27 Saham Vietnam Masuk Indeks FTSE, Dana Asing Diproyeksi Capai USD 3 M

Saham-saham Vietnam berpotensi bangkit dari kinerja yang kurang menggembirakan tahun ini usai memperoleh bobot yang lebih besar dari perkiraan dalam peninjauan indeks tengah tahunan FTSE Russell.
Penyedia indeks tersebut mengatakan pada Jumat (21/8) bahwa 27 saham Vietnam akan ditambahkan ke sejumlah indeks acuannya, termasuk indeks pasar negara berkembang, yang akan berlaku mulai 21 September.
Vietcap Securities JSC menyatakan, jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan 23 saham yang diperkirakan FTSE pada April. Penambahan tersebut akan memberikan saham Vietnam bobot sebesar 0,49 persen, lebih tinggi dari proyeksi awal FTSE.
Vietnam memperoleh peningkatan status menjadi pasar negara berkembang sekunder tahun lalu, yang kemudian dikonfirmasi pada April.
“Dengan adanya peningkatan bobot indeks Vietnam, aliran dana indeks kini dapat mencapai USD 3 miliar, bukan USD 2 miliar seperti sebelumnya. Kami meyakini pasar akan merespons positif berita ini pada pekan mendatang,” kata direktur di Vietcap Securities, Anthony Le, dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/8).
Peningkatan tersebut datang pada momentum penting bagi Vietnam, ketika pasar sahamnya menghadapi kemungkinan mencatatkan kerugian tahunan pertamanya dalam empat tahun.
Aksi jual yang terus dilakukan investor asing, dengan total lebih dari USD 3 miliar sepanjang tahun ini, telah membuat indeks VN Index tertinggal dari MSCI ASEAN Index dengan selisih terbesar sejak 2022, meski Vietnam tetap menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
FTSE mengatakan bahwa Vingroup JSC, Vinhomes JSC, Hoa Phat Group JSC, dan Masan Group Corp. termasuk di antara 27 saham yang akan ditambahkan ke indeksnya sebagai saham berkapitalisasi besar, menengah, dan kecil.
Selain itu, sebanyak 90 saham lainnya telah ditetapkan untuk dimasukkan sebagai saham berkapitalisasi mikro, meskipun saham-saham tersebut tidak akan masuk ke dalam indeks pasar negara berkembang yang banyak menjadi acuan investor.
Indeks acuan Vietnam, VN Index, naik sebanyak 1,4 persen pada Senin (24/8), mengungguli indeks regional MSCI. Saham Vingroup melonjak sebanyak 3,4 persen, sementara saham Vinhomes, Hoa Phat, dan Masan juga menguat.
Penambahan tersebut dapat menopang saham-saham Vietnam dalam jangka pendek, tetapi penerapannya secara bertahap hingga September 2027 membuat aliran dana pasif kemungkinan akan meningkat secara perlahan, bukan masuk dalam satu gelombang sekaligus.
Kenaikan kembali harga minyak global akibat ketegangan di Timur Tengah dapat membebani pasar saham, mengingat Vietnam sangat bergantung pada impor. Kemudian dampak dari skandal berlian di Phu Nhuan Jewelry JSC, perusahaan perhiasan dengan kapitalisasi pasar terbesar di negara tersebut, juga menambahkan tantangan baru bagi saham-saham Vietnam.
Meski demikian, investor memperkirakan status pasar yang baru tersebut tidak hanya akan menarik dana pasif, tetapi juga dana pasar negara berkembang global yang sebelumnya tidak dapat berinvestasi di Vietnam karena mandat investasinya. Vietnam juga menargetkan pertumbuhan tahunan yang berkelanjutan sebesar 10 persen.
“Dampak yang lebih penting dari peningkatan status ini adalah terbukanya akses bagi para manajer dana aktif, yang cenderung membawa aliran dana lebih besar dan lebih berkelanjutan dibandingkan dana pasif yang hanya mengikuti indeks,” kata partner di Turicum Investment Management AG, Marco Martinelli.
“Jika digabungkan dengan valuasi yang masih rendah di sebagian besar pasar, hal tersebut menjadi alasan yang lebih kuat bagi investor untuk membeli sekarang,” lanjut Martinelli.
