Kumparan Logo

Belarus Butuh 120 Ribu Ton Kakao dan 14 Ribu Ton CPO, RI Incar Peluang Ekspor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertemuan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sudah bertemu dengan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus, Yuri Gorglov membahas potensi ekspor CPO dan Kakao pada Selasa (30/6/2026). Foto: Dok. Humas Kementan
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sudah bertemu dengan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus, Yuri Gorglov membahas potensi ekspor CPO dan Kakao pada Selasa (30/6/2026). Foto: Dok. Humas Kementan

Indonesia membuka peluang ekspor beberapa komoditas pertanian utamanya kakao dan minyak sawit (CPO) ke Belarus. Untuk itu, Belarus juga sudah menyampaikan tonase kebutuhan masing-masing komoditas kepada Kementerian Pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah bertemu dengan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus, Yuri Gorglov terkait hal itu. Terkait kakao, kebutuhan untuk Belarus ada karena negara tersebut memiliki industri pengolahan cokelat yang memasok kebutuhan pasar domestik, Eropa Timur, hingga Rusia.

“Kami ingin memperluas pasar ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Belarus. Hubungan yang semakin erat antara kedua negara harus memberikan manfaat nyata melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Amran dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (1/7).

Kepada Amran, pihak Belarus telah menjelaskan kebutuhan kakao mereka mencapai 120 ribu ton per tahun. Untuk itu, mereka membuka peluang impor dari Indonesia dan bisa memperluas akses pasar bagi komoditas kakao nasional.

Pertemuan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sudah bertemu dengan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus, Yuri Gorglov membahas potensi ekspor CPO dan Kakao pada Selasa (30/6/2026). Foto: Dok. Humas Kementan

Sementara untuk CPO, Amran menjelaskan Belarus telah menyatakan kebutuhan mereka adalah 14 ribu ton. Untuk itu, Amran juga mendorong potensi Indonesia untuk mengekspor CPO ke sana.

“Kami juga mendorong ekspor CPO ke Belarus. Selama ini produk tersebut belum masuk ke pasar Belarus, padahal mereka telah menyampaikan kebutuhannya sekitar 14 ribu ton. Ini menjadi peluang yang harus segera kita tindak lanjuti agar perdagangan kedua negara semakin meningkat,” ujarnya.

Selain dua komoditas tersebut, Amran juga mendorong potensi ekspor kelapa, dan teh. Menurutnya, Belarus merupakan mitra potensial sekaligus pintu masuk bagi produk pertanian Indonesia ke kawasan Eropa Timur.

Pertemuan antara Amran dan pihak Belarus tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama teknologi pertanian, modernisasi sistem irigasi, serta investasi sektor pertanian.

Perkebunan kakao di kabupaten Pinrang Foto: Azalia Amadea/kumparan

Nantinya kerja sama atau kolaborasi itu akan difokuskan pada pengembangan mekanisasi pertanian, modernisasi sistem irigasi, pengelolaan sumber daya air, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian.

“Belarus memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Sementara Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kolaborasi ini harus mampu mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan kedua negara,” kata Amran.

Di samping itu, Indonesia dan Belarus juga telah membahas peluang peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Hal itu ditujukan untuk menghasilkan produk susu berkualitas dengan harga yang semakin kompetitif.

“Kami ingin setiap kerja sama yang dibangun memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas produk, harga yang lebih kompetitif, maupun terbukanya peluang ekonomi baru bagi kedua negara,” ujarnya.

instagram embed