Krisis Gerakan Mahasiswa: Romantisme Masa Lalu atau Realitas Kontemporer?

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gema "revolusi kampus" 1998 masih bergaung dalam memori kolektif bangsa Indonesia. Gambaran mahasiswa turun ke jalan, berorasi berapi-api, menjadi ujung tombak perubahan sosial dan politik, membentuk citra heroik gerakan mahasiswa Indonesia. Namun, dua dekade lebih pasca-reformasi, wajah gerakan mahasiswa terasa berbeda. Suara-suara kritis bertanya: Apakah gerakan mahasiswa Indonesia sedang mengalami krisis? Artikel ini berusaha menyelami kompleksitas pertanyaan tersebut, menelusuri gejala, akar masalah, dan implikasi dari fenomena yang kerap disebut "krisis gerakan mahasiswa".

Gejala yang Terlihat: Menipisnya Massa, Menguapnya Pengaruh?
Beberapa fenomena mencolok dapat menjadi dasar diskusi tentang krisis ini:
Penurunan Partisipasi Massa: Aksi-aksi mahasiswa yang dahulu mampu mengerahkan puluhan ribu massa kini seringkali hanya diikuti ratusan, bahkan puluhan mahasiswa dari kampus yang sama. Mobilisasi besar-besaran menjadi sebuah fenomena langka untuk aksi mahasiswa.
Fragmentasi Isu dan Kegiatan: Gerakan cenderung terpecah-pecah ke dalam isu-isu spesifik (lingkungan kampus, beasiswa, isu kelompok tertentu) tanpa narasi besar yang menyatukan. Aksi sering bersifat reaktif dan sporadis, bukan strategis dan berkelanjutan.
Melemahnya Pengaruh Sosial-Politik: Suara mahasiswa dirasakan kurang didengar atau dianggap tidak signifikan lagi oleh penguasa dan masyarakat luas dibandingkan era sebelumnya. Mahasiswa seringkali menggunakan diksi "gerakan rakyat" tanpa melakukan konsolidasi dan survey terhadap masyarakat yang kemudian menciptakan stigma bahwasannya mahasiswa adalah kelompok eksklusif. Penurunan kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan atau menggerakkan opini publik tampak semakin menyusut.
Perubahan Bentuk Aktivisme: Aktivisme bergeser ke ranah daring (online) yang berupa petisi, kampanye media sosial, webinar. Meskipun memiliki jangkauan luas, bentuk ini sering dianggap kurang memiliki "taring" atau dampak langsung dibanding aksi fisik dan pendudukan gedung secara simbolis.
Mengurai Akar Krisis: Lebih Dari Sekadar Malas Bergerak
Menyebut krisis semata-mata karena "mahasiswa sekarang malas" adalah simplifikasi berbahaya. Ada faktor-faktor struktural dan kontekstual yang kompleks, seperti:
Transformasi Sosio-Ekonomi Mahasiswa: Biaya hidup dan kuliah yang semakin tinggi menuntut banyak mahasiswa bekerja paruh waktu. Prioritas bertahan hidup dan menyelesaikan studi seringkali mengalahkan aktivisme. Mahasiswa berasal dari latar belakang lebih beragam, dengan aspirasi dan tekanan ekonomi yang berbeda-beda.
Distrupsi Teknologi dan Ruang Publik Baru: Media sosial menjadi ruang publik baru. Ekspresi politik dan kritik sosial banyak tersalurkan di sini, mengurangi kebutuhan (atau keinginan) untuk turun ke jalan secara fisik. Namun, aktivisme daring juga rentan terhadap "slacktivism" (aktivisme malas) dan filter bubble.
Represi dan Kriminalisasi yang Lebih Halus: Meski berbeda dari era Orde Baru, tekanan terhadap gerakan mahasiswa tetap ada dalam bentuk yang lebih halus: stigmatisasi, pengawasan kampus, pembatasan izin aksi, hingga potensi kriminalisasi melalui pasal-pasal seperti UU ITE atau Penghinaan. Ini menciptakan ketakutan dan kalkulasi risiko.
Korporatisasi Pendidikan Tinggi: Kampus semakin berorientasi pada pasar, ranking, dan efisiensi. Logika korporasi ini sering berbenturan dengan semangat kritis dan ruang otonom bagi gerakan mahasiswa. Birokrasi kampus bisa menjadi penghalang bagi aktivisme radikal.
Krisis Identitas dan Narasi Bersama: Pasca-reformasi, musuh bersama yang jelas (rezim otoriter) telah hilang. Tantangan yang dihadapi sekarang lebih kompleks, sistemik, dan multidimensi (kapitalisme global, ketimpangan, degradasi lingkungan, disinformasi). Sulit menyatukan mahasiswa di bawah satu panji perjuangan tunggal.
Kompetisi Perhatian dan Hedonisme Kampus: Budaya konsumerisme dan gaya hidup hedonis semakin kuat di kampus. Tawaran karir, prestise, dan kesenangan instan seringkali lebih menarik daripada perjuangan panjang dan penuh risiko di jalanan.
Dampak dan Implikasi: Hanya untuk Kenangan?
Krisis gerakan mahasiswa bukan sekadar masalah internal kampus. Ia memiliki implikasi luas bagi sistem pendidikan Indonesia, hingga kondisi demokrasi bangsa.
Melemahnya Fungsi Kontrol Sosial: Mahasiswa tradisional menjadi "penyeimbang" kekuasaan. Melemahnya gerakan berarti berkurangnya satu pilar penting pengawasan terhadap pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Minimnya Kaderisasi Pemimpin Kritis: Kampus adalah tempat kaderisasi pemimpin bangsa. Jika ruang untuk berorganisasi, berdebat, dan memperjuangkan nilai menyempit, kualitas dan keberanian calon pemimpin masa depan bisa terancam.
Dominasi Wacana oleh Kekuasaan dan Pasar: Ruang kosong yang ditinggalkan gerakan mahasiswa yang melemah dapat dengan mudah diisi oleh narasi dominan dari penguasa politik atau kekuatan pasar, tanpa kritik yang cukup mendalam dan massif.
Menatap ke Depan: Romantisme vs Rekonstruksi
Menyebut situasi saat ini sebagai "krisis" bukan berarti gerakan mahasiswa mati. Ia sedang berubah, beradaptasi, dan mungkin mencari bentuk baru yang relevan dengan zaman. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana mengembalikan romantisme 1998, tetapi:
Bentuk Aktivisme Macam Apa yang Efektif di Era Digital dan Politik Kontemporer?
Bagaimana Membangun Narasi Bersama yang Mengakomodasi Keragaman dan Kompleksitas Masalah Zaman Now?
Bagaimana Menciptakan Ruang Aman namun Kritis di Tengah Korporatisasi Kampus?
Bagaimana Menghubungkan Isu Kampus yang Spesifik dengan Isu Nasional yang Lebih Luas?
Krisis gerakan mahasiswa adalah cermin dari transformasi masyarakat Indonesia yang lebih luas. Ia menuntut refleksi mendalam, bukan sekadar nostalgia. Mengakui tantangan dan perubahan bukanlah bentuk kekalahan, melainkan langkah pertama menuju rekonstruksi gerakan yang lebih adaptif, cerdas, dan relevan. Gerakan mahasiswa mungkin tidak lagi memenuhi jalan-jalan utama ibukota dengan puluhan ribu massa, tetapi pertanyaannya adalah: Apakah ia masih mampu menemukan cara-cara baru yang efektif untuk menyuarakan kebenaran, menantang ketidakadilan, dan menjadi "hati nurani" bangsa di tengah kompleksitas yang terjadi? Jawabannya masih terbuka, dan perjalanan mencari bentuk baru inilah yang menjadi dinamika kontemporer yang menarik untuk terus dipelajari.
