Konten dari Pengguna

Soft Power Diplomacy: Memperkenalkan Budaya melalui Video Game

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, diplomasi tidak lagi hanya tentang pertemuan antarnegara atau kesepakatan ekonomi. Saat ini, perpaduan budaya dan teknologi terutama lewat video game telah menjadi senjata ampuh dalam membentuk pandangan dunia. Istilah Soft Power Diplomacy, yang dicetuskan oleh Joseph Nye pada akhir 1980-an, menggambarkan bagaimana sebuah negara dapat memengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan yang berlegitimasi. Dewasa ini, pendekatan ini bahkan berkembang lebih jauh menjadi bentuk interaksi langsung: video game.

ilustrasi video game dengan budaya China (foto dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi video game dengan budaya China (foto dibuat oleh AI)

Game sebagai Kanal Budaya Baru

Dengan adanya perusahaan-perusahaan teknologi besar, seperti Tencent, game dapat berkembang menjadi sebuah alat diplomasi yang efektif. Tencent yang memiliki Riot Games dan menjadi pemegang saham besar di Epic Games tak hanya menguasai pasar game global, tapi juga menyisipkan unsur budaya Tiongkok dalam berbagai gimnya. Contohnya, Honor of Kings, kini dikenal sebagai game mobile terpopuler di dunia, menghadirkan tokoh-tokoh dari mitologi Tiongkok seperti Raja Monyet dari Journey to the West.

Game bukan alat propaganda, tapi ruang imersif yang memperkenalkan budaya secara organik

Kesuksesan Black Myth: Wukong, yang diangkat dari sastra klasik Tiongkok juga memperlihatkan bahwa publik internasional mulai melirik kisah-kisah budaya yang otentik, dan tidak lagi terpaku pada dominasi tema-tema Barat.

Strategi Milik China: Digital Silk Road dan Ambisi Global

Digital Silk Road (DSR), yang merupakan bagian dari proyek Belt and Road Initiative, bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur digital. Melalui DSR, China juga memperluas jangkauan platform hiburannya. Menurut Yuan (2025), Tencent yang merupakan salah satu perusahaan teknologi terbesar di China, memanfaatkan program ini untuk menyebarkan game ke negara-negara berkembang dan sekaligus memperkenalkan budaya dan teknologi China secara lebih luas. Sehingga, dalam Global Soft Power Index 2025, China berhasil naik peringkat, melampaui Inggris dan kini berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi berkat investasi besar dalam keberlanjutan, proyek infrastruktur, serta industri game, yang memainkan peran penting dalam membangun daya tarik budaya China di dunia.

E-Sports: Arena Diplomasi yang Menghibur

E-sports telah berkembang menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi alat diplomasi yang efektif. Dengan miliaran penggemar di seluruh dunia, turnamen seperti League of Legends World Championship yang diselenggarakan oleh Tencent bukan hanya soal permainan, tetapi juga tentang memperkenalkan budaya. Acara ini menarik 100 juta penonton global, memperkuat hubungan emosional antara pemain dan elemen budaya Tiongkok yang ditampilkan dalam game.

Masa Depan Soft Power melalui Game

Industri game diprediksi akan terus menjadi medan kolaboratif soft power. Negara-negara seperti Jepang yang terjun melalui anime dan Nintendo dan Korea Selatan dengan BTS World telah lama menggunakan konten populer untuk diplomasi. Selain itu, perkembangan di era sekarang menunjukkan pula bahwasannya game bukan sekadar hiburan tetapi bisa dimanfaatkan untuk pengenalan budaya.

Diplomasi abad ke-21 tidak lagi hanya tentang kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga tentang siapa yang bisa mengembangkan imajinasi dunia. Game, dengan daya jangkau dan interaktivitasnya, telah membuka babak baru dalam soft power, di mana mitos kuno bertemu teknologi mutakhir, dan pemain di seluruh dunia menjadi duta budaya tanpa disadari.

Tinjauan Pustaka

Yuan, S. (2025, Januari 16). China’s soft power play: How video games are boosting Beijing’s global influence. The Diplomat.

DiploFoundation. (2025). Soft power diplomacy. Diplo.