Arah Kemudi Moneter BI di Tangan Destry Damayanti

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adzka Rafiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada hari Rabu, 2 September 2026, Destry Damayanti resmi memulai langkah barunya sebagai gubernur Bank Indonesia setelah sebelumnya menjalani proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI pada 26 Agustus 2026. Di tengah ramainya atas proses pencalonan tunggal, lembaran baru kepemimpinan beliau ini langsung menghadapi tantangan yang berat. Destry harus membuktikan bahwa visi "Sinergi Merah Putih" yang dijelaskannya di depan komisi XI DPR RI bukan sebuah slogan biasa, melainkan sebuah perjalanan menuju kemandirian ekonomi moneter Indonesia.
Sebagai gubernur Bank Indonesia perempuan pertama di Indonesia, harapan publik dan pelaku pasar uang kini menunggu kemampuannya dalam mengelola mata uang kita di tengah kondisi geopolitik yang tidak pasti. Sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau, kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinannya akan ditopang dengan tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas rupiah, mendorong pertumbuhan yang inklusif, serta mempererat sinergi kelembagaan dengan pemerintah dan otoritas terkait.
Namun, tantangan menanti kepemimpinan Destry antara sinergi dan independensi Bank Indonesia. Di saat postur belanja pemerintah yang semakin ekspansif, bayang-bayang dominasi fiskal selalu mengintai. Apabila kebijakan suku bunga atau pengelolaan likuiditas longgar melayani pembiayaan pemerintah, integritas dan kepercayaan investor dapat goyah sewaktu-waktu.
Pada akhirnya, kepemimpinan seorang Destry Damayanti akan dinilai dari keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak populis, ketenangan dalam mengendalikan inflasi, serta tentunya memastikan independensi Bank Indonesia di mata masyarakat dan investor.
