Ingat, dunia maya adalah ruang publik. Isilah dengan konten-konten yang membangun, diskusi yang produktif, dan karya-karya yang inspiratif. Jejak digital adalah cerminan diri kita.
Kesimpulan
Doxxing dan penyebaran kebencian oleh akun anonim bukanlah kritik, melainkan bentuk pengecutian digital (digital cowardice) yang justru menunjukkan ketidakdewasaan berpikir. Tindakan ini merendahkan martabat kita sebagai kaum intelektual yang seharusnya mampu menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang beradab.
Mari kita hentikan konflik horizontal yang tidak perlu. Kembalikan semangat kritik yang membangun, transparan, dan berorientasi pada solusi. Karena masa depan bangsa ini ditentukan oleh bagaimana kita, para mahasiswa, berlatih berdemokrasi dan memimpin hari ini. Jangan biarkan jejak digital kita diwarnai oleh aksi-aksi yang justru akan kita sesali di kemudian hari.
