Kumparan Logo

Aksi Jual Saham Chip Meluas, Bursa Korsel Anjlok 8,3 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pekerja melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Komposit Korea di ruang perdagangan di Bank Bursa Korea di Seoul pada 7 Mei 2012. Foto: Jung Yeon-je / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Komposit Korea di ruang perdagangan di Bank Bursa Korea di Seoul pada 7 Mei 2012. Foto: Jung Yeon-je / AFP

Aksi jual saham cip meluas ke Korea Selatan, memicu kekhawatiran bahwa reli saham kecerdasan buatan (AI) tahun ini sudah terlalu cepat.

Mengutip Bloomberg, di sisi lain, harga minyak Brent merosot ke level terendah sejak sebelum perang Timur Tengah akibat peningkatan arus pelayaran di Selat Hormuz.

"Indeks Kospi, Korsel anjlok hingga 8,3 persen, dipimpin kemerosotan saham SK Hynix sebesar 14 persen," tulis laporan Bloomberg seperti yang dikutip kumparan, Kamis (2/7).

Sentimen pasar teknologi memburuk setelah Meta Platforms Inc. dilaporkan berencana menjual kelebihan kapasitas komputasi awannya, yang memicu kecemasan adanya kelebihan pasokan infrastruktur AI.

Tekanan bertambah karena Apple Inc. dikabarkan tengah menjajaki pembelian cip dari dua produsen asal China, sebuah langkah yang berpotensi memukul produsen semikonduktor Korea Selatan dan Jepang.

"Saham AI sudah naik terlalu tinggi dan ekspektasi pasar sangat besar, sehingga berita buruk sekecil apa pun akan memicu aksi ambil untung," kata Joshua Crabb, Kepala Ekuitas Asia Pasifik di Robeco, Hong Kong.

Koreksi ini juga membuat kontrak berjangka Wall Street berbalik negatif dan bursa Eropa bersiap dibuka melemah.

Sementara itu, harga minyak Brent turun 1,3 persen ke posisi 70,63 dolar AS per barel. Di sektor keuangan, harga emas bergerak stabil di dekat 4.070 dolar AS per ons setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan risiko inflasi mulai mereda, sekaligus meredam spekulasi kenaikan suku bunga pada Juli.

Fokus investor kini beralih ke rilis data lapangan kerja AS Juni yang diperkirakan tetap kuat, khususnya di sektor perhotelan yang terdongkrak momentum Piala Dunia.

instagram embed