Substansi Dari Pencerdasan Politik Pada Situasi Politik Kontemporer

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan ini, wacana pencerdasan politik semakin sering mengemuka dalam berbagai bentuk. Mulai dari upaya peningkatan partisipasi politik, diskusi publik, hingga kajian evaluasi kebijakan. Namun, terdapat sebuah paradoks yang mengganggu, ketika ide-ide ini memasuki lingkungan sekitar kita, nuansanya sering berubah drastis. Yang muncul justru pelucutan makna, kelicikan, atau bahkan minat belajar yang bersifat formalitas. Dalam konteks ini, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: apa sebenarnya substansi pencerdasan politik di era ketika kegiatan politik itu sendiri telah 'tercemar' dan justru berisiko melanggengkan politik yang tidak ideal?

Dari Wacana ke Aksi: Menjangkau Inti Persoalan
Substansi pencerdasan politik tidak terletak pada penambahan wacana semata, melainkan pada kemampuannya melakukan pembongkaran dan penyadaran kritis. Di tengah kondisi yang tidak ideal, pencerdasan politik harus berfungsi sebagai:
Pembedah Retorika Kosong
Banyak konsep politik, termasuk slogan 'sistem Pancasila', sering digunakan sebagai tameng legitimasi tanpa pemahaman mendalam tentang makna substantifnya. Pencerdasan politik yang bernilai harus berani melampaui jargon dan mengeksplorasi implementasi nyata dari nilai-nilai tersebut dalam kebijakan publik dan perilaku politik sehari-hari. Ia harus mengajak masyarakat untuk mempertanyakan klaim-klaim yang diterima begitu saja.
Pembangun Kesadaran akan Kesenjangan
Substansi yang kedua adalah keberanian untuk mengakui dan menganalisis kesenjangan antara cita-cita demokrasi dan Pancasila dengan realita praktik politik yang penuh kelicikan dan pemujaan. Pencerdasan politik bukanlah tentang menutupi kekurangan dengan teori indah, melainkan tentang menjadikan kesenjangan itu sebagai bahan refleksi dan pijakan untuk perbaikan.
Pemberdayaan Kapasitas Etis-Politis
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, pencerdasan politik yang substansial adalah proses pemberdayaan. Ia bertujuan membekali peserta bukan hanya dengan pengetahuan tentang "apa itu politik", tetapi dengan kerangka etis untuk menilai "bagaimana seharusnya berpolitik". Ini mencakup penanaman nilai-nilai integritas, kejujuran, penghormatan pada lawan, dan komitmen pada kebaikan bersama, yang justru seringkali terabaikan.
Mencegah Regenerasi Politik yang 'Kotor'
Tanpa substansi yang mendalam, pencerdasan politik hanya akan menjadi ritual baru yang melanggengkan siklus lama. Risikonya adalah lahirnya generasi baru yang secara formal terdidik, tetapi mengadopsi cara-cara berpolitik yang sama 'kotornya' dengan generasi sebelumnya. Mereka mungkin pandai berteori tentang politik, tetapi dalam praktiknya, tetap melakukan pelucutan makna dan kelicikan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, substansi utama yang ketiga adalah penanaman nilai-nilai moral terhadap praktik-praktik politik yang merusak marwah dan otentisitas politik itu sendiri.
Pencerdasan sebagai Proses Penyadaran Kritis
Di tengah kekeruhan kondisi politik, substansi pencerdasan politik terletak pada kemampuannya bertindak sebagai proses penyadaran kritis yang berkelanjutan. Ia harus berfungsi sebagai cermin yang jujur bagi dunia politik, sekaligus obor yang menerangi jalan menuju praktik politik yang lebih otentik dan beretika. Tanpa komitmen pada substansi ini, segala bentuk diskusi dan kajian hanya akan menjadi aktivisme semu yang, alih-alih memperbaiki, justru mengukuhkan lingkaran setan politik yang tercemar.
