Kumparan Logo

Analis Nilai Rebalancing MSCI Tak Berdampak Besar ke Pasar Saham RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengakses data saham dari perangkat laptop di Jakarta, Selasa (11/2/2025).  Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengakses data saham dari perangkat laptop di Jakarta, Selasa (11/2/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Pelaku pasar menantikan pengumuman hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status pasar modal Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan pengumuman MSCI kali ini diperkirakan tak membawa kejutan besar bagi pasar saham Indonesia. Sebab, MSCI sebelumnya sudah membekukan atau freeze proses rebalancing saham Indonesia sejak awal tahun.

“Saya rasa besok gak ada kejutan besar dari MSCI. Sejak April 2026 (bahkan Januari), MSCI sudah membekukan (freeze) rebalancing saham Indonesia,” ujar Gunarto kepada kumparan, Senin (11/5).

Gunarto memperkirakan dalam periode evaluasi kali ini tidak ada penambahan saham baru ke indeks MSCI, tidak ada migrasi saham dari kategori small cap ke standard, serta belum ada kenaikan baik Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS).

Selain itu, MSCI juga masih mengevaluasi sejumlah isu terkait pasar modal Indonesia, seperti konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC) dan aturan free float 15 persen.

“Jadi, besok kemungkinan besar konfirmasi status quo (freeze tetap berlaku). Update final evaluasi reformasi transparansi Indonesia (free float 15 persen, HSC) baru di Juni 2026,” kata Gunarto

“Walau demikian, berkaca pada investor asing yg bukukan posisi net beli sebanyak USD 660 juta pada Jumat lalu, maka saya melihat IHSG masih memberikan daya tarik buat investor global,” tambahnya.

Gunarto menuturkan investor asing saat ini masih memburu saham-saham dengan fundamental kuat, emiten pembagi dividen, hingga sektor-sektor yang sedang berada dalam tren positif seperti energi, kesehatan, pertanian, dan transportasi.

“IHSG sebenarnya masih bisa naik ke atas 7.128 pada akhir pekan ini,” ututur Gunarto.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG sejauh ini belum mengalami breakdown yang mengindikasikan pelemahan lebih dalam.

“Yang jelas, waktu perdagangan tadi, IHSG masih belum berhasil mengalami breakdown loh ya. Walaupun sebenarnya sudah menutup lower loh, tapi belum berhasil mengalami breakdown secara valid,” ujar Nafan.

Nafan menyebut pasar masih menunggu hasil evaluasi MSCI terkait kemungkinan perubahan komposisi indeks dan status pasar Indonesia. Namun, sejauh ini MSCI belum menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi frontier market.

“Karena MSCI itu masih mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Bursa Efek,” ungkap Nafan.

Menurutnya, sejumlah saham besar seperti perbankan dan Telkom diperkirakan masih akan tetap bertahan di indeks MSCI. Namun, beberapa emiten lain masih harus memenuhi syarat terkait free float, Foreign Inclusion Factor (FEF), dan konsentrasi kepemilikan saham.

“Tentunya kembali lagi ini secara teknikal, tadi kan gagal mengalami breakdown. Malah terjadi buy-on-dip strategi,” tutur Nafan.

Pada penutupan perdagangan Senin (11/5), IHSG terkoreksi 63,78 poin atau 0,92 persen ke level 6.905,62. Sejalan, indeks LQ45 juga anjlok 1,27 persen dan ditutup pada posisi 668,634.

Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp 20,32 triliun dengan volume 41,07 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 2,81 juta kali frekuensi.

video story embed