BEI Catat 4 Perusahaan Kecil-Besar Sudah Masuk Antrean IPO Tahun Ini

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada empat perusahaan yang sudah berada dalam antrean atau pipeline untuk melakukan IPO. Adapun perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor dengan skala aset kecil dan besar.
Berdasarkan data Pipeline BEI 2026, perusahaan yang akan IPO ialah 2 perusahaan dengan aset skala kecil atau di bawah Rp 50 miliar dan dua perusahaan dengan aset skala besar atau di atas Rp 250 miliar.
“Hingga saat ini, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” tulis keterangan BEI dikutip Minggu (19/7).
Sementara dari sisi sektor, 1 perusahaan berasal dari sektor basic materials, 1 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals dan 2 perusahaan dari sektor healthcare.
Per 17 Juli 2026, BEI mencatat sudah ada 7 perusahaan yang melakukan IPO tahun ini. Dari situ, total dana terhimpun sudah mencapai Rp 2,16 triliun.
Sementara untuk obligasi, dalam kurun sama sudah ada 11 emisi dari 9 penerbit EBUS yang sudah berada dalam pipeline tahun ini. Adapun 11 emisi tersebut terdiri dari 1 perusahaan sektor basic materials, 1 perusahaan sektor consumer non-cyclicals, 5 perusahaan sektor energy, 2 perusahaan sektor financials, dan 2 perusahaan sektor infrastructure.
Di lini obligasi, sepanjang 2026 telah diterbitkan 114 emisi dari 62 penerbit EBUS dengan dana yang dihimpun mencapai Rp 103,86 triliun.
Untuk lini pipeline right issue, BEI juga mencatat masih ada 1 perusahaan yang akan melakukan hal tersebut tahun ini. Perusahaan tersbeut berasal dari sektor properties & real estate. Adapun sampai 17 Juli 2026 sudah ada 15 perusahaan yang menerbitkan right issue dengan total Rp 10,69 triliun.
Sebelumnya, BEI menargetkan 1.100 perusahaan bisa tercatat atau melakukan IPO pada 2030. Meski kini terdapat ketidakpastian global, optimisme target tersebut tetap ditegaskan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik membuka kemungkinan untuk terus melakukan penyesuaian target tahunan seiring perkembangan situasi hingga 2030 nanti.
“Jadi, tentu untuk tahun 2030 ya kami tetap optimis lebih dari 1.100 perusahaan akan tercatat. Tetapi dari tahun ke tahun ya tentu akan kita sesuaikan dengan kondisi pasar di tahun tersebut,” ujarnya dalam diskusi bersama media di Kantor BEI, Jakarta pada Senin (13/7).
Ia mengakui tahun 2026 ini kondisi pasar memang kurang kondusif. Hal ini memiliki dampak langsung pada minat perusahaan untuk melakukan IPO.
“Ya, seperti kita ketahui, di tahun 2026 ini kan kondisi pasar kurang kondusif. Ya, banyak uncertainty yang timbul dari kondisi global saat ini. Jadi, tentu itu juga akan mengurangi minat dari perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan saham,” ujarnya.
