Kumparan Logo

Bahlil Targetkan Lifting Minyak Naik Jadi 612.500 Barel per Hari pada 2027

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi (rakor) terkait kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi (rakor) terkait kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan lifting minyak bumi pada 2027 sebesar 612.500 barel per hari (bph), naik dari target dalam APBN 2026 sebesar 610.000 bph. Sebelumnya, pemerintah mengusulkan asumsi lifting minyak 2027 dalam kisaran 605.000-620.000 bph.

“Di 2027 memang ancang-ancang kita dalam nota pengantar APBN awal asumsi itu kan 605 (ribu) sampai 620 (ribu) barel per day. Nah tadi kita sepakati menjadi 612.500 barel per day,” kata Bahlil dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (31/8).

Bahlil menjelaskan, target tersebut telah dibicarakan dengan beberapa kementerian terkait dan sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.

Demi mengejar target lifting 2027, pemerintah menyiapkan tambahan produksi dari sejumlah sumber. Salah satunya berasal dari Petronas di wilayah Madura hingga penambahan potensi sumber di Sumatera.

Bahlil juga menyebut kesiapan infrastruktur penyaluran menjadi faktor penting agar tambahan lifting dapat terserap. Gangguan pada sektor kelistrikan maupun pipa berpotensi menghambat penyaluran minyak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (tengah) berbincang dengan petugas pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bolon, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026). Foto: Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTO

“Terus ada beberapa penambahan sumber kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumber kita yang ada di Sumatera. Jadi saya pikir insyaallah doakan aja mudah-mudahan gak ada trouble di sektor listrik atau di pipa,” jelas Bahlil.

Selain lifting minyak bumi, pemerintah menargetkan lifting gas bumi pada 2027 sebesar 954.000 barel setara minyak per hari (BOEPD).

Adapun pada tahun ini, kata Bahlil, target lifting minyak masih belum tercapai karena adanya penurunan produksi dari sejumlah sumber. Salah satunya terjadi di Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil dari semula 185 ribu bph menjadi 140 ribu bph.

Selain itu, terdapat gangguan di salah satu blok minyak di Sumatera yang menyebabkan pemerintah kehilangan produksi sekitar 4-5 juta barel.

“Kemudian kita punya blok yang ada di Sumatera itu terjadi trouble listrik sehingga kita kehilangan kurang lebih sekitar 4-5 juta barel. Itu kemudian membuat target terhadap lifting di 2026 itu masih belum tercapai di 610 ribu barel,” ujarnya.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: QiuJu Song/Shutterstock

Di sisi lain, pemerintah mengusulkan proyeksi cost recovery hulu migas pada 2027 sebesar USD 10,1 miliar. Angka tersebut meningkat dari target 2026 sebesar USD 8,5 miliar.

Bahlil juga menyampaikan usulan volume BBM bersubsidi pada 2027 sebesar 19,561 juta kiloliter (KL), yang terdiri dari minyak tanah sebesar 0,561 juta KL dan minyak solar sebesar 19 juta KL.

Sementara itu, pemerintah mengusulkan volume LPG 3 kilogram pada 2027 sebesar 8 juta metrik ton dan subsidi tetap untuk minyak solar diusulkan sebesar Rp 1.000 per liter.

“Sama seperti tahun sebelumnya, minyak solar masih banyak dipergunakan untuk transportasi darat, transportasi laut, kereta api, usaha perikanan, usaha pertanian, usaha mikro, dan lain-lain. Sehingga diperlukan upaya menjaga bentuk dan jalan minyak solar,” kata Bahlil.

Untuk subsidi listrik, pemerintah mengusulkan anggaran sebesar Rp 117,88 triliun pada 2027. Angka tersebut menggunakan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD 75 per barel, nilai tukar Rp 17.500 per dolar AS, dan inflasi 2,5 persen.

“Jadi kalau harganya naik, asumsi naiknya menjadi USD 80 per barrel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi, termasuk nilai tukar,” tuturnya.