Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Kesurupan, Mengenal Akar Silat dan Filosofi Bantengan Malang

Bisal Armaish

Bisal Armaish

Mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta Prodi Film dan Televisi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bisal Armaish tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Malang dan wilayah sekitarnya tidak hanya dikenal dengan wisata alamnya, tetapi juga kesenian tradisional yang masih sangat kuat. Salah satu yang paling sering kita jumpai dalam berbagai acara, mulai dari karnaval desa hingga festival besar, adalah kesenian Bantengan. Kesenian ini menarik karena selalu ramai penonton dan memiliki suasana yang magis. Namun, seringkali kita hanya melihatnya sebagai tontonan orang mengamuk atau kesurupan. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, Bantengan memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang sangat penting untuk kita pahami agar tidak salah kaprah menilai seni tradisi ini.

Peserta karnaval Desa Saptorenggo menampilkan kesenian Bantengan. Foto: Dokumentasi pribadi di Desa Saptorenggo, Pakis, 10 September 2023.
zoom-in-whitePerbesar
Peserta karnaval Desa Saptorenggo menampilkan kesenian Bantengan. Foto: Dokumentasi pribadi di Desa Saptorenggo, Pakis, 10 September 2023.

Secara wujud fisiknya, Bantengan adalah seni pertunjukan yang meniru wujud hewan banteng. Kesenian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki. Satu orang berada di depan untuk memegang topeng kepala banteng dan sekaligus menjadi kaki depan. Sedangkan satu orang lagi berada di belakang dalam posisi membungkuk untuk menjadi badan dan ekor banteng. Kedua pemain ini harus kompak bergerak seirama agar terlihat seperti banteng sungguhan. Kostum yang digunakan cukup khas. Bagian kepalanya terbuat dari kayu yang diukir menyerupai kepala banteng asli, lengkap dengan tanduk sungguhan. Tubuhnya disambung menggunakan kain hitam panjang yang menutupi kedua pemain. Musik yang mengiringinya pun sangat khas dan bersemangat, yaitu perpaduan antara jidor atau drum besar, gamelan, dan kendang.

Kesenian Bantengan ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari seni bela diri pencak silat. Dalam pengamatan teknis atau analisis formalnya, gerakan tari dalam Bantengan banyak mengambil unsur gerakan silat. Hal ini wajar karena pada awalnya, Bantengan lahir dari komunitas perguruan pencak silat. Dulu, kesenian ini digunakan sebagai sarana latihan bela diri atau hiburan setelah latihan silat selesai. Unsur pencak silat ini terlihat jelas dari kuda-kuda para pemainnya yang kokoh saat menahan beban topeng atau saat melakukan atraksi bantingan. Selain unsur gerak, ada unsur magis yang menjadi ciri khas utamanya, yaitu tahapan trance atau kesurupan. Dalam istilah lokal, kondisi ini sering disebut dengan ndadi atau kalap, yaitu ketika pemain kehilangan kesadaran karena dimasuki oleh kekuatan lain di luar dirinya.

Beberapa peserta kesenian Bantengan mengalami kondisi trance atau kalap hingga kehilangan kesadaran. Foto: Dokumentasi pribadi di Desa Saptorenggo, Pakis, 27 April 2024.

Terkait hal ini, saya sempat berbincang dengan Bapak. Dwi, seorang Pegiat Kesenian Bantengan Malang, untuk memahami lebih dalam tentang hubungan silat dan kondisi kesurupan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa fisik yang kuat adalah syarat mutlak.

"Bantengan itu dasarnya adalah pencak silat. Jadi sebelum memegang kepala banteng, fisik harus kuat dulu, kuda-kudanya harus jadi. Dulu ini dipakai untuk melatih kanuragan atau kekuatan tubuh para pendekar. Kalau sekarang, banyak yang ikut cuma ingin gaya-gayaan kesurupan saja, padahal fisiknya belum siap. Itu yang kadang bikin cedera."

Jika kita memaknai atau menginterpretasikan seni ini lebih jauh, Bantengan memiliki pesan sejarah dan moral yang dalam. Konon, kesenian ini muncul sebagai simbol perlawanan rakyat pada masa penjajahan. Banteng digambarkan sebagai rakyat jelata yang hidup berkelompok, merakyat, dan saling tolong-menolong. Namun jika diganggu, banteng akan marah dan melawan bersama-sama. Simbol perlawanan ini sering digambarkan dalam pertunjukan saat Banteng bertarung melawan Macan atau Harimau. Macan di sini sering ditafsirkan sebagai simbol penjajah atau penindas yang suka mengganggu ketenteraman rakyat.

Salah satu anak membawa kepala banteng dalam karnaval Kelurahan Tunjungsekar. Foto: dokumentasi pribadi, Kelurahan Tunjungsekar, Lowokwaru, 19 Agustus 2024.

Selain simbol perlawanan, setiap bagian dari Bantengan juga memiliki makna filosofis. Tanduk banteng melambangkan tekad yang kuat dan permohonan kepada Tuhan. Kain hitam yang menutupi tubuh melambangkan bahwa kehidupan manusia itu penuh misteri dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Sayangnya, saat ini terjadi pergeseran nilai yang cukup mengkhawatirkan dalam kesenian Bantengan. Banyak generasi muda yang ikut Bantengan hanya mengejar sensasi kesurupannya saja. Fenomena ini menjadi masalah tersendiri karena seringkali kesurupan yang terjadi adalah kesurupan yang dibuat-buat atau pura-pura, dan sulit dikendalikan karena tidak melalui tuntunan seorang pawang atau sesepuh yang mengerti tata caranya. Padahal, sejatinya proses ndadi adalah proses komunikasi batin dengan leluhur desa atau dhanyangan, bukan ajang pamer kekebalan tubuh semata.

Beberapa peserta kesenian Bantengan mengikuti karnaval. Foto: Dokumentasi pribadi di Jl. Bunga Vinolia, Lowokwaru, 25 Agustus 2024.

Bapak. Dwi juga menyoroti fenomena anak muda zaman sekarang yang asal-asalan dalam memaknai tradisi ini. Beliau menekankan perlunya etika.

"Anak muda sekarang itu semangatnya bagus, tapi kadang keblabasan. Ndadi atau kesurupan itu bukan buat gagah-gagahan atau tawuran. Itu ada tata kramanya. Masuknya roh leluhur itu tujuannya untuk penyatuan rasa, minta keselamatan, bukan buat pamer makan beling di jalanan. Kita harus kembalikan Bantengan ke niat awalnya, yaitu seni yang santun dan menghibur."

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa Bantengan di Malang bukan sekadar seni pertunjukan hura-hura. Di dalamnya tersimpan sejarah perjuangan rakyat, nilai kebersamaan atau gotong royong, dan ajaran spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan leluhurnya. Meskipun saat ini banyak tantangan seperti komersialisasi dan pergeseran nilai di kalangan anak muda, Bantengan tetap menjadi aset budaya yang berharga. Kita boleh saja menikmati atraksinya yang menegangkan, tetapi kita juga harus menghormati nilai-nilai luhur yang ada di baliknya. Melestarikan Bantengan berarti juga menjaga semangat persaudaraan dan identitas masyarakat Malang agar tidak hilang ditelan zaman.

REFERENSI

Broadcasting Grafika. (2022, 24 April). Bantengan "Yang Tak Lekang Oleh Zaman" - Film Dokumenter [Video]. YouTube.

• Dwi. (2025, Januari 1). Komunikasi pribadi [Wawancara bersama Pegiat Kesenian Bantengan Malang].

• Hermiawan, N. (2013). Jejak-jejak mistik di balik kesenian bantengan Malang. Jurnal Perspektif, 8(2), 141-163.

Katadata. (2023). Mengenal bantengan, warisan budaya Kabupaten Malang yang penuh keberanian. Katadata.

• Khoyyum, A., Faris, A., Thoriqoh, I. U., & Nisak, L. (2017). Seni tradisional bantengan di Dusun Boro Panggungrejo Gondanglegi Malang: Sebuah kajian etnografi. Jurnal Penelitian Ilmiah Intaj, 1, 49-76.

Radar Malang. (2023). Mengupas sejarah kesenian bantengan: Ternyata sudah eksis sejak zaman Kerajaan Singhasari. Jawa Pos Radar Malang.

SMAN 1 Pagak. (n.d.). Seni bantengan Malang. SMAN 1 Pagak.

Universitas Kanjuruhan Malang. (n.d.). Kearifan lokal kesenian bantengan. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unikama.

Nama: Bisal Armaish

NIM: 251481075

Prodi: Film dan Televisi

Mata Kuliah: Apresiasi Seni Tradisi