Bahlil Siapkan CNG 3 Kg Demi Kurangi Ketergantungan LPG: Lebih Murah 30-40%
·waktu baca 4 menit

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah kini sedang menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) kemasan 3 kg. Hal ini merupakan langkah untuk mengurangi ketergantungan LPG.
Sebelumnya, CNG juga sedang dalam pembahasan sebagai salah satu alternatif atas pasokan LPG yang terganggu akibat perang di Iran.
“Maka kemudian muncullah ide untuk kita bikin CNG. CNG ini adalah sama juga gas, tapi dia bukan LPG dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa MBG-MBG. Tetapi untuk yang 3 kilogramnya, ini baru mau dibuat,” kata Bahlil dalam acara Dialog Kedaulatan Pangan dan Energi Menuju pertumbuhan Ekonomi Nasional di IPB, seperti dikutip pada Minggu (3/5).
Selain menjelaskan bahwa CNG bukan merupakan hal baru karena sudah digunakan di beberapa sektor, Bahlil juga menjelaskan biaya produksi CNG dapat lebih murah. Meski demikian, ia tak menutup adanya tantangan terkait rencana tersebut.
“Dan ini cost-nya lebih murah 30-40 persen. Dan ini tantangannya juga banyak. Saya bilang tidak ada urusan. Untuk efisiensi, kebaikan, dan pelayanan rakyat, apapun kita pertaruhkan untuk kita wujudkan agar kita mandiri,” ujarnya.
Adapun berdasarkan paparannya, CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengkompresi gas alam yang terdiri dari C1 dan C2.
Setelah itu, CNG dapat disimpan dan didistribusikan dengan bejana atau tabung tekanan yang memiliki tekanan tinggi antara 200 sampai 500 bar atau 2.900 sampai 3.600 psi. Adapun ketahanan tabung tersebut bisa mencapai 650 bar atau 9.427 psi yang artinya tabung masih ada dalam standar yang aman.
Sebelumnya, Bahlil menjelaskan pasokan CNG lebih mudah didapatkan dari dalam negeri. Dengan begitu, CNG bisa dimanfaatkan sebagai energi bersih alternatif untuk transportasi, dan industri.
Adapun harga LPG nonsubsidi telah naik nyaris 19 persen per 18 April 2026. Harga baru ini berlaku pada tabung Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg seiring dengan naiknya harga minyak mentah dan gas karena perang.
Berdasarkan laman Pertamina Patra Niaga, harga terbaru LPG 5,5 kg untuk wilayah DKI dan Jawa Rp 107.000 per tabung, naik Rp 17.000 jika dibandingkan harga terakhir kali pada November 2023 Rp 90.000 (18,89 persen).
Sementara harga LPG 12 kg naik Rp 36.000 dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 per tabung. Kenaikannya mencapai 18,75 persen.
Selain di DKI Jakarta dan Jawa, harga LPG 5,5 kg ada 12 kg lebih mahal lagi. Misalnya, di Provinsi Aceh hingga Kepulauan Riau naik menjadi Rp 111.000 dan Rp 230.000 per tabung.
Di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sulawesi masing-masing menjadi Rp 114.000 dan Rp 238.000 per tabung. Termahal ada di Maluku dan Papua yang dijual Rp 134.000 dan Rp 285.000 per tabung.
Beda LPG dan CNG
Dikutip dari laman resmi PT Perusahaan Gas Negara, LPG dan CNG memiliki karakteristik yang berbeda.
LPG adalah campuran propana dan butana yang disimpan dalam wujud cair pada tekanan dan suhu tertentu. Sementara CNG merupakan bentuk gas alam yang dikompresi pada tekanan tinggi, biasanya di atas 200 bar, untuk memudahkan penyimpanannya dan penyalurannya melalui transportasi.
Adapun gas alam yang digunakan dalam CNG adalah campuran hidrokarbon yang terdiri dari metana, etana, propana, dan butana. Walau demikian, CNG lebih umum terdiri dari metana dengan kadar lebih dari 95 persen
Dari sisi penyimpanan, CNG juga disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat.
Saat ini, CNG digunakan di sektor transportasi, industri sampai rumah tangga. Adapun kelebihan dari CNG adalah emisi rendah, harga yang stabil sampai sumber daya gas alam yang melimpah. Walau demikian, saat ini infrastruktur pengisian CNG masih terbatas dan ruang penyimpanan CNG memerlukan ruang yang besar.
Berbeda dengan CNG yang memanfaatkan sumber daya gas alam yang melimpah, Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa saat ini LPG nasional hingga kini masih bergantung pada impor sekitar 7 juta ton per tahun.
