Jati Diri Seorang Mahasiswa: Perintis Revolusi atau Pewaris Kapitalis

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gelora intelektual pernah menjadi nyawa gerakan mahasiswa Indonesia. Pemikiran kritis, debat ideologis, dan keberanian menantang kemapanan dan melahirkan agen perubahan. Kini, di tengah gemerlap kampus berfasilitas modern, gaungnya meredup. Apakah mahasiswa sekarang mengalami krisis intelektualitas? Artikel ini merupakan sebuah usaha dalam menguji gejala, akar masalah, dan implikasi dari kegelisahan yang mengancam jatidiri akademis kaum terdidik.

Gejala Permukaan: Hilangnya Denyut Pemikiran Kritis
Beberapa fenomena mencolok kian menguatkan tesis "krisis intelektualitas":
Kematian Diskusi Substansial: Ruang diskusi kampus kerap didominasi obrolan pragmatis, seperti beasiswa, magang, IPK, atau bahkan gosip selebritas. Debat mendalam tentang filsafat, kebijakan publik, atau ketimpangan global menjadi langka.
Kepatuhan Akademik tanpa Sikap Kritis: Mahasiswa cenderung mengejar nilai tinggi melalui hafalan dan panduan dosen, tanpa keberanian mengkritik literatur usang atau kurikulum yang tak relevan.
Minimnya Literasi Kompleks: Rendahnya minat baca buku teks berat, jurnal internasional, atau teori sosial-kritis. Pemahaman isu sering terbatas pada caption media sosial atau konten viral.
Dominasi Skill-Based Learning: Kampus dan mahasiswa terjebak dalam logika pasar, seringkali berfokus pada sertifikasi teknis (data analyst, digital marketing) hingga mengabaikan penguatan fondasi humaniora dan nalar etis.
Akar Krisis: Ketika Kampus Berubah Menjadi Pabrik Tenaga Kerja
Krisis ini bukan sekadar kemalasan individu, melainkan akibat struktur pendidikan tinggi yang terdistorsi:
Korporatisasi Pendidikan: Universitas berubah menjadi perusahaan jasa pendidikan. Kurikulum dirancang untuk memenuhi permintaan industri, bukan membangun kapasitas analitis. Akreditasi diukur dari tingkat penyerapan lulusan di pasar kerja, bukan kualitas pemikiran mereka.
Komodifikasi Ilmu Pengetahuan: Pengetahuan dinilai berdasarkan nilai ekonomi (apakah menghasilkan paten atau startup?), bukan kegunaan sosial. Riset didanai jika berpotensi profit, bukan menjawab masalah rakyat.
Pedagogi Pasif: Metode kuliah one-way lecture masih mendominasi. Ruang untuk dialektika, eksperimen pemikiran, atau pembelajaran berbasis masalah (PBL) terbatas.
Beban Ekonomi dan Mental: Tekanan biaya hidup memaksa mahasiswa bekerja paruh waktu, menyisakan sedikit energi untuk eksplorasi intelektual. Kecemasan akan masa depan mengalihkan fokus dari "belajar untuk memahami" menjadi "belajar untuk lulus cepat dan kerja".
Distraksi Digital: Banjir informasi instan dan algoritma media sosial mempromosikan konten ringan, memangkas daya konsentrasi untuk teks kompleks.
Dikotomi Palsu: Revolusioner vs Penerus Kapitalis?
Wacana kerap menyederhanakan menjadi dua kutub:
Pendobrak Revolusi: Romantisme mahasiswa 1966/1998 yang membaca Marx, Soekarno, atau Al-Ghazali lalu turun menggulingkan rezim.
Penerus Kapitalis: Mahasiswa kini yang fokus pada karir, mengejar gaya hidup kelas menengah, dan mengukuhkan sistem ekonomi yang timpang.
Namun, realitanya lebih kompleks:
Bukan sekadar pilihan moral: Menjadi "penerus kapitalis" seringkali adalah strategi bertahan hidup di sistem yang tak memberi ruang alternatif. Mengikuti perkembangan dan berusaha survive di dalamnyabukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai sebuah "kesalahan"
Potensi Sintesis: Mahasiswa bisa menguasai keterampilan teknis sambil menjadi kritis, contohnya: insinyur yang mendesain teknologi ramah lingkungan, atau dokter yang advokasi sistem kesehatan inklusif.
Keterbatasan Ruang Gerak: Kampus yang dikorporatisasi membatasi ruang ekspresi pemikiran radikal. Kritik terhadap sistem bisa berujung sanksi akademis atau pemutusan beasiswa.
Implikasi: Ketika Kampus Kehilangan Ruhnya
Ketika kampus kehilangan ruhnya sebagai ruang pembentukan intelektual dan nurani sosial, dampaknya merambat jauh melampaui tembok akademik. Salah satu implikasi paling nyata adalah kemiskinan wacana publik. Minimnya calon pemimpin dengan kedalaman analisis dan keberanian moral menyebabkan perdebatan kebijakan nasional didominasi oleh retorika populisme dangkal dan hoaks yang mudah viral, bukan oleh gagasan yang berbasis data dan nilai. Kampus yang seharusnya menjadi inkubator pemikiran kritis justru melahirkan lulusan yang lebih mahir menghafal daripada menganalisis, sehingga stagnasi inovasi sosial pun tak terhindarkan. Masalah-masalah besar bangsa seperti kemiskinan, korupsi, dan degradasi lingkungan membutuhkan solusi yang orisinal dan berani, bukan jawaban textbook yang steril dari konteks.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ketimpangan ekonomi-politik yang semakin berjarak justru tidak menjadi sebuah tantangan berarti dari kalangan terdidik yang sedari dulu diharapkan menjadi penyadar dan penggerak perubahan. Ketika kaum intelektual diam atau terjebak dalam kenyamanan sistem, legitimasi atas ketimpangan itu pun semakin kokoh. Dalam lanskap ini, profesi pun mengalami dehumanisasi. Lulusan perguruan tinggi menjadi operator teknis yang menjalankan sistem tanpa mempertanyakan dampak etisnya terhadap manusia dan lingkungan. Mereka bekerja efisien, tetapi kehilangan empati dan visi. Maka, krisis intelektualitas bukan hanya soal kampus yang sunyi dari debat gagasan, melainkan juga tentang bangsa yang kehilangan kompas moral dan arah perubahan.
Jalan Keluar: Menemukan Kembali Jiwa Akademis
Mengembalikan ruh intelektualitas membutuhkan terobosan struktural dan kultural seperti:
Revolusi Sistem Pendidikan:
Ganti kuliah monolog dengan diskusi Sokrates, simulasi debat kebijakan, atau proyek penelitian kolaboratif berbasis masalah lokal.
Sertakan filsafat ilmu, etika profesi, dan pemikiran kritis sebagai mata kuliah wajib di semua jurusan.
Kurikulum yang Membebaskan:
Beri ruang untuk elective courses lintas disiplin (sastra untuk insinyur, ekonomi politik untuk dokter).
Dorong riset independen mahasiswa dengan pendanaan khusus untuk tema-tema sosial.
Membangun Ekosistem Pemikiran:
Hidupkan kembali forum diskusi, klub buku, dan jurnal kampus yang otonom dari birokrasi.
Undang pemikir kritis, aktivis, dan korban ketidakadilan sebagai pembicara rutin.
Gerakan Literasi Kompleks:
Kampanye "100 Buku Wajib Sebelum Wisuda" dengan konten-konten akademis bermutu.
Manfaatkan teknologi untuk platform diskusi digital serius (bukan sekadar grup chat tugas).
Kembali ke Tujuan Awal Akademis
Krisis intelektualitas mahasiswa adalah cermin kegagalan sistem pendidikan tinggi memaknai ulang esensi "menjadi terdidik". Mahasiswa tak perlu memilih antara menjadi pendobrak revolusi atau penerus kapitalis. Mereka bisa—dan harus—menjadi intelektual organi yang mengakar pada realitas rakyat, menguasai pengetahuan teknis terkini, sekaligus memiliki keberanian membongkar ketidakadilan sistemik. Tugas kita adalah mengembalikan kampus sebagai benteng terakhir pemikiran bebas, tempat mahasiswa tidak hanya dilatih menjadi pekerja, tapi juga penjaga nurani peradaban. Pada gairah intelektual inilah masa depan bangsa yang berdaulat, adil, dan bermartabat ditentukan.
