Kumparan Logo

Batik 'Beras Basah' Asal Bontang Tembus Afrika hingga Eropa

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Owner Batik Beras Basah, Ewid saat Ditemui di Epicentrum Mall, Lombok, Jumat (10/7). Dok: Abdul Latif/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Owner Batik Beras Basah, Ewid saat Ditemui di Epicentrum Mall, Lombok, Jumat (10/7). Dok: Abdul Latif/kumparan

Industri kreatif asal Kalimantan Timur terus menunjukkan potensinya di kancah global. Salah satunya produk fesyen lokal asal Kota Bontang, Batik 'Beras Basah', yang sukses memikat hati konsumen mancanegara dan menembus pasar Eropa.

Batik Basah merupakan salah satu UMKM binaan Bank Indonesia yang mengikuti gelaran acara Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) Jumat, (10/7).

Meski belum melakukan pengiriman ekspor secara komersial dalam skala kontainer besar, produk batik ini berhasil ke berbagai belahan dunia melalui sistem hand-carry atau dibawa langsung oleh para pembeli sebagai buah tangan premium.

Tercatat, pesona kain dan pakaian jadi bermerek Beras Basah ini telah mendarat di negara-negara seperti Afrika, Belanda, hingga Vietnam.

Pemilik (owner) sekaligus desainer Batik Beras Basah, Ewid, mengungkapkan bahwa daya tarik utama yang membuat konsumen internasional jatuh cinta pada produknya terletak pada kekuatan identitas dan ciri khas lokal yang melekat pada setiap helai kain.

"Kalau untuk pengiriman ekspor secara resmi komersial memang belum ada, tetapi kalau sistem hand-carry itu sudah banyak sekali," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa produk tersebut sering kali dijadikan pilihan utama oleh para pelancong.

"Biasanya dibawa untuk oleh-oleh ke luar negeri. Misalkan ada pembeli yang membawanya ke Afrika, Belanda, hingga Vietnam. Mungkin mereka tertarik karena ciri khas dari segi motifnya," tambah dia.

Didirikan sejak tahun 2015, Batik Beras Basah sengaja mengambil ceruk pasar yang unik dengan mengawinkan eksotisme bawah laut dan budaya lokal Kalimantan Timur.

Ewid menjelaskan bahwa motif utama yang mereka usung adalah kekayaan biota laut.

Produk Batik Basah dok: Abdul Latif/kumparan

"Untuk motif utamanya adalah biota laut. Namun, kami juga mengombinasikannya dengan mengambil motif Dayak kontemporer," jelasnya terkait keunikan desain visual yang mereka tawarkan.

Pemilihan corak ini sengaja dilakukan demi mengangkat nilai budaya lokal, mengingat masyarakat suku Dayak merupakan salah satu representasi kultural terbesar di tanah Borneo.

Bukan hanya unggul dari segi visual, aspek keberlanjutan dan ramah lingkungan (eco-friendly) juga menjadi nilai jual utama Batik Beras Basah di pasar global.

Unit usaha kreatif ini sepenuhnya menggunakan pewarna alami yang diekstrak dari daun pohon ketapang yang tumbuh melimpah di seantero Kota Bontang.

Ewid menegaskan bahwa inovasi ini lahir sebagai bentuk pemanfaatan bahan alami yang sebelumnya sering terbuang menjadi sampah perkotaan.

"Karena melimpah di Bontang. Jadi kita memanfaatkan yang ada yang terbuang di kota Bontang. Kita manfaatin, diambil ekstraknya menjadi seperti ini," kata Ewid.

Kemandirian produksi yang kini berhasil menyerap tenaga kerja lokal tersebut ternyata lahir dari sebuah tantangan personal di masa lalu.

Sebelum memulai produksi massal pada 2015, Ewid yang memiliki latar belakang di dunia desain pakaian sering kali terbentur oleh sulitnya akses bahan baku kain berkualitas di daerahnya.

Pada masa itu, keterbatasan ekosistem digital memaksa dirinya harus melakukan perjalanan fisik ke pusat tekstil di pulau Jawa demi berburu bahan pakaian.

"Nah, waktu itu cari bahan kain untuk membuat baju di sini susah sekali. Apalagi dulu kan belum ada sistem belanja online seperti sekarang. Jadi, untuk mencari bahan kain saja saya harus pergi jauh ke Jakarta atau ke Bandung," kenang Ewid.

Produk Batik Basah dok: Abdul latif/kumparan

Dari sebuah solusi atas keterbatasan bahan baku logistik, Batik Beras Basah kini bertransformasi menjadi salah satu ikon pergerakan UMKM Kalimantan Timur yang sukses naik kelas.

Perusahaan kreatif ini juga telah memiliki manajemen produksi yang terbagi secara profesional.

"Kita produksi batik sendiri. Ada tim pembuat batiknya. Ada tim pembuat penjahitnya, seperti itu," tambah Ewid mengenai struktur tim kerjanya.

Untuk bahan kain dasar yang digunakan, Ewid menjelaskan bahwa mereka selalu berupaya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan para pelanggannya.

"Bahan dasarnya menggunakan katun. Kebanyakan memang katun biasa, tetapi ada juga yang menggunakan bahan sutra katun (cotton silk). Kami menyesuaikan saja dengan permintaan dan kebutuhan konsumen," tutupnya.

Di pasar domestik, produk fesyen eksklusif ini dipasarkan secara kompetitif dengan rentang harga mulai dari Rp 250 ribu ke atas untuk kategori kain bahan, serta mulai dari Rp 500 ribu ke atas untuk pakaian jadi siap pakai.