Dendam Politik dan Kutukan Keris Kuno yang Tak Pernah Mati

Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bintang Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda membayangkan bahwa sebuah benda mati bisa menyimpan dendam yang hidup selama berabad-abad? Dalam cerpen Membunuh Presiden karya Risen Dhawuh Abdullah, sejarah bukan sekadar deretan tahun yang sudah lewat, melainkan sebuah kutukan yang terus bernapas dan menunggu giliran untuk kembali memakan korban.
Cerita ini membawa kita pada sebuah perenungan yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Ambisi kekuasaan politik di zaman modern ini, sejatinya hanyalah pengulangan dari tragedi berdarah masa lalu. Penulis dengan cerdik mengajak kita melihat bagaimana "keris kutukan" dari era kerajaan dulu, masih bisa eksis dan bekerja dengan cara yang lebih halus di balik dinding istana hari ini.

Untuk memahami bagaimana suasana mencekam ini dibangun, kita bisa meminjam pendapat Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi. Menurut Nurgiyantoro, latar dalam sebuah cerita bukan sekadar tempat atau waktu kejadian, melainkan elemen penting yang berfungsi untuk membangun suasana dan memberikan kesan nyata bagi pembaca. Latar inilah yang "menjebak" pembaca ke dalam dunia cerita, sehingga kita bisa merasakan langsung kengerian kutukan yang melompati ruang dan waktu tersebut.
Ruang yang Mengunci Nasib
Menurut saya penulis cerpen ini sangat lihai memainkan setting. Penulis menggambarkan bagaimana "tokoh utama" kita ‘sang keris’mengalami keterbuangan yang panjang. Dalam cerpen disebutkan:
"Tokoh kita ini masih bisa mengingat dengan baik, asal mula dirinya bisa sampai di dasar sungai, kemudian terkubur lumpur dan air seiring berjalannya waktu. Menempatkan tokoh kita ini dalam kegelapan yang baka."
Dasar sungai yang gelap dan penuh lumpur itu bukan sekadar tempat biasa, tempat itu menggambarkan sebuah kisah yang kelam, tempat di mana rasa dendam dan keinginan untuk berkuasa terpendam selama berabad-abad. Kutipan ini terasa sangat kuat sekaligus menyeramkan. Tempat peristirahatan sang "tokoh utama" menjadi saksi bisu betapa sejarah sering melupakan hal-hal penting, padahal ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali muncul ke permukaan.
Kutukan yang Mengalami Regenerasi
Perpindahan latar cerita dari zaman dulu ke dunia modern membuat saya cukup gelisah. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana sebuah "kutukan" bisa berpindah tempat dan waktu melalui tindakan tokohnya, seperti yang tertulis:
"Dua hari setelah Tohjaya berhasil membunuh Anusapati, ia membuang tokoh kita ini yang sudah berada di dalam sebuah kotak besi."
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa baik "kotak besi" maupun "sungai" hanyalah tempat transisi menuju era yang baru. Kita tidak sedang membaca cerita masa lalu yang membosankan, melainkan sedang melihat bagaimana pola kekuasaan itu selalu berulang.
Di dunia modern yang terlihat rapi dan dingin, ambisi untuk menghancurkan orang lain terasa jauh lebih mengerikan karena disembunyikan di balik bahasa kebijakan yang halus. Meskipun sekarang kita sudah menggunakan teknologi canggih, "darah" atau kekejaman yang terjadi di balik istana kekuasaan tetap sama mengerikannya dengan apa yang terjadi di zaman Kerajaan Singhasari dahulu.
Nafsu yang Abadi
Pada akhirnya, Membunuh Presiden bukan sekadar cerita fiksi. Cerita ini menjadi cermin bagi kita semua, Kekuasaan itu selalu ada harganya. Selama kita masih menganggap tahta adalah sesuatu yang harus direbut dengan cara berdarah, maka situasi yang kita alami pun tidak akan pernah berubah. Hal ini sejalan dengan harapan sang keris dalam cerita:
"Tokoh kita ini selalu berharap suatu ketika ada yang menemukannya dan membawanya pulang, sehingga kembali dapat mencecap darah segar yang mengucur dari nafsu amarah."
Intinya, kita akan terus terjebak di "dasar sungai" yang sama, terus-menerus menunggu giliran untuk saling menjatuhkan. Cerita ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengulangi tragedi yang sama di zaman kita sekarang.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2009). Teori Pengkaji Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Abdullah, Risen Dhawuh. (2026 1 Juli). “Membunuh Presiden”. Kompas.id.
