Konten dari Pengguna

Refleksi dan Reformasi Organisasi Mahasiswa Yang Penuh Sejarah dan Perjuangan

Moehammad Bintang Aimar Andika

Moehammad Bintang Aimar Andika

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melampaui Debat Relevansi Menuju Substansi

Gemuruh pertanyaan tentang "relevansi organisasi mahasiswa" sering kali berputar-putar dalam debat yang tanpa ujung. Terutama untuk organisasi mahasiswa yang penuh perjuangan dan nilai sejarah: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Namun, mempertanyakan relevansi adalah jalan buntu. Sejarah membuktikan bahwa semangat berorganisasi dan memperjuangkan idealisme secara kolektif adalah naluri manusiawi yang akan selalu menemukan jalannya. Ia bersifat abadi, dan karenanya, pada hakikatnya akan selalu relevan.

Persoalan sesungguhnya bukanlah apakah BEM masih relevan, melainkan bagaimana wujud dan caranya harus berevolusi agar jiwa kolektif itu tidak hanya bertahan, tetapi juga berkobar-kobar di hati generasi muda sekarang. Generasi yang konon enggan terikat formalitas, namun haus akan makna dan dampak nyata. Artikel ini ingin menyelami tiga hal: substansi abadi BEM, tantangan eksistensial yang menggerusnya, dan peta jalan filosofis untuk kelahirannya kembali.

Ilustrasi Perjuangan Mahasiswa (Foto dibuat oleh AI)

Menemukan Kembali Jiwa yang Hilang: Substansi Abadi BEM

Sebelum membicarakan perubahan, kita harus sepakat tentang "jiwa" yang hendak kita pertahankan. BEM, pada intinya, adalah pengejawantahan dari tiga hal mendasar:

  1. Suara Kolektif yang Menyatu: BEM adalah kristalisasi aspirasi ribuan mahasiswa. Ia adalah perwujudan bahwa bersama, suara kita lebih bergema dan diperhitungkan daripada sendiri-sendiri.

  2. Sekolah Demokrasi yang Nyata: Ini adalah ruang di mana idealisme belajar berjalan beriringan dengan realitas. Di sini, mahasiswa mengalami langsung makna musyawarah, negosiasi, tanggung jawab atas mandat, dan keindahan yang berantakan dari proses kolektif.

  3. Kawah Candradimuka Agen Perubahan: BEM adalah wadah untuk menyalurkan energi kritis dan kepedulian sosial menjadi aksi yang terorganisir dan berdampak. Ia adalah pengingat bahwa kampus bukan menara gading, melainkan bagian dari denyut nadi masyarakat.

Inilah jiwa BEM yang abadi. Namun, jiwa ini terancam karena raganya (bentuk dan caranya) dinilai sudah tidak produktif.

Memetakan Tantangan Eksistensial BEM

Jiwa yang besar itu kini terperangkap dalam raga yang kian kehilangan daya pikat dan kepercayaan. Tantangannya nyata dan multidimensi:

  • Erosi Kepercayaan dan Citra “Politik Pencitraan”: BEM kerap dicap tidak lagi mewakili suara hati biasa. Proses pemilihan yang penuh drama, janji kampanye yang menguap, dan kesan kuatnya kepentingan pribadi telah mengikis legitimasi hingga ke akarnya. BEM dianggap sebagai "panggung" dan bukan "pelayan".

  • Kompetisi dengan “Komunitas” yang Lebih Autentik dan Lincah: Generasi muda kini memiliki opsi lain. Komunitas berbasis minat (interest-based communities) mulai dari pecinta alam hingga kolektif seni menawarkan rasa memiliki, fleksibilitas, dan dampak yang langsung terasa, tanpa birokrasi yang berbelit. Dibandingkan dengan komunitas yang "hidup" ini, BEM sering terasa kaku dan jauh.

  • Menata Ulang Metode Perjuangan dengan DInamika Zaman: Metode perjuangan BEM perlu mengalami pembaruan agar selaras dengan semangat zaman dan lebih relevan bagi masyarakat luas. Aksi demonstrasi di lapangan memang memiliki sejarah panjang sebagai simbol perlawanan, namun tidak bisa menjadi satu-satunya cara menyuarakan aspirasi. Di tengah kompleksitas isu-isu kontemporer yang bersifat personal, sosial, dan digital, pendekatan yang seragam dan bahasa yang kaku justru berisiko kehilangan daya jangkau. Generasi muda kini fasih menggunakan berbagai medium ekspresi: kampanye digital yang inovatif, gerakan seni yang menyentuh, hingga aksi solutif yang langsung berdampak. Oleh karena itu, BEM perlu memperluas cara berkomunikasi dan berjuang. Tidak hanya melalui orasi dan poster, tetapi juga lewat narasi, kolaborasi, dan aksi nyata yang inklusif. Perjuangan yang adaptif dan beragam akan membuka ruang partisipasi yang lebih luas, menjadikan gerakan mahasiswa bukan hanya lantang, tetapi juga relevan dan membumi.

Merancang Peta Pertumbuhan untuk Masa Depan

Tantangan-tantangan itu bukanlah akhir, melainkan peta untuk menuju transformasi. Menghadapi tantangan di atas, BEM harus berani melakukan tranformasi yang mendalam:

  • Dari Menara Komando menjadi Taman Bermain: Dari Hierarki ke Jejaring.

Bayangkan BEM bukan sebagai menara komando, melainkan sebagai taman yang subur. Perannya bergeser dari pemimpin menjadi fasilitator dan katalisator. Strukturnya harus cair, memungkinkan berbagai kelompok dan proyek (lingkungan, seni, advokasi, kewirausahaan sosial) tumbuh di bawah payung besarnya. BEM menyediakan legitimasi, sumber daya, dan jaringan, lalu membiarkan inisiatif-inisiatif kreatif itu bermekaran. Ini menjawab kegelisahan akan kebebasan dan menjadikan BEM sebagai "rumah bersama" bagi seluruh ekosistem kegiatan mahasiswa.

  • Dari Program yang Kaku menjadi Aksi yang Bergema: Dari Rencana ke Resonansi.

Generasi muda menghargai dampak langsung dan autentisitas. Alih-alih terpaku pada program kerja tahunan yang kaku, BEM harus menjadi rumah bagi aksi-aksi yang menyentuh hati dan pikiran. Energi harus dialirkan untuk merespons isu aktual dengan cepat dan cerdas, melalui kampanye seni, festival budaya, atau aksi solidaritas yang inovatif. Setiap aksi adalah undangan terbuka bagi lebih banyak mahasiswa untuk terlibat, tanpa perlu menjadi "anggota resmi". Ini adalah jawaban atas tuntutan akan metode perjuangan yang lebih hidup dan relevan.

  • Dari Panggung Politik ke Panggung Kemanusiaan: Membangun Kembali Kepercayaan.

Untuk memulihkan kepercayaan yang terkikis, BEM harus kembali ke akar kata "maha" dan "siswa". Fokusnya harus bertambah terutama pada isu-isu kemanusiaan yang kemudian memanusiakan. Seperti kesehatan mental, ruang aman, keberpihakan pada yang tersisih, kehidupan masyarakat, dan keberlangsungan hidup. Dengan menjadi garda depan dalam isu-isu yang benar-benar dirasakan dan dengan transparansi yang radikal, BEM membangun otoritas moralnya bukan dari kekuasaan, melainkan dari kepedulian dan integritas. Ini akan menarik generasi muda yang sering menekankan tentang keautentikan.

Menjadi Sungai, Bukan Patung

BEM hari ini berada di persimpangan yang menentukan. Ia bisa memilih menjadi patung. Megah dalam sejarahnya namun kaku, lambat laun ditelan zaman. Atau, ia memilih menjadi sungai. Dengan jalan yang berliku, namun selalu dinamis, mampu mengikis hambatan, dan menghidupi segala yang dilintasinya.

Substansi BEM sebagai suara dan kekuatan kolektif adalah air yang mengalir di sungai itu. Tantangan zaman adalah kontur tanah yang berubah. Sedangkan reformasi filosofis adalah proses alamiah sungai itu menyesuaikan alurnya. Dengan bertransformasi, BEM tidak mengkhianati sejarahnya. Justru itu menandakan salah satu cara untuk menghormati warisan perjuangan. Dengan menjaganya agar tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi setiap generasi yang baru.