Kumparan Logo

Bahlil Yakin Harga Hidrogen Makin Murah, Bisa Salip Baterai Kendaraan Listrik

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan harga hidrogen sebagai bahan bakar bisa semakin murah, bahkan menyaingi harga baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle) dalam beberapa tahun ke depan.

Bahlil mengatakan, pengembangan hidrogen merupakan tuntutan dunia dan termasuk dalam peta jalan hilirisasi. Sebab, hidrogen bisa diproduksi dari air, pembangkit listrik, blok migas, hingga batu bara kalori rendah.

Dia menyebutkan, produksi gas alam di Indonesia akan naik 150 persen dalam 5 tahun ke depan melalui penemuan cadangan gas raksasa di Selat Makassar oleh ENI yang mencapai 7 TCF, hingga proyek Blok Masela yang dikelola Inpex Corporation di Provinsi Maluku.

Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya air yang sangat melimpah, misalnya Sungai Mambramo di Papua yang dapat menghasilkan energi listrik 21 gigawatt (GW) dan Sungai Kayan di Kalimantan Utara dengan potensi 14 GW.

"Masih banyak potensi-potensi lain yang bisa kita garap untuk menunjang industri hidrogen. Problemnya adalah tantangan hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan Produk energi lain," ungkap Bahlil saat Global Hydrogen Ecosystem 2026, Selasa (21/7).

Namun, dengan banyaknya potensi produksi hidrogen di Indonesia disertai pengembangan teknologi yang lebih efisien, Bahlil meyakini harganya bisa semakin kompetitif dalam 5 tahun ke depan dan bisa lebih masif dimanfaatkan oleh sektor transportasi untuk menghemat penggunaan bahan bakar.

Petugas mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Rest Area KM 379 A Tol Batang-Semarang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025). Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO

"Keyakinan saya dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu, dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," jelas Bahlil.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia sudah seharusnya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan mengakselerasi energi baru terbarukan. Dia optimistis hidrogen bisa terus berkembang pesat seiring dengan persaingan teknologi antar negara.

"Paling lambat keyakinan saya 5-10 tahun ke depan hidrogen ini akan menyaingi kendaraan listrik yang berbasis baterai, karena ini kan isu lingkungan," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa pengembangan hidrogen dan kendaraan listrik seharusnya dapat selaras dan beriringan, karena penggunaannya berbeda.

"Konsepnya adalah EV itu kan untuk jarak yang tertentu dan lebih baik nge-charge di rumah. Nah kalau konsepnya hidrogen itu jarak jauh. Makanya kita sekarang tidak selalu harus mengikuti konsep yang dari Jepang atau Amerika, itu kan pakai fuel cell," jelasnya.

Eniya menyebutkan, saat ini Indonesia mulai mengadaptasi teknologi hidrogen di mesin bus bersamaan dengan bahan bakar diesel atau Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) yang dinilai bisa menghemat penggunaan bahan bakar.

"Pertama kali kita coba combustion di Indonesia, yaitu membakar hidrogen diinjeksi ke engine-nya. Terus yang ada di sini pakai biosolar ini contoh untuk penggunaan dual fuel. Dengan adanya tambahan pembakaran di engine itu membuat bahan bakarnya lebih irit lagi dua kali lipat," tuturnya.

Armada milik Perum Damri ini dimodifikasi agar bisa menggunakan kombinasi hidrogen dan solar. Bus ini dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter. Tabung itu memiliki tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar, sementara sistem hidrogen dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 cc.

Ilustrasi bus listrik Transjakarta yang dioperasikan DAMRI. Foto: DAMRI

Selain itu, implementasi hidrogen juga dilakukan pada program dedieselisasi pembangkit. Salah satunya PLTD Rengit, Kabupaten Belitung, yang akan diubah menjadi PLTS dan penyimpanan baterai. Proyek yang masih diuji coba 6 bulan hingga 1 tahun ini terbukti menurunkan harga diesel di kawasan tersebut.

"Pulau Rengit itu sudah bisa menurunkan harga diesel yang dipakai di pulau tersebut itu USD 1 lebih, atau Rp 20.000 per KWh, itu bisa menjadi 25 sen dengan menggunakan konsep elektrolisa menggunakan air menghasilkan hidrogen. Hidrogen dibuat lagi untuk dimasukkan ke baterai pada saat siang hari menggunakan PLTS," jelas Eniya.

instagram embed