Lari: Saat Tubuh Bergerak, Pikiran Ikut Tenang

Saya adalah Mahasiswa akademisi di bidang ilmu hadis universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bimo Aji prayogo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah seharian penuh di kampus, menghadapi dosen killer, tugas kelompok yang lebih mirip drama, dan notifikasi tugas yang tidak ada habisnya, tubuh ini rasanya ingin rebahan selamanya. Tapi anehnya, ada satu kegiatan yang justru bikin hidup terasa lebih “bernapas” yaitu lari.
Di tengah tuntunan akademik yang datang bertubi-tubi, mahasiswa sering kali tidak sadar bahwa mental mereka ikut kelelahan. Nah, di sinilah lari hari hadir bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga terapi mental.
Banyak studi menyebutkan bahwa saat kita lari, tubuh melepaskan endorfin dan hormon yang bikin mood naik dan stres turun. Ini bukan sekadar mitos runner’s high, tapi realita biologis. Maka, lari dan ketenangan pikiran bukan lagi hal yang bertolak belakang, justru saling mendukung.
Saat lari, kita tidak hanya menjauh dari layar gadget dan notifikasi, tapi juga makin dekat dengan suara hati sendiri. Terdengar puitis, tapi benar adanya. Dalam keheningan langkah kaki dan irama napas, kita bisa mendengar dengan jernih : apa yang sebenarnya kita rasakan, butuhkan, dan inginkan.
Lari cukup dilakukan 10-15 menit setiap pagi atau sore. Tidak perlu mahal, cukup sepatu nyaman dan semangat bangkit dari kasur. Kamu tidak perlu jadi pelari cepat, kamu cukup jadi orang yang tidak berhenti mencoba. Bahkan jalan cepat pun masih lebih baik dari rebahan sambil overthinking.
Pada akhirnya, lari tidak membuat kita lari dari masalah, tapi justru membuat kita lebih siap menghadapi hidup. Saat tubuh diajak bergerak, pikiran ikut terbawa dalam ritmenya. Bukan lari untuk kabur, tapi lari untuk pulih.
