Kumparan Logo

Adhi Karya Ungkap Penyebab Proyek LRT City Mandek: Market Turun, Cash Flow Sulit

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja menyelesaikan proyek infrastruktur stasiun LRT City Jatibening, di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/3/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyelesaikan proyek infrastruktur stasiun LRT City Jatibening, di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/3/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, mengungkap penyebab mandeknya sejumlah proyek LRT City yang digarap anak usahanya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP).

Moeharmein menjelaskan, berdasarkan pemetaan Adhi Karya, terdapat sekitar 5.400 unit LRT City yang telah terjual. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.000 unit sudah diserahterimakan kepada konsumen, sementara sekitar 2.400 unit masih belum diserahterimakan.

"Market yang turun. Jadi penjualan dari ADCP ini enggak sesuai dengan ekspektasinya. Kita tahu ada krisis ekonomi 2018, dihantam lagi dengan COVID 19, itu membuat market tidak seimbang, sehingga mereka (ADCP -red) kesulitan cash flow," kata Moeharmein di Kantor BP BUMN, Jakarta, Selasa (15/9).

Ia menambahkan, target penyelesaian setiap proyek memang berbeda-beda tergantung tahapan pembangunannya.

Ada proyek yang konstruksi strukturnya sudah rampung dan hanya menyisakan pekerjaan akhir seperti pemasangan keramik, jendela, atau plafon, namun ada pula yang bahkan belum mencapai tahap pembangunan struktur bangunan.

(kiri ke kanan) Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Moeharmein Zein Chaniago, Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf, dan Menteri PKP Maruarar Sirait di Kantor BUMN, Selasa (15/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

"Kalau hanya tinggal pasang plafonnya saja...dalam satu tahun selesai. Tapi kalau ada yang belum strukturnya sendiri belum dibangun...itu tentu akan makan waktu lebih lama," ujarnya.

Di sisi lain, perwakilan Paguyuban Korban LRT City, Ryan Diva, menyatakan sudah ada sekitar 150-200 konsumen yang tergabung dalam paguyuban tersebut.

Dari jumlah itu, mayoritas atau sekitar 93 persen meminta pengembalian dana (refund), sementara sisanya sekitar 8 persen memilih menunggu penyelesaian unit apartemen.

"Jadi kami sangat terbuka dengan solusi nanti dari Danantara seperti apa. Yang pasti, yang ingin disampaikan adalah jangan zolimi rakyat," kata Ryan saat ditemui di gedung BP BUMN, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

Ryan menjelaskan, permintaan refund paling banyak datang dari konsumen proyek LRT City di Ciracas dan Tebet.

Eastern Gern LRT City Bekasi. Foto: Dok. Adhi Commuter Property

Menurutnya, konsumen dari proyek dengan progres pembangunan sekitar 75 persen justru lebih banyak menyuarakan keluhan, lantaran unit mereka sebenarnya sudah mendekati tahap penyelesaian.

Sementara itu, paguyuban mengaku masih kesulitan menjangkau konsumen dari proyek yang progres pembangunannya masih 0 persen. Sehingga kemungkinan masih ada konsumen terdampak yang belum masuk dalam pendataan mereka.

Ryan mengatakan, pihaknya masih akan menginventarisasi jumlah konsumen terdampak sekaligus mencatat aspirasi mereka, baik yang memilih refund maupun tetap menunggu penyelesaian unit.

"Nanti 10-15 (Oktober) kita akan ketemu sama Pak Dony (Kepala BP BUMN) lagi. Saya berharap tidak molor waktunya karena banyak rakyat yang menunggu," ujarnya.

LRT City pada awalnya direncanakan sebagai hunian vertikal yang mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) dan berdampingan dengan Stasiun LRT Jabodebek.

Menurut laman resminya, total terdapat 12 proyek LRT City yang tersebar di berbagai lokasi yakni LRT City Sentul (Royal Sentul Park), LRT City Jatibening, LRT City Bekasi - Eastern Green, Cisauk Point, LRT City Bekasi - Green Avenue, LRT City Ciracas, Oase Park, LRT City Tebet, LRT City MTH, Adhi City Sentul, Grand Central Bogor, dan LRT City Cibubur.