Bank Indonesia Ungkap Defisit Transaksi Berjalan RI Tetap Rendah Kuartal I 2026
·waktu baca 2 menit

Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap terjaga pada kuartal I 2026. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan defisit transaksi berjalan tercatat tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global.
“Sementara transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Ramdan melalui keterangannya, Jumat (22/5).
Ramdan mencatat, NPI mengalami defisit sebesar USD 9,1 miliar pada triwulan I 2026. Meski demikian, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi, yakni sebesar USD 148,2 miliar atau setara pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ucap Ramdan.
Ia menjelaskan, transaksi berjalan pada triwulan I 2026 mencatat defisit sebesar USD 4 miliar atau 1,1 persen dari produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencatat defisit USD 2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB.
“Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya. Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara,” jelas Ramdan.
Sementara defisit neraca perdagangan migas menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran kupon atau bunga, sedangkan kinerja neraca jasa membaik didorong penurunan impor jasa freight.
“Kinerja transaksi modal dan finansial tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga,” tutur Ramdan.
Investasi portofolio juga masih mencatat surplus, walaupun lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 akibat meningkatnya ketidakpastian global. Di sisi lain, investasi lainnya mencatat defisit yang dipengaruhi pembayaran pinjaman luar negeri jatuh tempo, penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri.
“Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS, setelah pada triwulan sebelumnya mencatat surplus 9,0 miliar dolar AS,” sebut Ramdan.
Ke depan, BI akan terus mencermati dinamika ekonomi global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan memperkuat respons bauran kebijakan bersama pemerintah serta otoritas terkait guna menjaga ketahanan eksternal.
“Kinerja NPI 2026 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB,” imbuh Ramdan.
