Konten dari Pengguna

Botol Plastik Kosong, Saldo Berisi, Kepedulian Masih Misteri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ainun Awanda F tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 27 November 2025, sebuah mesin penukar botol plastik hadir di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Awalnya, keberadaan mesin ini belum banyak diketahui masyarakat. Bentuknya Botol Kosong, Saldo Berisi, Kepedulian Masih Misteri. Mungkin hanya dianggap sebagai fasilitas biasa di lingkungan rumah sakit. Namun, ketika seseorang mulai memahami fungsi dan manfaatnya, mesin tersebut perlahan menarik perhatian. Botol plastik bekas yang biasanya dibuang ternyata dapat ditukar dengan imbalan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berharga mendadak punya nilai ekonomi. Kabar tentang manfaat mesin itu pun menyebar, memancing rasa penasaran, hingga orang-orang mulai berdatangan membawa botol plastik untuk dimasukkan ke dalamnya. Antusiasme tersebut berkembang begitu cepat.

Dalam waktu kurang dari satu minggu sejak keramaian mulai meningkat, mesin itu dilaporkan telah penuh oleh botol plastik. Selama kurang lebih tiga bulan, aktivitas pengumpulan botol sempat mewarnai penggunaan mesin tersebut. Masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak terbiasa menyimpan sampah plastik mulai melihat botol bekas sebagai sesuatu yang layak dikumpulkan. Namun, setelah sekitar tiga bulan berlalu, suasana perlahan berubah. Mesin yang semula ramai mulai jarang digunakan. Sejumlah orang yang pernah memasukkan botol mengaku tidak lagi melakukannya karena merasa kegiatan tersebut tidak terlalu penting, enggan mengumpulkan botol bekas, atau teringat bahwa mesin itu pernah penuh. Dari keramaian menuju kesunyian, muncul pertanyaan: apakah kepedulian lingkungan benar-benar tumbuh, atau masyarakat hanya mengikuti tren yang menawarkan keuntungan?

sumber visual : koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber visual : koleksi pribadi

Fenomena ini menarik ditelaah melalui konsep fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang diikuti orang lain. FOMO tidak hanya muncul ketika seseorang ingin mengunjungi tempat yang sedang viral atau membeli barang yang ramai diperbincangkan. Dorongan serupa juga mungkin hadir ketika masyarakat melihat orang lain mengumpulkan botol plastik untuk mendapatkan imbalan. Rasa penasaran, keuntungan ekonomi, dan keinginan untuk ikut mencoba dapat bertemu dalam satu perilaku. Akibatnya, kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan berpotensi menjadi tren yang ramai dilakukan, tetapi belum tentu bertahan lama.

Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua pengguna mesin digerakkan oleh FOMO. Sebagian mungkin memang peduli terhadap lingkungan, sebagian tertarik pada imbalan, dan sebagian lainnya sekadar ingin mencoba. Motivasi tersebut bahkan dapat hadir bersamaan. Mendapatkan keuntungan bukanlah sesuatu yang keliru. Imbalan ekonomi justru dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan ramah lingkungan. Persoalannya adalah apakah kebiasaan itu bertahan ketika rasa penasaran menghilang dan tren tidak lagi ramai.

Mengumpulkan botol plastik membutuhkan waktu, ruang penyimpanan, dan usaha untuk membawanya ke lokasi mesin. Ketika fasilitas penuh, penggunaan menjadi kurang praktis, atau manfaat yang dirasakan tidak lagi menarik, seseorang mungkin memilih berhenti. Di sinilah perbedaan antara euforia dan kebiasaan terlihat. Euforia mendorong seseorang mencoba sesuatu yang baru, sedangkan kebiasaan membutuhkan pengulangan hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, keberhasilan mesin penukar botol plastik tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat mesin menjadi penuh. Pengelola perlu memastikan fasilitas tetap dapat digunakan, sementara masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa pemilahan sampah bukan sekadar aktivitas musiman. Keuntungan ekonomi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan, asalkan kebiasaan baik tidak bergantung sepenuhnya pada tren. Sebab, botol plastik memang bisa mengisi saldo, tetapi kepedulian seharusnya tidak ikut kosong ketika keramaian berakhir.