Psikologi Kapitalisme: Ketika Pasar Membentuk Pikiran dan Hati

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika kita membicarakan kapitalisme, pembahasan biasanya berkisar pada angka pertumbuhan ekonomi, indeks pasar saham, atau produk domestik bruto. Jarang sekali kita berhenti dan bertanya: bagaimana sistem ekonomi ini membentuk jiwa, pola pikir, dan cara kita merasakan kehidupan?
Dalam beberapa dekade terakhir, apa yang kita alami bukan sekadar ekspansi pasar, melainkan transformasi psikologis yang mendalam. Kapitalisme modern telah berevolusi dari sistem pengaturan produksi menjadi arsitek pengalaman manusia, membentuk bagaimana kita melihat diri sendiri, keluarga, dan makna hidup.

Konflik Mental Generasi "Sandwich": Antara Kewajiban dan Keinginan
Fenomena "generasi sandwich" adalah contoh nyata benturan antara struktur ekonomi dan psikologi manusia. Mereka adalah individu berusia produktif yang terimpit secara finansial antara kewajiban menafkahi anak-anak mereka dan merawat orang tua yang sudah lanjut usia.
Beban yang Dinormalisasi: Di Indonesia, fenomena ini mencakup sekitar 26,5% dari total penduduk atau hampir 72 juta jiwa. Yang awalnya mungkin dipandang sebagai bentuk bakti tradisional, kini seringkali dirasakan sebagai beban struktural yang melelahkan secara fisik dan mental.
Hubungan yang Jadi Transaksional: Dalam tekanan sistem ini, hubungan keluarga berisiko tereduksi menjadi logika investasi dan pengembalian modal. Anak bisa dilihat sebagai "investasi" yang diharapkan memberikan "return" di masa depan, sementara orang tua bisa dirasakan sebagai "beban" yang harus ditanggung.
Dampak Psikologis: Generasi sandwich hidup dalam kondisi kelelahan kronis, di mana waktu mereka habis untuk bekerja tanpa pernah mencapai perasaan sejahtera yang sebenarnya. Frustasi sosial berpotensi muncul, terutama bagi mereka dengan pendapatan rendah yang terus-menerus menyaksikan gaya hidup mewah di media sosial.
Psikologi Konsumsi: Dari Kebutuhan Menjaga ke Hasrat Tanpa Batas
Jika generasi sandwich menggambarkan sisi beban kapitalisme, maka budaya konsumtif merepresentasikan sisi hasratnya. Di era digital, strategi kapitalisme dalam menciptakan "kebutuhan semu" telah mencapai tingkat kecanggihan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rekayasa Keinginan: Melalui analisis big data dan kecerdasan buatan, perusahaan dapat membuat iklan yang dipersonalisasi dengan sangat akurat, mengubah keinginan menjadi kebutuhan yang terasa mendesak
FOMO sebagai Penggerak: Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dieksploitasi secara sistematis melalui pemasaran berbasis influencer dan konten media sosial yang dirancang untuk memicu kecemasan sosial jika tidak mengikuti tren terkini.
Pembentukan Identitas melalui Konsumsi: Dalam masyarakat kapitalis lanjut, barang-barang konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi menjadi penanda identitas, status sosial, dan bahkan ukuran keberhasilan hidup.
Keluarga sebagai Unit Ekonomi: Romantisme versus Fungsi Reproduktif
Di bawah permukaan narasi romantis tentang cinta dan keluarga, terdapat fungsi ekonomi yang kurang disadari. Seperti yang dijelaskan Susan Rosenthal, keluarga modern, khususnya keluarga kelas pekerja, memiliki fungsi utama: reproduksi harian energi buruh dan reproduksi generasi buruh berikutnya.
Pembentukan Keluarga Inti: Kapitalisme secara fisik memisahkan produksi dari keluarga, menciptakan ruang terpisah yang kita sebut "kehidupan pribadi". Namun, kehidupan ini tetap didominasi oleh tuntutan kapitalisme, yaitu mempersiapkan diri untuk bekerja, pulang-pergi kerja, memulihkan diri setelah bekerja, dan membesarkan generasi pekerja berikutnya.
Peran Gender yang Terkukuhkan: Sistem ini mengukuhkan peran gender tradisional laki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai pengasuh yang meskipun terus diperdebatkan, tetap bertahan dalam banyak aspek karena mendukung struktur ekonomi yang ada.
Nilai Global Kerja Perawatan Tidak Dibayar: Diperkirakan nilai global dari kerja rumah tangga dan perawatan yang tidak dibayar mencapai lebih dari £7 triliun per tahun, menunjukkan betapa sistem ekonomi bergantung pada kerja tak berbayar ini.
Krisis Makna dan Ekstasi Konsumsi: Kehidupan dalam "Masyarakat Ekstasi"
Filsuf Jean Baudrillard mengamati perkembangan menuju apa yang disebutnya "masyarakat ekstasi". Kondisi di mana segala sesuatu diproduksi, dinormalisasi, dan dipamerkan tanpa rahasia, hingga pada titik kita kehilangan makna.
Ekonomi Libido: Dalam apa yang disebut Yasraf Amir Piliang sebagai "ekonomi libido", hasrat untuk mengonsumsi tidak hanya didorong oleh kebutuhan, tetapi oleh mekanisme psikologis yang lebih dalam yang terkait dengan pencarian identitas dan pengakuan.
Pengikisan Nilai Spiritual: Di tengah gelombang konsumsi ini, terjadi pengikisan nilai-nilai spiritual dan moralitas. Yang mengkhawatirkan, masyarakat tampak lebih panik terhadap masalah lingkungan seperti lapisan ozon daripada terhadap krisis moral dan spiritual yang terjadi.
Normalisasi yang Mengejutkan: Dalam masyarakat ekstasi, terkadang "jiwa manusia tak lebih berharga dari sebatang rokok", dan aksi kekerasan "tak lagi menimbulkan perasaan bersalah, dosa, atau hina, tetapi justru sebaliknya perasaan kemenangan, kejantanan, dan kebanggaan".
Jalan Tengah yang Mungkin: Antara Penerimaan dan Transformasi
Menghadapi realitas psikologis kapitalisme ini, berbagai respons muncul. Bill Gates pernah mengusulkan "kapitalisme kreatif" yang menyuntikkan spirit filantropis ke dalam sistem, di mana perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan tetapi juga pengakuan publik dan kontribusi sosial.
Pendekatan Gates: Melalui berbagai alternatif, dari filantropi perusahaan hingga kemitraan lintas negara. Gates berusaha menunjukkan bahwa kapitalisme bisa diarahkan untuk juga melayani mereka yang paling tidak beruntung.
Literasi sebagai Benteng Pertahanan: Banyak pakar menekankan pentingnya literasi digital dan finansial untuk membedakan kebutuhan nyata dari kebutuhan semu, serta kemampuan untuk memahami mekanisme psikologis di balik strategi pemasaran.
Pertanyaan tentang Sistem: Namun, bagi beberapa pemikir, solusi individual tidak cukup. Lev Vigotsky, psikolog Soviet, menegaskan bahwa "kondisi material objektif di lingkungan memainkan peran yang amat menentukan pada perkembangan kepribadian seorang individu". Dalam lingkungan yang didominasi logika kapitalis, akan tumbuh pribadi-pribadi yang teralienasi.
Mencari Kembali yang Manusiawi di Tengah Mekanisme Pasar
Kapitalisme kontemporer telah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa bukan hanya dalam memproduksi barang, tetapi juga dalam memproduksi subjektivitas. Cara kita menjadi diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, dan memahami makna hidup kita.
Dari generasi sandwich yang terjepit antara kewajiban antar-generasi, hingga individu yang mengonsumsi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan tetapi untuk mengisi kekosongan eksistensial. Bahkan keluarga yang berfungsi seolah-olah sebagai unit reproduksi tenaga kerja. Semua ini adalah wajah psikologi kapitalisme.
Yang tersisa sebagai pertanyaan mendasar adalah: Bagaimana kita menjaga kemanusiaan kita dalam sistem yang seringkali mereduksi nilai manusia menjadi sekadar kapasitas produksi dan konsumsi? Jawabannya mungkin tidak terletak pada penolakan total atau penerimaan pasif, tetapi pada pengembangan kesadaran kritis. Bagaimana kemampuan untuk mengenali mekanisme psikologis ini bekerja dalam hidup kita, dan menemukan ruang untuk otonomi, makna, dan hubungan manusiawi yang tidak seluruhnya ditentukan oleh logika pasar.
Di sinilah peran pencerahan psikologis menjadi penting, bukan sebagai alat penyesuaian diri dengan sistem yang ada, tetapi sebagai sarana untuk memahami, mengkritisi, dan akhirnya mengubah kondisi yang membentuk jiwa kita. Sebab, seperti yang diungkapkan dalam berbagai data kesehatan mental, harga psikologis dari sistem ekonomi kita saat ini telah mencapai tingkat yang tidak bisa lagi diabaikan.
