Bank Indonesia Yakin Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tetap Kuat di Tengah Gejolak
·waktu baca 2 menit

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tetap solid, meski dibayangi ketidakpastian global yang masih tinggi.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, konflik di Timur Tengah memberi tekanan pada ekonomi global dan berdampak ke Indonesia. Meski begitu, kondisi ekonomi domestik dinilai masih cukup tangguh. BI bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Insyaallah masih bisa mempertahankan pertumbuhan kita di triwulan I-2026 di level sekitar 5,4 persen tadi disampaikan,” kata Destry dalam acara Kick Off PINISI di Kantor Pusat BI, Senin (27/4).
Destry menegaskan, capaian tersebut tidak boleh membuat Indonesia cepat berpuas diri. Ia menilai, penguatan daya tahan ekonomi tetap menjadi kunci, terutama dengan mendorong sektor domestik seperti konsumsi dan investasi.
“Karena memang sebenarnya ekonomi Indonesia itu adalah domestic economic oriented. Dengan konsumsi menimbangkan 54 persen kemudian investasi yang 30 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung juga memperkirakan angka pertumbuhan bisa sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi BI.
“Proyeksi Kementerian Keuangan pertumbuhan di triwulan I diperkirakan 5,5 persen dengan melihat PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) meningkat cukup signifikan, kemudian ekspektasi konsumen dan sebagainya. Ini yang kemudian kita optimistis bahwa di triwulan I akan tumbuh 5,5 persen,” kata Juda.
Optimisme tersebut turut ditopang oleh kinerja APBN pada kuartal I 2026. Juda mengungkapkan, belanja pemerintah tumbuh cukup tinggi pada periode tersebut. Ia menyebut, realisasi belanja negara tercatat meningkat 31,4 persen yoy.
