kumparan
23 Mar 2018 0:13 WIB

Gilang-Gemilang Kemewahan Batik Keraton

Busana glamour identik dengan kemewahan dan keanggunan. Ditumbuhkan dari tangan kreatif fashion designer dari berbagai material kain berkualitas dan asesoris pemikat lainnya. Sedangkan batik tumbuh dari balik bilik dalam keraton. Tumbuh dan besar dari nilai-nilai yang ada di dalam istana, hingga glamouritasnya bukan hanya berupa wujud, tetapi gemilang filosofisnya.
ADVERTISEMENT
Dinamika zaman terus bergulir. Perputarannya membawa banyak perubahan dan pergeseran pada budaya tradisi. Sebagian besarnya disesuaikan dengan tuntutan zaman. Ada yang berusaha mengefisienkan atau membuatnya menjadi praktis. Tetapi ruang untuk pribadi-pribadi yang mencintai tradisi, harus diberikan. Karena karya budaya tradisi memiliki dimensi berlapis yang melibatkan banyak segi kehidupan. Ini yang berusaha diungkap oleh Ketua Umum Paguyuban Catur Sagotra Nusantara K.P.H. Koesoemowinoto pada pengantar Wastra Adat Keraton Dalam Tradisi Pernikahan.
Pada perhelatan-perhelatan khusus dan istimewa keraton, batik telah hidup sebagai bagian utuh busana yang wajib dikenakan. Semisal pada pelantikan tahta baru raja, penyambutan tamu, upacara-upacara tradisi maupun spiritual, pernikahan, batik yang mulanya sebagai busana khas keraton, beradaptasi dengan perhelatan tersebut dan menjadi bernilai pada akhirnya.
ADVERTISEMENT
Karena asal-muasalnya pula akhirnya batik menjadi busana para petinggi atau bangsawan. Glamouritas-nya pun tumbuh seiring siapa penggunanya. Kemewahan batik bukan hanya terletak pada wujud, melainkan pada motif yang sarat makna filosofis.
Kepala Galeri Batik di Museum Tekstil Jakarta Tumbu Ramelan mengatakan batik glamour yang paling kentara adalah yang bermotif parang. Karena hanya boleh dikenakan hanya oleh raja. Sedangkan batik glamour dewasa ini olehnya dikatakan bisa muncul karena kemampuan fashion designer merancang batik sebagai busana glamour.
Menelusuri kemewahan batik masa lalu paling banyak terpapar pada upacara pernikahan. Motif-motif unik sarat filosofis banyak dikenakan pada tiap prosesinya, baik oleh keluarga pengantin maupun si pengantin sendiri. Dan upacaranya sendiri menepati urutan kedua terbesar digelar selain upacara pelantikan raja.
ADVERTISEMENT
Siraman
Kain batik motif Satriya Wibawa yang masuk dalam kelompok motif batik ceplokan, ciri utamanya berbentuk segi empat dan titik pusat pada tengahnya. Motif ini dikenakan pada upacara siraman adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan yang mengenakannya adalah ayah dari calon mempelai putri.
Makna dari motifnya adalah harapan akan datangnya kewibawaan yang terus terjaga oleh keluarga baru yang akan dibentuk oleh kedua calon mempelai, lahir dan batin yang terpusat serta terendap pada kebijaksanaan menjaga amanah tersebut.
Pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di upacara siraman pengantin, kain batik yang dikenakan adalah motif Semen Rama. Masuk dalam kelompok motif semen, nama Rama pada motif disadur dari tokoh pewayangan Prabu Ramawijaya di kisah Ramayana. Motif ini dikenakan oleh calon pengantin yang menjalankan upacara siraman dengan harapan senantiasa diberkahi kesempurnaan dan kebaikan lahir dan batin dalam menjalankan biduk rumah tangganya kelak.
ADVERTISEMENT
Semen Rama memiliki kisah tersendiri yakni ajaran utama dalam bentuk wiracarita Ramayana. Kisahnya adalah wejangan Sri Rama kepada Gunawan Wibisana ketika akan dinobatkan sebagai raja Alengka menggantikan Prabu Rahwana. Ajaran ini dikenal dalam budaya Jawa sebagai Hastha Brata yakni delapan ajaran keutamaan untuk para pemimpin. Delapan ajaran itu diambil dari sifat-sifat delapan dewa yakni:
  • Endrabrata untuk pemberi kemakmuran dan perlindungan dunia. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias pohon hayat;
  • Yamabrata untuk sosok penghukum yang adil terhadap mereka yang bersalah. Disimbolkan dalam ragam hias awan dan meru (gunung);
  • Suryabrata untuk pribadi yang penuh keluhuran, dilambangkan dalam ragam hias burung;
  • Sasibrata untuk sifat rembulan yang memberikan rasa gembira dan pemberi ganjaran bagi orang-orang berjasa, disimbolkan dalam ragam hias binatang;
  • Bayubrata untuk watak luhur, disimbolkan berbentuk ragam hias burung;
  • Danabrata atau Kuwera untuk watak sentosa dan pemberi kesejahteraan pada masyarakat. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias binatang;
  • Pasabrata untuk sifat lapang hati namun berbahaya bagi yang mengabaikan. Disimbolkan dalam ragam hias kapal air; dan
  • Agnibrata untuk kekuatan menumpas musuh. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias lidah api.
ADVERTISEMENT
Pura Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat dalam upacara siraman, kedua orangtua calon mempelai mengenakan kain batik motif Cakar. Maknanya adalah harapan agar calon mempelai mampu hidup mandiri. Untuk mempelai putri mengenakan kain batik motif Pasatan Bangbangan, yakni kain penutup tubuh saat mandi. Warnanya soga kemerahan dan bukan cokelat. Warna merah menyimbolkan harapan agar calon mempelai senantiasa diberkahi keberanian dan kekuatan untuk memulai hidup baru.
Mempelai putri sangat diagungkan dalam upacara ini. Selain Pasatan Bangbangan, bisa pula mengenakan motif Wahyu Tumurun dengan semekan atau penutup dada bermotif Bangun Tulak, yang berarti harapan turunnya wahyu keutamaan, kebijaksanaan, dan perlindungan. Motif ini pula dpat dikenakan oleh calon mempelai prianya selain motif lainnya seperti Parang Klithik yang menyimbolkan status kebangsawanan, atau motif Boketan Pakis sebagai simbol pernikahannya merupakan hadiah indah bagi orangtua dan putranya.
ADVERTISEMENT
Midodareni dan Panggih
Motif Parang Kusuma menurut beberapa sumber diciptakan pada zaman Raja Mataram Ingkang Sinuhun Kanjeng Panembahan Senopati. Kusuma dalam bahasa Jawa berarti bunga, perlambang keturunan raja. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggunakan motif ini pada malam midodareni wajib dikenakan oleh calon mempelai pria saat berkunjung ke kediaman keluarga calon pengantin wanita. Kunjungan ini dalam bahasa Jawa disebut nyantri. Kain batik motif Parang Kusuma umumnya dipadukan dengan beskap landhung bermotif bunga-bungaan.
Untuk orangtua calon mempelai wanita saat dikunjungi, menggunakan kain batik bermotif Cakar, menyimbolkan harapan kedua calon mempelai diberikan kemampuan hidup mandiri dalam rumah tangganya. Varian dari motif Cakar yang biasa dikenakan adalah Cakar Gurdha dan Cakar Wijayakusuma.
Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, motif truntum dikenakan oleh calon mempelai wanita. Simbolnya adalah kasih sayang yang abadi. Kain batik motif ini dikenakan calon mempelai wanita dari mulai midodareni, sebelum akad nikah, hingga akad nikah. Sedangkan calon mempelai pria pada saat nyantri mengenakan kain batik motif Sida Asih yang menyimbolkan harapan kedua mempelai dapat saling mengasihi selama menjalankan kehidupan rumah tangganya.
ADVERTISEMENT
Pada saat Panggih atau bertemunya kedua mempelai dalam pernikahan, motif batik yang dikenakan adalah Kampuh. Artinya adalah harapan kedua mempelai mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin. Ornamen hiasnya adalah tumbuh-tumbuhan perlambang kesuburan, Sawat atau Gurdha yang bermakna kedudukan, digambarkan dalam bentuk papan atau tempat tinggal, disimbolkan dalam motif atap. Secara keseluruhan motif ini menyimbolkan doa kedua mempelai mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Motif ini pada saat Panggih dihiasi dengan prada emas. Jika tak mengenakannya, dapat diganti dengan motif Sida Mukti, menyimbolkan harapan hidup sejahtera dan berkecukupan dalam sandang, pangan, dan papan.
Kain batik motif Wahyu Tumurun yang bermakna turunnya wahyu Illahi berupa keutamaan dan kebijaksanaan dikenakan calon mempelai putri pada malam midodareni di Keraton Pura Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat. Orangtua calon mempelai putri mengenakan motif Bolu Rambat, dan orangtua calon mempelai pria mengankan motif grompol yang artinya berkumpul untuk menciptakan kerukunan.
ADVERTISEMENT
Di upacara Panggih Keraton Kasunanan Ngayogyakarta Hadiningrat, motif Wahyu Tumurun memiliki makna wahyu keprabon yang turun di Kasultanan Demak, diwujudkan dalam empat unsur terdistilasi sebagai ornamen hias, yakni: songkok (mahkota); patra (daun ubi jalar); kusuma (bunga); dan kukila (burung).
Pada saat akad nikah hingga panggih Keraton Pura Mangkunegaran Surakarta, kedua pengantin mengenakan kampuh atau dodot bermotif alas-alasan, perlambang perlindungan bagi seluruh keluarga. Selain kampuh atau dodot, bisa pula mengenakan motif-motif dengan makna harapan baik seperti Sida Mukti, Sida Asih, Sida Luhur, dan lain sebagainya. Sida Mukti melambangkan harapan hidup sejahtera, sedangkan Sida Luhur melambangkan harapan diberikan keluhuran lahir dan batin.
Keeleganan kain batik hadir dalam ragam motif klasik asal keraton. Kemewahan batik masa lalu hadir dalam peruntukan dan diperuntukkannya. Sedangkan glamouritas batik masa kini hadir karena kebutuhan masa kini dengan penanganan desain busana yang eksklusif.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan