Menelusuri Jejak Pembuatan Keris di Museum Keris Brojobuwono

Mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta Prodi Film dan Televisi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bisal Armaish tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Museum Keris Brojobuwono adalah sebuah destinasi budaya yang unik di Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Meskipun secara administratif berada di Karanganyar, lokasinya sangat dekat dengan Kota Solo. Tempat ini didirikan pada tahun 1999 oleh Basuki Teguh Yuwono dan diresmikan sebagai museum pada tahun 2012. Berbeda dengan museum pada umumnya yang hanya memajang koleksi benda mati, tempat ini juga merupakan sebuah padepokan aktif. Artinya, di sini pengunjung bisa melihat langsung aktivitas pembuatan keris. Suasananya sangat kental dengan budaya Jawa, mulai dari bangunan tradisional hingga aktivitas para perajin yang sibuk menempa besi.

Proses produksi atau pembuatan keris di Brojobuwono adalah sebuah proses ritual dan teknis yang sangat panjang. Tahapannya sangat ketat dan tidak boleh asal-asalan. Proses pembuatan keris dimulai dari tahap pra-produksi. Pertama, pemesan berkonsultasi dengan Empu. Di sini tidak terjadi transaksi jual-beli biasa. Empu akan menghitung weton (hari lahir dalam kalender Jawa) dan kepribadian pemesan untuk menentukan jenis keris yang cocok. Jadi pemesan tidak bisa seenaknya meminta bentuk keris yang diinginkan, karena Empu yang akan menentukannya agar selaras dengan karakter pemiliknya. Biasanya terdapat dua opsi bentuk yang dapat dipilih oleh pemesan.
Setelah sepakat, selanjutnya dilakukan ritual Wiwitan. Upacara ini biasanya digelar di atas jam 10 malam. Berbagai sesaji disiapkan, seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, jajanan pasar, dan hasil bumi. Bahan baku pembuatan keris antara besi dan nikel, turut serta disandingkan di tumpeng. Sesaji ini bukan hal mistik yang negatif, melainkan simbol doa. Contohnya adanya ‘Daun Kluwih’ yang melambangkan harapan akan kelebihan rezeki, dan ‘Cengkir Gading’ yang bermakna kecepatan berpikir atau fokus yang kuat. Ritual ini ditutup dengan Umbul Dunga atau doa bersama secara Islam.
Keesokan harinya, proses berlanjut ke Kirab. Pemesan keris, Empu, dan tim perajin akan mengarak bahan baku keris mengelilingi satu RT atau kampung. Setelah itu langsung menuju ke Besalen (tempat penempaan). Di sinilah proses fisik dimulai. Pemesan keris bisa melihat proses penempaan keris yang pertama kali. Di dalam Besalen, Empu bersama Sokabat Empu (asisten empu) dan Tim Panjak (kelompok penempa) mengenakan busana serba putih. Prisma Dwi Pratiwi, mahasiswi prodi Senjata Tradisioal Keris ISI Surakarta, yang mendalami keris di sini, menjelaskan bahwa:
"Tujuan memakai busana atau kain berwarna serba putih adalah yang pertama sebagai identitas dari Museum Keris Brojobuwono. Yang kedua, merupakan lambang kesucian. Yang ketiga, untuk mengurangi pantulan panas saat menempa, karena suhu saat pemijaran (penyatuan antara besi dan nikel) bisa mencapai 1200-1500 derajat celcius."
Selama proses pembuatan keris, mereka melakukan Topo Bisu, yaitu menahan pembicaraan yang tidak perlu. Tujuannya agar hati tetap bersih dan fokus memanjatkan puji syukur dan doa dalam hati. Ada juga pantangan unik seperti tidak boleh memakan makanan berbentuk bulat dan berair seperti semangka, karena dikhawatirkan kandungan airnya bisa memicu luka bakar serius jika terkena percikan api suhu tinggi.
Logam besi dan nikel dilebur, disisipkan baja, lalu ditempa hingga memanjang. Setelah bentuk kasar jadi, dilakukan proses Minggiri (pemipihan dan pembentukan kelokan) dan penghalusan dingin dengan gerinda. Salah satu tahap krusial adalah Nyepuh, pengerasan logam. Empu Basuki menggunakan campuran air dari empat penjuru, yaitu Gunung Lawu, Laut Selatan, Alas Krendowahono, dan sungai utara, ditambah air sumur rumah, yang dipercaya memberikan karakter kuat pada bilah keris.
Tahap akhir adalah Finishing yang terdiri dari tiga tahap. Yang pertama, tahap Sangkling, yaitu menghaluskan permukaan menggunakan batu asah dan penajaman bilah keris. Kemudian tahap Kamalan, untuk menimbulkan tekstur dipermukaan keris. Caranya bilah keris direndam ke dalam campuran lumpur, belerang, dan garam yang mengandung asam, durasinya kurang lebih satu hari satu malam. Nantinya akan timbul pamor. Dan proses akhirnya adalah Pewarangan, yaitu tahap pewarnaan bilah keris dari putih mengkilap menjadi hitam dan putih yang kontras dengan cara dimasukkan ke dalam air warangan. Proses total ini bisa memakan waktu hingga satu tahun. Setelah keris jadi, dilakukan upacara serah terima, yang sama dengan proses Wiwitan, namun tanpa proses penempaan.
Interpretasi dari seluruh proses rumit ini adalah bahwa keris di Brojobuwono bukan sekadar senjata. Dina, mahasiswi Pendidikan Bahasa Jawa UNS, memberikan pandangannya sebagai berikut:
"Orang yang membuat keris itu harus menggunakan kain putih, karena warna putih itu melambangkan kesucian. Keris itu dilambangkan sebagai bayi, sedangkan kalau melahirkan bayi harus suci, sama halnya dengan membuat keris."
Selain nilai kesucian, daya tarik lain dari museum ini adalah inovasi bahan yang digunakan. Salah satu koleksi keris di sini menggunakan bahan campuran abu vulkanik dari letusan Gunung Semeru. Hal tersebut cukup menarik, karena menunjukkan bahwa keris bisa menjadi penanda peristiwa alam atau sejarah. Bahan keris tidak hanya dari besi biasa atau batu meteorit, tetapi bisa berasal dari unsur alam yang memiliki cerita khusus. Aspek dedikasi Empu dalam mempelajari keris, filosofi di dalamnya, serta nilai-nilai luhur seperti kesabaran, ketelitian, dan doa inilah yang "dibeli" oleh kolektor dengan harga puluhan juta rupiah. Bukan hanya karya semata, tapi juga soal rasa.
Keberadaan Museum Keris Brojobuwono ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke berbagai sektor kreatif agar lebih relevan bagi generasi muda. Di bidang perfilman, kita bisa membuat pendekatan dokumenter untuk mengangkat sosok Empu Basuki, mulai dari menelusuri ketertarikan awalnya terhadap keris, proses pembelajarannya, hingga dedikasinya saat ini. Selain biografi, kita bisa mendokumentasikan seluruh prosesi pembuatan keris, dari ritual Wiwitan hingga serah terima yang dikemas secara menarik dan sinematik. Secara konsep dan visual, kita bisa ambil referensi dari program Youtube "Kisarasa" yang mengulas kuliner nusantara. Nah bedanya kita menggunakan keris sebagai objek utamanya. Sementara itu, dalam bidang ekonomi, Museum Keris Brojobuwono berpeluang mengembangkan cendera mata yang variatif. Tujuannya agar wisatawan tidak hanya sekadar menikmati koleksi dan mengamati proses produksi keris, tetapi juga memiliki oleh-oleh untuk dibawa pulang. Produk tersebut dapat berupa aksesori kecil seperti gantungan kunci berbentuk replika keris, perhiasan (gelang, kalung, atau cincin) yang unik, hingga kaos boxy dengan desain kekinian bermotif pamor untuk menggaet anak muda.
REFERENSI
• Harsrinuksmo, B. (2004). Ensiklopedi keris. Gramedia Pustaka Utama.
• Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Data pokok kebudayaan: Museum keris Brojobuwono. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. https://referensi.data.kemdikbud.go.id/
• Pak A Budaya. (2020, 28 Desember). Beginilah pembuatan keris. Empu Basuki Teguh Yuwono [Video]. YouTube. https://youtu.be/P68idBKDGHo
• Yuwono, B. T. (2011). Keris naga. Museum Pustaka.
• Anonim. (2025, November 18). Komunikasi pribadi [Wawancara langsung di Museum Keris Brojobuwono].
• Dina. (2025, November 18). Komunikasi pribadi [Wawancara dengan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Jawa UNS].
• Pratiwi, P. D. (2025, November 18). Komunikasi pribadi [Wawancara dengan Mahasiswi Prodi Senjata Tradisional Keris ISI Surakarta].
ANGGOTA KELOMPOK
(1) Gigih Yuwan Ahmad (NIM 251481064, Kelas B)
0898-3314-701
(2) Bisal Armaish (NIM 251481075, Kelas B)
0858-5417-3198
